Duh, Meta Dituduh Bisa Baca Isi Pesan WhatsApp - detik
Duh, Meta Dituduh Bisa Baca Isi Pesan WhatsApp
Sekelompok penggugat dari beberapa negara menggugat Meta dengan tuduhan bahwa mereka bisa membaca pesan pengguna WhatsApp. Meta menyebut gugatan tersebut tidak masuk akal.
Dalam gugatan yang dilayangkan di Pengadilan Distrik San Francisco, kelompok penggugat menuding Meta dan WhatsApp menyimpan, menganalisis, dan dapat mengakses semua pesan pribadi pengguna WhatsApp. Mereka juga menuduh Meta dan pemimpinnya telah menipu miliaran pengguna WhatsApp di seluruh dunia.
Sebagai bukti, gugatan tersebut mengutip 'whistleblower berani' yang menuding karyawan WhatsApp dan Meta dapat meminta untuk melihat pesan pengguna lewat cara sederhana. Namun gugatan itu tidak memberikan informasi teknis untuk mendukung argumennya.
Enkripsi end-to-end sudah lama menjadi fitur unggulan WhatsApp, yang artinya baik WhatsApp maupun Meta tidak bisa melihat isi pesan pengguna. Juru bicara Meta mengatakan gugatan itu tidak berdasar dan mereka akan mengambil tindakan tegas terhadap pengacara penggugat.
"Segala klaim bahwa pesan WhatsApp milik banyak orang tidak dienkripsi adalah sepenuhnya salah dan tidak masuk akal," kata juru bicara Meta, seperti dikutip dari PCMag, Selasa (27/1/2026).
"(Pesan) WhatsApp sudah dienkripsi end-to-end menggunakan protokol Signal selama satu dekade. Gugatan ini adalah karya fiksi yang tidak berdasar dan kami akan mengambil tindakan terhadap pengacara penggugat," sambungnya.
Gugatan ini turut dikomentari oleh bos teknologi lainnya, termasuk CEO Telegram Pavel Durov dan bos X Elon Musk. Dalam postingannya di X, Musk menyebut WhatsApp tidak aman sambil mempromosikan fitur X Chat. Tidak lama setelahnya, Head of WhatsApp Will Cathcart menegaskan klaim gugatan itu tidak benar.
"Ini sepenuhnya salah. WhatsApp tidak bisa membaca pesan karena kunci enkripsi disimpan di ponsel Anda dan kami tidak dapat mengaksesnya," tulis Cathcart dalam balasannya kepada Musk.
"Ini adalah gugatan tidak berdasar yang hanya bertujuan untuk mencari perhatian media, yang diajukan perusahaan yang sama yang membela NSO setelah spyware mereka menyerang jurnalis dan pejabat pemerintah," sambungnya.