0
News
    Ingin Cepat Kaya? Kerja, Jangan Judi - Kumpulan Informasi Teknologi Hari ini, Setiap Hari Pukul 16.00 WIB
    Home Featured

    Indonesia Kekurangan Startup Bioteknologi - Viva

    2 min read

     

    Indonesia Kekurangan Startup Bioteknologi

    Oleh :
    Ilustrasi laboratorium.

    Ilustrasi laboratorium.

    VIVA – Dalam hal teknologi, Indonesia tidak kalah dari negara maju lainnya. Terbukti, banyak perangkat canggih yang sudah bisa diproduksi secara lokal, mulai dari ponsel hingga mobil.

    Demikian pula dengan jenis teknologi lainnya, termasuk bioteknologi yang berupa pemanfaatan makhluk hidup seperti mikroorganisme dan tumbuhan atau produk yang mereka hasilkan, untuk memberikan keuntungan bagi manusia.

    Sayangnya, belum banyak konsumen Indonesia yang sadar akan potensi produk bioteknologi sehingga permintaan di dalam negeri masih sangat rendah. Hal itu diungkapkan oleh Mario D Bani dari Fakultas Bioteknologi Indonesia International Institute for Life Sciences.

    Startup bioteknologi pun masih belum banyak dikembangkan di Indonesia, sehingga justru Singapura yang selalu mendapatkan tempat pertama sebagai lokasi pengembangan bioteknologi di Asia Tenggara,” ujarnya melalui keterangan resmi, dikutip VIVA Tekno Sabtu 30 Oktober 2021.

    Bioteknologi
    Photo :

    Bioteknologi

    Mario menjelaskan, bioteknologi menjadi solusi permasalahan lingkungan, yang terjadi saat ini dan berpotensi menjadi besar untuk kehidupan generasi mendatang.

    Sebagai contoh, pada 2016 ilmuwan dari Jepang mempublikasikan penemuan bakteri Ideonella sakaiensis yang didapatkan dari lokasi pengolahan sampah plastik di Osaka. Bakteri ini telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang banyak ditemukan materi plastik.

    I sakaiensis mampu mengurai  polyethylene terephthalate atau PET, salah satu unit kimia yang digunakan dalam memproduksi botol plastik. Bayangkan jika kita dapat memanfaatkan kemampuan bakteri ini untuk menguraikan sampah plastik, yang semakin menjadi permasalahan besar saat ini,” tuturnya.

    Contoh lainnya dari penerapan bioteknologi, kata Mario yakni memanfaatkan tumbuhan untuk mengambil mineral tertentu, seperti kobalt, nikel, dan besi dari perut bumi tanpa perlu membuat lubang besar menganga di tanah. Hal ini sudah mulai diteliti secara lebih mendalam oleh ilmuwan di Australia.

    “Bayangkan, jika ada tumbuhan atau mikroorganisme asli Indonesia yang mampu mengekstraksi emas, tembaga, atau nikel dari dalam tanah tanpa perlu membuka lokasi tambang baru,” ungkapnya.

    Berita Terkait :
    Komentar
    Additional JS