Opsitek

Opsi Teknologi Masa Depan

LinkList Nav
  • 📰 Berita
  • _Cek Fakta
  • _Mitos atau Fakta
  • _Bisnis
  • _Dunia Internasional
  • _Kesehatan
  • __Kesehatan Mental
  • Gadget
  • _📱Smartphone
  • __Android
  • __iphone
  • 🖥️Komputer
  • _Software
  • Aplikasi
  • Sistem Operasi
  • _Windows
  • _Android
  • 🌐 Internet
  • _Media Sosial
  • _E-commerce
  • _Keuangan Digital
  • _Keamanan Digital
  • __Peretasan (Hack)
  • _Kejahatan DIgital
  • IPTEK
  • _Teknologi Masa Depan
  • Spesial
  • _Inovasi
  • _Juara
  • Esports
0
Theme
Light Dark System
Labels Header
  • All
  • Internet
  • Smartphone
  • Spesial
  • Tips & Tricks
  • Kecerdasan Buatan
  • Gadget
  • AI
  • Berita
  • Komputer
  • Aplikasi
  • Game
  • Keamanan Digital
  • IPTEK
  • Inovasi
  • Juara
  • eCommerce
News
    Home Featured Mobil Listrik Pilihan

    Mitos Mobil Listrik Tak Bisa Terobos Genangan Air Terjawab Sudah - Garudanews24

    By - Gudang Informasi • 8/19/2023 01:15:00 PM
    6 min read

     

    Mitos Mobil Listrik Tak Bisa Terobos Genangan Air Terjawab Sudah

    Uji Ketahanan Kendaraan Listrik di GIIAS 2023, Ada Wahana Basah-basahan

    – Mitos mobil listrik tak bisa terabas air terjawab sudah. Beberapa produsen otomotif yang memasarkan mobil listriknya di Indonesia di ajang GIIAS 2023 memamerkan kebolehannya menerobos obstacle kolam air yang disediakan.

    Menariknya mobil listrik dibawah Rp200 juta besutan pabrikan Tiongkok Air EV dan Ceres E1 dengan dimensi yang mirip mampu menerobos obstacle genangan air setinggi kurang lebih 25 cm.

    Dipastikan keduanya sudah mengantongi sertifikasi IP67 untuk baterainya, jadi tanpa masalah saat melewati genangan air.

    Meskipun semua mobil listrik telah mengantongi IP67, akan tetapi yang terpenting sebagai pengguna harus bijak saat dalam memutuskan, seberapa dalam genangan yang akan dilewati.

    Karena meskipun baterai sudah dilindungi namun bila air terlalu tinggi akan mengganggu part yang lain atau masuk dalam kabin.

    Seperti diketahui Seres E1 yang resmi diluncurkan pada ajang GIIAS 2023, dan hadir dengan dua varian yakni B-Type dan L-Type.

    Pesaing dari Wuling Air EV ini dibekali dengan motor elektrik 33 hp yang mampu menggelontorkan torsi puncak 100 Nm dengan penggerak roda belakang.

    Baca Juga : Lima Merek Jepang Masih Mendominasi Penjualan di Paruh Tahun 2023

    Bisa dikatakan kalau Seres E1 B Type yang kami coba tergolong cukup instan terkait tenaga awal yang diberikan. Wajar hampir semua mobil listrik tenaga awalnya memang dahsyat. Namun berhubung dimensinya sangat mungil maka ada penyesuaian.

    Transmisi yang ditawarkan sangat ideal, saat di obstacle tanjakan kurang lebih 8 derajat berpindah ke mode sport tenaga lebih agresif. Radius putar sudah pasti mudah untuk berputar di area yang tak terlalu besar.

    Saat melintasi ke jalan yang tidak rata atau melewati beberapa gundukan, suspensi dibenamkan memang terasa keras, namun masih bisa ditoleransi. Seres E1 mempunyai handling yang cukup baik.

    Sayangnya area Test Drive sangat pendek, memang perlu dicoba dalam jarak yang panjang untuk merasakan fitur dan rasa berkendara yang sebenarnya. Tapi kembali lagi di tujuan awal, hanya mencoba mobil listrik melintas di genangan air.

    Sebagai informasi mobil tersebut dibekali dengan bermacam fitur menarik, seperti fitur Collision Power Failure Protection, Battery System Thermal Management, Charging Port Cover Reminder, dan High Voltage Safety Monitoring, dan dijual mulai dari Rp180-200 jutaan.

    Harga yang ditawarkan tak beda jauh dengan Wuling Air ev Lite, namun kembali ke konsumen dalam menentukan pilihan. Ada beberapa pertimbangan mulai dari fitur hingga desain yang diberikan.

    Beranda Berita

    MPR RI Akan Kaji soal Utusan Golongan Dalam Pemerintahan di UUD 1945

    MPR RI Akan Kaji soal Utusan Golongan Dalam Pemerintahan di UUD 1945

    Jakarta –

    Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) berbicara terkait demokrasi di Indonesia, yakni kedaulatan berada di tangan rakyat. Ia menyinggung amanat UUD 1945 yang menyatakan pemerintahan Indonesia dijalankan oleh wakil rakyat hingga wakil golongan.

    “Berdasarkan konstitusi, Indonesia adalah negara hukum yang menganut prinsip demokrasi, di mana kedaulatan berada di tangan rakyat dan melaksanakan menurut UUD 1945,” kata Bamsoet dalam sambutannya di acara peringatan Hari Konstitusi di gedung MPR, Jakarta, Jumat (18/8/2023).

    Pemerintah Indonesia dijalankan oleh wakil rakyat, wakil daerah, dan perwakilan golongan. Bamsoet menyebutkan perwakilan golongan belum terealisasi dengan baik dalam penerapannya.

    “Dari hal ini, jelas pemerintahan Indonesia semestinya dijalankan oleh wakil-wakil rakyat, wakil-wakil daerah, wakil-wakil golongan yang merupakan perwujudan dari kedaulatan rakyat yang dipilih oleh rakyat,” ujar Bamsoet.

    “Ini kita kehilangan satu, yaitu utusan golongan, inilah yang juga sedang kita dalami dan kaji kembali di MPR untuk dapat kita hadirkan utusan golongan,” sambungnya.

    Untuk itu, Bamsoet ingin pemerintah dapat mengakomodasi dan melibatkan lembaga profesi di dalamnya. Bamsoet ingin mengkaji supaya utusan golongan ini bisa menyampaikan aspirasi.

    “Agar organisasi-organisasi keagamaan, agar wartawan, dokter dan profesi-profesi lain dan kelompok-kelompok lain masuk dalam konstitusi kita dan mampu bisa menyalurkan berbagai aspirasinya,” imbuhnya.

    (dwr/maa)

    0
    Tags: Featured Mobil Listrik Pilihan
    Komentar
    Please Scroll down page first to show Comment Box
    Postingan Lebih Baru
    Postingan Lama
    Terkini
    Spesial
    Opsi Lain
    powered by Surfing Waves
    Populer
    Wi-Fi Rumah Kini Bisa Dibawa Mudik ke Kampung Halaman, Begini Caranya - Cnn6
    Wi-Fi Rumah Kini Bisa Dibawa Mudik ke Kampung Halaman, Begini Caranya - Cnn6
    Featured Internet Mudik Spesial Tips & Tricks Wi-Fi 3/09/2026 09:40:00 PM
    Nubia Neo 5 GT Resmi Debut, Ponsel Gaming dengan Kipas Aktif di Harga Terjangkau - Viva
    Nubia Neo 5 GT Resmi Debut, Ponsel Gaming dengan Kipas Aktif di Harga Terjangkau - Viva
    Berita Featured Gadget Nubia Neo 5 GT Smartphone Spesial 3/04/2026 05:15:00 PM
    Bukan Cuma Adu Rudal, Hacker dan AI Jadi Malaikat Maut di Perang AS-Israel vs Iran logo-apps-sindo  Makin mudah baca berita nasional dan internasional.  Kanal  MNC Portal  Live TV  Radio Live  MNC Networks  Danang Arradian  Jum'at, 06 Maret 2026 - 11:05 WIB  Bukan Cuma Adu Rudal,...  Seorang operator militer Israel tengah menjalankan misi pengintaian siber, sebuah taktik modern yang kini menjadi bahan bakar utama dalam melumpuhkan sistem pertahanan dan ekonomi rezim Iran di 2026. Foto: ist  IRAN - Di mata awam, perang selalu identik dengan rentetan rudal yang membelah langit dan dentuman bom yang meluluhlantakkan bangunan.  Namun, dalam perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran di awal 2026 ini, rudal hanyalah alat eksekusi akhir. Senjata sesungguhnya yang menentukan hidup matinya sebuah rezim kini berada di balik ketukan papan ketik komputer.  Operasi siber tak lagi sekadar bumbu pelengkap atau strategi pinggiran dalam konflik modern.  Operasi ini telah bergeser menjadi pusat strategi yang membentuk setiap keputusan militer dalam peperangan AS-Israel melawan Iran—operasi yang dinamai sandi Roaring Lion oleh Israel dan Epic Fury oleh AS.  Shay Nahum, CEO CYGHT sekaligus penerima Penghargaan Pertahanan Israel (Israel Defense Prize), menegaskan bahwa perang siber kini bukan lagi sekadar domain perang yang berjalan paralel, melainkan lapisan inti yang sangat krusial dalam membentuk intelijen, operasi, dan bahkan kampanye pengaruh psikologis.  Dalam wawancaranya dengan Defense & Tech dari The Jerusalem Post, Nahum membongkar sebuah fakta yang selama ini dibangun secara diam-diam: kemampuan siber memengaruhi "setiap keputusan dan setiap rudal yang kita tembakkan".  Perang 2026: Siber Sebagai "Bahan Bakar" Militer Bukan Cuma Adu Rudal, Hacker dan AI Jadi Malaikat Maut di Perang AS-Israel vs Iran  Melihat tren peperangan global di tahun 2026, fungsi intelijen, sinyal intelijen (SIGINT), penentuan target sasaran, hingga perencanaan operasi militer semuanya sangat bergantung pada informasi yang disadap dari dunia siber.  "Siber adalah bahan bakar untuk setiap korps—udara, darat, dan laut," ungkap Nahum. Secara logika sederhana, sistem siberlah yang menyuplai data akurat secara seketika (real-time) untuk menuntun platform fisik militer seperti jet tempur dan kapal perang tepat ke titik sasarannya.  Jika pada konflik bulan Juni sebelumnya operasi yang bersandi Rising Lion hanya berfokus pada upaya menghentikan program nuklir dan rudal Iran, target operasi Roaring Lion atau Epic Fury saat ini telah meluas secara ekstrem.  Sasarannya kini adalah menghancurkan stabilitas Republik Islam Iran itu sendiri. "Tidak ada yang kebal," ujar Nahum. "Tujuannya lebih luas sekarang, yaitu untuk menghancurkan rezim".  Perang Psikologis Lewat Layar Ponsel Bagaimana cara menghancurkan sebuah pemerintahan tanpa harus meratakan seluruh negerinya? Jawabannya ada pada manipulasi psikologis rakyatnya.  