Bos Google Rusia Sedih Dipaksa Putin Jual Perusahaan
Selasa, 03/01/2023 09:55 WIB
Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu pendiri raksasa internet Rusia Yandex, Arkady Volozh, mengucapkan selamat tinggal dalam pesan internal kepada staf, Jumat (30/12/2022). Pesan tersebut ia ungkap menjelang restrukturisasi perusahaan yang membuat kepemilikan layanan inti perusahaan berpindah tangan.
Volozh mengundurkan diri sebagai CEO dan meninggalkan dewan direksi setelah Uni Eropa memasukkannya ke dalam daftar sanksi terhadap entitas dan individu Rusia pada bulan Juni. Volozh menyebut keputusan UE "salah arah".
Yandex, yang sering disebut sebagai "Google-nya Rusia", berusaha menemukan keseimbangan antara investor Barat di satu sisi dan Kremlin di sisi lain. Mereka menjual news feed dan berandanya ke VK, saingan yang dikendalikan Putin tahun ini, sebagian untuk mencoba dan mendepolitisasi bisnisnya.
"Seperti yang Anda ketahui, saya belum benar-benar terlibat dalam bisnis Rusia Yandex selama beberapa waktu, tetapi tahun ini saya harus mundur sepenuhnya dari perusahaan," kata Volozh dalam pesan yang dilihat oleh Reuters, dikutip Selasa (3/1/2022).
"Dengan semua yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, saya menyadari bahwa saya tidak pernah mengucapkan selamat tinggal. Tahun baru adalah kesempatan yang tepat untuk memperbaikinya," imbuhnya.
"Yandex adalah proyek seumur hidup bagi saya, dan bukan hanya untuk saya," katanya. "Terima kasih kepada semua orang yang membantu membangun perusahaan teknologi terbaik di negeri ini."
Perusahaan induk Yandex yang terdaftar di Belanda bulan lalu mengatakan berencana untuk melepaskan kepemilikan dan kendali atas sebagian besar Grup Yandex, termasuk bisnis penghasil pendapatan utamanya. Ini menjadi sebuah langkah yang dapat meningkatkan pengaruh Kremlin atas beberapa layanan internet tulang punggung Rusia.
Alexei Kudrin, sekutu lama Presiden Rusia Vladimir Putin, telah bergabung dengan perusahaan sebagai penasihat pengembangan perusahaan.
Divisi internasional dari teknologi self-driving Yandex komputasi awan, pelabelan data, dan edtech kemudian akan dikembangkan secara independen dari Rusia.
"Harapan saya untuk dapat memberi nasihat kepada empat perusahaan rintisan internasional, yang mungkin di masa depan berkembang secara independen dari Yandex," kata Volozh.
"Semoga tahun depan membawa kedamaian bagi semua orang."
(tib)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar