Jaga-jaga Diserobot AS, China Kini Gencar Tangkap Bos Scam Kamboja dan Myanmar - Kompas
Jaga-jaga Diserobot AS, China Kini Gencar Tangkap Bos Scam Kamboja dan Myanmar
KOMPAS.com - China kini sedang gencar menindak para taipan penipuan siber yang meraup kekayaan di Asia Tenggara.
Tahun lalu, serangkaian tindakan keras China menyebabkan ribuan pekerja dibebaskan dari pusat-pusat penipuan di Myanmar dan Kamboja.
Kini, China telah mengalihkan fokusnya ke para bos di puncak piramida kriminal dan berhasil menangkap pemain terbesarnya, termasuk Chen Zhi, buron paling dicari di Asia.
"Penangkapan tersebut hampir pasti merupakan hasil dari tekanan China yang dikoordinasikan secara tertutup", menurut pakar senior di Global Initiative Against Transnational Organized Crime, Jason Tower, dikutip dari AFP.
Pada Oktober 2025, AS mendakwa perusahaan milik Chen, Prince Group sebagai "kerajaan" penipuan siber yang luas.
Phnom Penh mengatakan, pihaknya menahan Chen setelah menerima permintaan dari Beijing dan investigasi bersama selama beberapa bulan.
Para analis mengatakan bahwa lambatnya tindakan Phnom Penh membuat gelisah Beijing, yang juga ingin menghindari rasa malu jika Chen diadili di AS.
Seorang pakar kejahatan transnasional dan peneliti tamu di Pusat Asia Harvard University, Jacob Sims menambahkan, Chen memiliki sejumlah hubungan yang dilaporkan dengan pejabat pemerintah China.
"China bertindak untuk mencegah ekstradisinya ke AS mengingat sensitivitas politiknya," katanya kepada AFP.
Janji China menumpas akar penipuan
Beijing mempertontonkan proses ekstradisi taipan tersebut, dengan video yang dirilis oleh Kementerian Keamanan Publik China pada Kamis (8/1/2026).
Video itu menunjukkan Chen dalam keadaan diborgol dan kepala tertutup, keluar dari pesawat dengan dikawal pasukan keamanan bersenjata berpakaian hitam yang menunggu di landasan pacu.
Sebelumnya, China secara terbuka menjatuhkan hukuman mati kepada lebih dari selusin anggota keluarga geng berpengaruh yang melakukan operasi penipuan di Myanmar utara, dengan pengakuan mereka atas kejahatan mengerikan tersebut disiarkan di televisi nasional.
Kemungkinan akan ada lebih banyak penangkapan tingkat tinggi yang akan datang.
Beberapa minggu yang lalu, kementerian keamanan publik mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk 100 buronan lainnya yang dianggap sebagai penyandang dana utama industri penipuan.
Mereka juga berjanji memutus aliran, menyingkirkan akar permasalahan, dan memutus rantai penipuan.
Butuh dukungan dari komunitas internasional

Namun, meskipun para pemimpin yang diduga dari beberapa kelompok penipuan besar telah ditangkap, Sims mengatakan bahwa status quo untuk industri yang lebih luas kemungkinan tidak akan berubah tanpa tekanan yang berkelanjutan dari komunitas internasional.
"Sebagian besar dari ratusan kompleks penipuan di Kamboja beroperasi dengan dukungan kuat dari pemerintah Kamboja," katanya.
Para pejabat Kamboja membantah tuduhan keterlibatan pemerintah dan mengeklaim pihak berwenang sedang melakukan penindakan.
Pada bulan Juli, pihak berwenang Kamboja menyatakan, jumlah penangkapan telah mencapai 2.000 orang.
Saat berada di penjara, bos scam Asia Tenggara She Zhijiang mengaku pernah bertindak sebagai mata-mata untuk badan intelijen Beijing sebelum "dikhianati" oleh Partai Komunis China.
Pengacaranya mengatakan, She telah memohon kepada pihak berwenang Thailand untuk mengizinkannya menghadapi persidangan di AS.
She mengaku khawatir akan dirampas haknya atas proses hukum yang adil dan akhirnya "menghilang".
Beberapa analis menunjuk pada keterbatasan dalam sistem peradilan China yang mungkin mencegah terungkapnya sepenuhnya skema penipuan siber tersebut.
"China bukanlah masyarakat terbuka di mana penyelidikan akan mengungkap sifat sebenarnya dari segala sesuatu," kata akademisi Kamboja dan mantan duta besar, Pou Sothirak.