0
News
    Home Tidak Ada Kategori

    Kisah Kekaguman Netizen pada Bjorka, Ada Apa? - CNN Indonesia

    4 min read

    Kisah Kekaguman Netizen pada Bjorka, Ada Apa?

    CNN Indonesia
    4-5 minutes
    Kamis, 15 Sep 2022 09:00 WIB

    Warganet sempat memberi dukungan besar pada Bjorka yang tengah 'mengacak-acak' lembaga pemerintah lewat penyebaran data pribadi warga. Kok bisa?

    Ilustrasi. Bjorka sempat menuai dukungan luas di media sosial. (Foto: iStockphoto/scyther5)

    Jakarta, CNN Indonesia --

    Sosok hacker Bjorka banyak meraih dukungan dari netizen sejak awal beraksi. Padahal, tindakannya adalah membocorkan data pribadi masyarakat yang berpotensi memicu banyak korban kejahatan penipuan. Warganet tak sadar apa?

    Ia awalnya muncul lewat kasus kebocoran data IndiHome, melanjutkan aksinya di skala yang lebih besar dengan membocorkan 1,3 miliar data registrasi SIM Card warga Indonesia.

    Di saat yang sama, Kementerian Komunikasi dan Informatika sibuk membantah dengan mengaku tak menyimpan data itu serta mengelak kasus kebocoran data bukan tugas mereka. Begitu pula operator seluler dan Dukcapil Kemendagri yang membantah jadi pintu masuk kebocoran.

    ADVERTISEMENT

    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

    Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan pun sempat meminta peretas untuk tidak menyerang dengan alasan itu perbuatan ilegal dan merugikan masyarakat.

    Bjorka mencibirnya dengan mengatakan "stop being an idiot". Netizen RI sepakat.

    Ia juga mengeluarkan data-data pribadi pejabat, mulai dari Menkominfo Johnny G Plate, Gubernur DKI Anies Baswedan, Menko Polhukam Mahfud MD, Menteri BUMN Erick Thohir, Wakil Ketua MPR Muhaimin Iskandar, hingga aktivis politik media sosial Denny Siregar dan Abu Janda.

    Hacker yang mengklaim berbasis di Polandia itu mengaku hendak membuat pejabat merasakan hal yang sama dengan warga biasa yang kerap jadi korban SMS spam alias penipuan. Warganet pun menyambut riuh.

    Pakar komunikasi digital dari Universitas Indonesia Firman Kurniawan menyebut dukungan warganet kepada Bjorka ini merupakan langkah yang "salah kaprah". Namun, itu tetap mengisyaratkan kekecewaan, kekesalan, serta permintaan tanggung jawab warganet terhadap pemerintah soal keamanan data.

    Pasalnya, pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab melindungi data malah memberikan pernyataan yang merisaukan dan malah serta saling lempar tanggung jawab.

    "Tindakan salah kaprah-dukungan warganet-ini bisa dimaknai sebagai ekspresi kekecewaan, kekesalan, permintaan tanggung jawab para warganet terhadap keamanan datanya, kepada pihak pihak yang dianggap bertanggung jawab," kata Firman kepada CNNIndonesia.com, Rabu (14/9).

    Menurutnya, komunikasi-komunikasi yang harus dilakukan pemerintah adalah yang mengutamakan soal tanggung jawab perlindungan data pribadi.

    Senada, Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Pratama Persadha menyebut pernyataan pemerintah yang seakan-akan menyalahkan memang jadi salah satu faktor yang membuat warganet mendukung Bjorka.

    Terlebih, ada momentum sentimen negatif kepada pemerintah dan pejabat yang tengah tumbuh di masyarakat imbas kenaikan harga BBM.

    "Banyak publik merasa senang dengan kehadiran Hacker Bjorka mungkin karena efek kenaikan BBM sehingga sentimen kepada pejabat dan pemerintah cenderung negatif," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (13/9).

    "Belum lagi beberapa pernyataan seperti Menkominfo yang terkesan menyalahkan masyarakat untuk kejadian kebocoran data registrasi SIM card," lanjut dia.

    Stockholm syndrome di halaman berikutnya....

    Mungkinkah Stockholm Syndrome?

    BACA HALAMAN BERIKUTNYA 


    Warganet sempat memberi dukungan besar pada Bjorka yang tengah 'mengacak-acak' lembaga pemerintah lewat penyebaran data pribadi warga. Kok bisa?

    Menkominfo Johnny G Plate menyatakan 'bukan tugas Kominfo' dan 'jangan tanya ke saya' saat ditagih soal kasus kebocoran data. (Foto: CNN Indonesia/Loamy N)

    Terlepas dari fenomena jatuh cinta netizen pada Bjorka, Firman tak sepakat dukungan warganet kepada Bjorka merupakan bentuk stockholm syndrome.

    Dilansir dari kamus Oxford, stockholm syndrome berarti perasaan percaya atau kasih sayang yang dirasakan dalam oleh korban kasus penculikan atau penyanderaan terhadap penculiknya.

    "Terminologi Stockholm syndrome tidak tepat di sini. Pembocoraan data tidak dapat disejajarkan dengan penyanderaan data misalnya," kata dia.

    ADVERTISEMENT

    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

    Selain itu, lanjutnya, tidak terlihat indikasi adanya "relasi lebih antara penculik dengan yang diculik pada kasus pembocoran data ini".

    "Bahwa mungkn muncul simpati pada pelaku kejahatan sebab adanya rasa kecewa terhadap penanganan kebocoran data yang tidak optimal oleh para pemangku tanggung jawab, tidak mutlak dapat disejajarkan sebagai simpati pada pelaku kejahatan," imbuh Firman.

    Dukungan warganet terhadap Bjorka disebut Firman sebagai sesuatu yang salah kaprah. Pasalnya, sebagian data yang diretas Bjorka adalah milik warganet, sehingga kemungkinan peretasan dapat merugikan keamanan dan keselamatan mereka.

    Pratama menambahkan data-data yang bocor ini akan membuat profiling seseorang lebih mudah dilakukan oleh siapa pun.

    Hal ini dapat terjadi jika semua data yang didapat secara gratis atau dijual di situs-situs gelap disilangkan dan digabungkan dengan data dari kebocoran data lain, sehingga menjadi informasi yang sangat lengkap untuk digunakan kriminal sebagai data dasar untuk melakukan kejahatan.

    "Di tangan orang yang paham akan kegunaan dari tiap data yang didapatkan akan menimbulkan kerugian yang besar. contohnya seperti digunakan untuk skema phising (pengelabuan untuk mendapatkan data pribadi seperti rekening), pemerasan, penipuan, bahkan doxing (pengungkapan dokumen pribadi ke publik)," jelasnya.

    Senada, pengamat teknologi informasi dan media sosial Kun Arief Cahyantoro mengatakan data masyarakat yang bocor itu berpotensi menjadi alat doxing.

    "Yang muncul adalah 'keramaian' bahkan keramaian tersebut cenderung bersifat kejahatan yaitu 'bencana masif doxing'," kata dia, Selasa (13/9).

    (lom/arh)


    Komentar
    Additional JS