Nahum mencontohkan dua insiden siber yang baru-baru ini menyebar luas: beredarnya rekaman audio yang diduga berisi suara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang berbicara langsung kepada rakyat Iran, serta munculnya notifikasi (push notification) melalui aplikasi populer di Iran yang memberitahu warga sipil bahwa bantuan sedang dalam perjalanan.  Insiden ini membuktikan bahwa operasi siber telah menjadi alat utama untuk menggulingkan rezim.  Israel dan AS kini memandang bahwa kampanye semacam ini sangat esensial untuk mempercepat lahirnya tekanan internal dari dalam negara Iran itu sendiri. Logikanya, membuat rakyat berontak akan jauh lebih efektif daripada menjatuhkan ribuan bom.  "Rezim tidak akan jatuh dengan sendirinya, atau bahkan hanya karena tembakan senjata," jelas Nahum. "Namun jika rakyat Iran bertindak, rezim itu akan jatuh lebih cepat".  Meskipun Iran pernah mencoba melakukan operasi serupa untuk memicu perpecahan di dalam wilayah Israel, Nahum menilai skala dan kecanggihan operasi siber Israel-AS saat ini sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya.  Jejak Infiltrasi: dari Tahun 2010 hingga Menembus Urat Nadi Ekonomi Akar dari konfrontasi digital mematikan ini sebenarnya sudah tertanam sejak tahun 2010. Saat itu, virus komputer canggih bernama Stuxnet, yang secara luas diyakini sebagai buatan Israel dan AS, berhasil menyusup dan merusak mesin sentrifugal nuklir milik Iran.  "Rezim seharusnya sudah paham sejak saat itu bahwa Israel dan AS telah berhasil menembus program nuklir mereka," kata Nahum. Bahkan sejak belasan tahun lalu, sistem mereka sudah berhasil dikompromikan.  Bukti kelemahan ini semakin nyata pada bulan Juni lalu, ketika terjadi peretasan besar-besaran terhadap bursa pertukaran bitcoin di Iran serta peretasan perbankan yang terafiliasi dengan Garda Revolusi Islam (IRGC).  Peristiwa ini menjadi contoh betapa menyeluruhnya dinas intelijen asing menyusup ke dalam jaringan Iran.  "Lima belas tahun kemudian, akses Barat jauh lebih dalam," tegasnya. Insiden peretasan ini membuktikan secara gamblang bahwa militer Barat sudah bersarang di dalam infrastruktur Iran, bahkan "di dalam keputusan-keputusan kritis mereka".  Isolasi 4 Persen dan Target Masa Depan Menyadari negaranya diacak-acak lewat internet, pemerintah Iran mengambil langkah putus asa dengan membatasi akses internet secara sangat ketat selama perang berlangsung.  Mereka berusaha membendung pesan propaganda dari Israel dan AS serta mencegah sentimen anti-rezim menyebar luas. Akibat dari pemblokiran ini, Nahum memperkirakan hanya sekitar 4 persen penduduk Iran yang masih memiliki konektivitas internet di puncak peperangan.  Namun, mematikan internet publik tidak serta-merta menyelamatkan Iran. Jaringan internal tertutup (intranet) mereka yang menjadi urat nadi perbankan, layanan pemerintah, dan sistem industri masih harus terus beroperasi. Jaringan inilah yang diyakini Nahum akan menjadi target utama operasi siber di masa depan selama perang ini berlangsung.  "Kita mungkin akan melihat pihak Israel dan Amerika terus menyusupi infrastruktur terkait Iran seperti sistem keuangan, telekomunikasi, dan manufaktur," ramalnya.  Sistem-sistem vital itulah yang menjaga rezim Iran tetap berfungsi. Jika sistem tersebut berhasil dilumpuhkan, kelumpuhan negara secara total hanyalah menunggu waktu.  (dan)  wa-channel  Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari  Follow  Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!  Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya  Infografis  13 Rudal dan Drone Iran... 13 Rudal dan Drone Iran yang Bisa Hancurkan Pangkalan AS - SINDOnews
