0
News
    Ingin Cepat Kaya? Kerja, Jangan Judi - Kumpulan Informasi Teknologi Hari ini, Setiap Hari Pukul 16.00 WIB
    Home Berita Featured Kasus Medan Myanmar Spesial Thailand

    Kisah Pemuda Medan: Niat Kerja di Thailand Bergaji Rp 16 Juta, Berujung Jadi Scammer di Myanmar - Kompas

    3 min read

       

    Kisah Pemuda Medan: Niat Kerja di Thailand Bergaji Rp 16 Juta, Berujung Jadi Scammer di Myanmar

    Kompas.com, 9 Januari 2026, 21:12 WIB
    Lihat Foto

    MEDAN,KOMPAS.com - Kisah pahit dialami pemuda asal Kota Medan, Sumatera Utara, inisial SP (33). Niat hati ingin bekerja di bidang e commerce di Thailand, SP justru dipaksa menjadi pelaku scammer di Myanmar.

    Kini nasibnya terkatung-katung di tempat penampungan imigran, di Shew Kokko, Myanmar. Sudah 2 bulan disana, dia pun berharap pemerintah Indonesia segera memulangkannya ke Medan.

    ST mengatakan peristiwa yang dialaminya terjadi di awal September 2025, mulanya dia ditawari bekerja temannya MN, di bidang e-commerce, bagian penjualan barang.

    "Kami di iming-imingi gaji Rp 16 juta perbulan, kami pun berangkat dari Kota Medan di September 2025 ada 5 orang kami yang berangkat dari Medan," ujat SP kepada Kompas.com melalui telepon seluler, Jumat (9/1/2026).

    Rute Tanker "Hantu" Rusia Kelabui Kejaran AS, Matikan Radar hingga Dikawal Kapal Selam Nuklir

    Saat itu, SP dan kawan-kawannya berangkat dengan menggunakan paspor wisata. Lalu sesampainya di Thailand dia dijemput dan dibawa menggunakan bus ke Myanmar.

    "Setibanya di Shew Kokko, Myanmar kami dipekerjakan menjadi scammer dan setelah 2 bulan bekerja di sini, ternyata ada pemberantasan dunia scam dan kami pun menyerahkan diri kepada pihak militer Myanmar dengan harapan untuk dipulangkan kembali ke Indonesia," kata SP.

    SP mengatakan di penampungan tersebut ada sekitar 50 warga Medan dan 200 lainnya warga Indonesia dari berbagai wilayah. 

    SP menceritakan jika di penampungan situasinya tidak kondusif. Mereka kerap diganggu warga asing yang mengalami nasib serupa dengan mereka.

    Perkelahian pun beberapa kali terjadi hingga beberapa warga asal Indonesia mengalami memar di badannya. 

    "Kondisi kami di tempat penampungan diberi makan yang kurang layak dan hal yang kami hadapi di sini harus berhadapan dengan WNA (Warga Negara Asing), salah satu contoh Afrika dan India, yang di mana sering terjadi kericuhan dan cekcok," katanya.

    Lebih lanjut SP mengatakan sudah 2 bulan mereka berada di penampungan, namun kedutaan Indonesia untuk Myanmar tidak kunjung memulangkan mereka.

    Hambatan pemulangan karena paspor ditahan perusahaan scamming yang membawa mereka.

    Namun menurutnya pihak pemerintah juga terlalu lama memproses keinginan mereka untuk pulang.

    "Kami berharap untuk segera ada pemulangan sesegera mungkin kembali ke Indonesia dan percepat pemrosesan SPLP (surat perjalanan laksana paspor) kami," ujarnya.

    "Pihak imigrasi Yangon juga meminta kami untuk menghubungi pihak KBRI agar kami secepatnya dapat dipulangkan.

    Apalagi selama ini mereka sulit untuk berkomunikasi karena tak ada sinyal dan makanan layak hingga obat-obatan.

    "(Uang) kami sudah habis banyak biaya selama di penampungan," ucapnya. 

    Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
    Komentar
    Additional JS