0
News
    Home Berita Featured Mobil Listrik Spesial

    Subsidi Dicabut, Pasar Mobil Listrik China Tiba-tiba Ambruk - Beritasatu

    4 min read

     

    Subsidi Dicabut, Pasar Mobil Listrik China Tiba-tiba Ambruk


    Penjualan kendaraan listrik di Tiongkok anjlok 20% pada kuartal I 2026 akibat penghentian subsidi pemerintah, memicu krisis kapasitas produksi bagi para produsen. (Carexpert/DOK)

    Jakarta, Beritasatu.com -  Kenaikan pesat kendaraan listrik (EV) asal Tiongkok memang sempat mendominasi berita dunia dalam beberapa tahun terakhir, namun kini retakan mulai muncul di pasar domestik mereka. Sepanjang kuartal I  tahun ini, registrasi mobil listrik baru turun hampir 20 persen. Hal ini membuat banyak produsen menghadapi risiko kapasitas produksi yang menganggur karena mobil tidak laku sebanyak dahulu.

    ADVERTISEMENT

    Data penjualan menunjukkan bahwa registrasi EV di Tiongkok turun menjadi 1,2 juta unit pada kuartal I. Penyebab utamanya adalah berakhirnya masa berlaku potongan pajak untuk pembelian unit baru. Segmen mobil entry-level (murah) menjadi yang paling terpukul, karena sebelumnya subsidi pemerintah bisa menutupi hingga sepertiga dari harga beli mobil tersebut.

    Disebut BYD, Jumat (24/10/2026), raksasa otomotif BYD merasakan dampak yang cukup menyakitkan dengan penurunan penjualan domestik hampir 40 persen. Sebagai respons, BYD menggenjot ekspor hingga lebih dari 300.000 kendaraan di kuartal I, naik 100.000 unit dibanding periode yang sama tahun lalu. Meski ekspor naik, angka tersebut belum cukup menutupi kerugian besar di pasar lokal mereka sendiri.

    Kondisi ini tidak hanya memusingkan merek lokal. Merek-merek Jerman seperti Volkswagen, BMW, dan Mercedes-Benz juga babak belur. Pangsa pasar mereka di sektor EV Tiongkok merosot ke angka terendah dalam sejarah, yakni hanya 1,6 persen. Penjualan Volkswagen bahkan anjlok drastis lebih dari 72 persen dibandingkan tahun lalu.

    ADVERTISEMENT

    Untuk bertahan, merek Jerman kini mulai "merapat" ke perusahaan Tiongkok. Audi bekerja sama dengan SAIC, sementara Volkswagen menggandeng Xpeng untuk memproduksi mobil secara lokal. Strategi ini diklaim bisa memangkas biaya produksi hingga 40 persen. Meski berbagai upaya dilakukan, para analis memperkirakan pemulihan pasar dalam waktu dekat hampir mustahil terjadi

    Industri kendaraan listrik Tiongkok yang selama ini dikenal sebagai "naga" baru dunia otomotif kini tengah menghadapi kenyataan pahit. Setelah bertahun-tahun mencatat pertumbuhan yang fantastis, pasar domestik Tiongkok mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan dan kerapuhan. 

    “Laporan terbaru menunjukkan adanya penurunan registrasi kendaraan listrik baru sebesar 20 persen pada awal tahun 2026, sebuah angka yang cukup mengejutkan bagi para pengamat industri,” tulis Carscoops.

    Penyebab utama dari lesunya pasar ini bukanlah penurunan minat teknologi, melainkan faktor ekonomi makro, yaitu penghentian subsidi pemerintah. Selama satu dekade terakhir, pemerintah Tiongkok sangat royal memberikan potongan pajak dan subsidi langsung. Ketika bantuan ini dicabut, harga mobil listrik tiba-tiba melonjak bagi konsumen, terutama di kelas ekonomi menengah ke bawah yang selama ini menjadi penggerak utama volume penjualan.

    Dampaknya sangat terasa bagi BYD, sang pemimpin pasar. Penurunan penjualan domestik hingga 40 persen membuat perusahaan harus memutar otak agar pabrik-pabrik besar mereka tidak berhenti beroperasi. Jika produksi terus berjalan tanpa ada pembeli di dalam negeri, BYD akan menghadapi masalah idle capacity atau kapasitas menganggur yang bisa membebani keuangan perusahaan dalam jangka panjang.

    Strategi yang diambil BYD adalah melakukan ekspansi agresif ke pasar internasional. Dengan mengirimkan ratusan ribu unit ke luar negeri, mereka berharap bisa menyeimbangkan neraca keuangan. Namun, tantangan global pun tidak mudah, mengingat adanya hambatan tarif di beberapa negara. Fakta pahitnya adalah keuntungan dari ekspor saat ini masih belum mampu menutup lubang besar yang ditinggalkan oleh konsumen domestik Tiongkok.

    Kondisi yang lebih suram justru dialami oleh pabrikan otomotif asal Jerman. Merek mewah seperti BMW, Mercedes-Benz, dan raksasa otomotif Volkswagen kini berada di titik terendah mereka dalam sejarah persaingan di Tiongkok. Dengan pangsa pasar gabungan yang hanya tersisa 1,6 persen di segmen mobil listrik, mereka seolah kehilangan taji di hadapan konsumen lokal yang semakin selektif.

    Menariknya, para produsen Jerman ini tidak memilih untuk angkat kaki, melainkan memilih strategi "berteman dengan musuh". Mereka mulai menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi Tiongkok untuk memproduksi mobil yang lebih murah. Dengan mengembangkan komponen secara lokal melalui kerja sama tersebut, biaya produksi dapat ditekan hingga 40 persen, sebuah langkah krusial agar harga jual mereka bisa bersaing kembali di pasar yang sedang lesu.

    Di sisi lain, Mercedes-Benz dan BMW mencoba strategi yang sedikit berbeda dengan tetap mempertahankan eksklusivitas merek mereka namun memberikan sentuhan lokal, seperti model dengan wheelbase yang lebih panjang khusus untuk pasar Tiongkok. Mereka berharap loyalitas konsumen terhadap merek mewah bisa menjadi penyelamat di tengah badai penurunan penjualan yang melanda hampir seluruh pemain industri.

    Melihat situasi yang ada, optimisme untuk pemulihan cepat nampaknya masih jauh dari jangkauan. Banyak analis keuangan memprediksi bahwa pasar kendaraan listrik Tiongkok sedang memasuki fase normalisasi yang menyakitkan. Tanpa adanya kebijakan baru dari pemerintah untuk merangsang daya beli, tahun 2026 kemungkinan besar akan menjadi tahun yang penuh perjuangan bagi siapa pun yang bermain di industri kendaraan listrik Tiongkok.

    Komentar
    Additional JS