    Bukan Cuma Adu Rudal, Hacker dan AI Jadi Malaikat Maut di Perang AS-Israel vs Iran logo-apps-sindo Makin mudah baca berita nasional dan internasional. Kanal MNC Portal Live TV Radio Live MNC Networks Danang Arradian Jum'at, 06 Maret 2026 - 11:05 WIB Bukan Cuma Adu Rudal,... Seorang operator militer Israel tengah menjalankan misi pengintaian siber, sebuah taktik modern yang kini menjadi bahan bakar utama dalam melumpuhkan sistem pertahanan dan ekonomi rezim Iran di 2026. Foto: ist IRAN - Di mata awam, perang selalu identik dengan rentetan rudal yang membelah langit dan dentuman bom yang meluluhlantakkan bangunan. Namun, dalam perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran di awal 2026 ini, rudal hanyalah alat eksekusi akhir. Senjata sesungguhnya yang menentukan hidup matinya sebuah rezim kini berada di balik ketukan papan ketik komputer. Operasi siber tak lagi sekadar bumbu pelengkap atau strategi pinggiran dalam konflik modern. Operasi ini telah bergeser menjadi pusat strategi yang membentuk setiap keputusan militer dalam peperangan AS-Israel melawan Iran—operasi yang dinamai sandi Roaring Lion oleh Israel dan Epic Fury oleh AS. Shay Nahum, CEO CYGHT sekaligus penerima Penghargaan Pertahanan Israel (Israel Defense Prize), menegaskan bahwa perang siber kini bukan lagi sekadar domain perang yang berjalan paralel, melainkan lapisan inti yang sangat krusial dalam membentuk intelijen, operasi, dan bahkan kampanye pengaruh psikologis. Dalam wawancaranya dengan Defense & Tech dari The Jerusalem Post, Nahum membongkar sebuah fakta yang selama ini dibangun secara diam-diam: kemampuan siber memengaruhi "setiap keputusan dan setiap rudal yang kita tembakkan". Perang 2026: Siber Sebagai "Bahan Bakar" Militer Bukan Cuma Adu Rudal, Hacker dan AI Jadi Malaikat Maut di Perang AS-Israel vs Iran Melihat tren peperangan global di tahun 2026, fungsi intelijen, sinyal intelijen (SIGINT), penentuan target sasaran, hingga perencanaan operasi militer semuanya sangat bergantung pada informasi yang disadap dari dunia siber. "Siber adalah bahan bakar untuk setiap korps—udara, darat, dan laut," ungkap Nahum. Secara logika sederhana, sistem siberlah yang menyuplai data akurat secara seketika (real-time) untuk menuntun platform fisik militer seperti jet tempur dan kapal perang tepat ke titik sasarannya. Jika pada konflik bulan Juni sebelumnya operasi yang bersandi Rising Lion hanya berfokus pada upaya menghentikan program nuklir dan rudal Iran, target operasi Roaring Lion atau Epic Fury saat ini telah meluas secara ekstrem. Sasarannya kini adalah menghancurkan stabilitas Republik Islam Iran itu sendiri. "Tidak ada yang kebal," ujar Nahum. "Tujuannya lebih luas sekarang, yaitu untuk menghancurkan rezim". Perang Psikologis Lewat Layar Ponsel Bagaimana cara menghancurkan sebuah pemerintahan tanpa harus meratakan seluruh negerinya? Jawabannya ada pada manipulasi psikologis rakyatnya. Nahum mencontohkan dua insiden siber yang baru-baru ini menyebar luas: beredarnya rekaman audio yang diduga berisi suara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang berbicara langsung kepada rakyat Iran, serta munculnya notifikasi (push notification) melalui aplikasi populer di Iran yang memberitahu warga sipil bahwa bantuan sedang dalam perjalanan. Insiden ini membuktikan bahwa operasi siber telah menjadi alat utama untuk menggulingkan rezim. Israel dan AS kini memandang bahwa kampanye semacam ini sangat esensial untuk mempercepat lahirnya tekanan internal dari dalam negara Iran itu sendiri. Logikanya, membuat rakyat berontak akan jauh lebih efektif daripada menjatuhkan ribuan bom. "Rezim tidak akan jatuh dengan sendirinya, atau bahkan hanya karena tembakan senjata," jelas Nahum. "Namun jika rakyat Iran bertindak, rezim itu akan jatuh lebih cepat". Meskipun Iran pernah mencoba melakukan operasi serupa untuk memicu perpecahan di dalam wilayah Israel, Nahum menilai skala dan kecanggihan operasi siber Israel-AS saat ini sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya. Jejak Infiltrasi: dari Tahun 2010 hingga Menembus Urat Nadi Ekonomi Akar dari konfrontasi digital mematikan ini sebenarnya sudah tertanam sejak tahun 2010. Saat itu, virus komputer canggih bernama Stuxnet, yang secara luas diyakini sebagai buatan Israel dan AS, berhasil menyusup dan merusak mesin sentrifugal nuklir milik Iran. "Rezim seharusnya sudah paham sejak saat itu bahwa Israel dan AS telah berhasil menembus program nuklir mereka," kata Nahum. Bahkan sejak belasan tahun lalu, sistem mereka sudah berhasil dikompromikan. Bukti kelemahan ini semakin nyata pada bulan Juni lalu, ketika terjadi peretasan besar-besaran terhadap bursa pertukaran bitcoin di Iran serta peretasan perbankan yang terafiliasi dengan Garda Revolusi Islam (IRGC). Peristiwa ini menjadi contoh betapa menyeluruhnya dinas intelijen asing menyusup ke dalam jaringan Iran. "Lima belas tahun kemudian, akses Barat jauh lebih dalam," tegasnya. Insiden peretasan ini membuktikan secara gamblang bahwa militer Barat sudah bersarang di dalam infrastruktur Iran, bahkan "di dalam keputusan-keputusan kritis mereka". Isolasi 4 Persen dan Target Masa Depan Menyadari negaranya diacak-acak lewat internet, pemerintah Iran mengambil langkah putus asa dengan membatasi akses internet secara sangat ketat selama perang berlangsung. Mereka berusaha membendung pesan propaganda dari Israel dan AS serta mencegah sentimen anti-rezim menyebar luas. Akibat dari pemblokiran ini, Nahum memperkirakan hanya sekitar 4 persen penduduk Iran yang masih memiliki konektivitas internet di puncak peperangan. Namun, mematikan internet publik tidak serta-merta menyelamatkan Iran. Jaringan internal tertutup (intranet) mereka yang menjadi urat nadi perbankan, layanan pemerintah, dan sistem industri masih harus terus beroperasi. Jaringan inilah yang diyakini Nahum akan menjadi target utama operasi siber di masa depan selama perang ini berlangsung. "Kita mungkin akan melihat pihak Israel dan Amerika terus menyusupi infrastruktur terkait Iran seperti sistem keuangan, telekomunikasi, dan manufaktur," ramalnya. Sistem-sistem vital itulah yang menjaga rezim Iran tetap berfungsi. Jika sistem tersebut berhasil dilumpuhkan, kelumpuhan negara secara total hanyalah menunggu waktu. (dan) wa-channel Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari Follow Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga! Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya Infografis 13 Rudal dan Drone Iran... 13 Rudal dan Drone Iran yang Bisa Hancurkan Pangkalan AS - SINDOnews
    AI Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Hacker Iran israel Kecerdasan Buatan Konflik Timur Tengah Spesial 3/06/2026 06:34:00 PM
    Kumpulan Informasi Teknologi Hari ini - Google Berita: Digest for March 06, 2026
    3/06/2026 04:00:00 PM
    Kumpulan Informasi tentang Kecerdasan buatan - Google Berita: Digest for March 07, 2026
    3/07/2026 05:00:00 PM
    Pencarian Populer Google
    powered by Surfing Waves
    Opsi Berita
    • Opsiin
    • Opsi Informasi
    • Opsi Media Informasi
    • Opsi - B
    • Pastibaca
    • Mediaaipos
    • Sumber Pos
    Opsi Spesifik
    • Opsiinfoid
    • Opsidunia
    • Opsiinfo9
    • Opsitek
    • Antarkabar
    Opsi Arena
    • Opsiarena
    • Opsiarena2
    • Arenanews
    © Opsitek
    | Template: YzTheme | Powered by Opsi Media Informasi Group
    Bookmark
    close
    Additional JS