Mengapa Vendor HP Android Kerap Meniru Apple? - Liputan6
Mengapa Vendor HP Android Kerap Meniru Apple?
Banyak HP Android kembali disorot karena dinilai meniru desain dan pendekatan Apple, terutama iPhone.
Ilustrasi Android vs iOS Apple. Oleh Matahari Kartika Purusakara/Liputan6.com (sumber: ilustrasi chatgpt)
Liputan6.com, Jakarta - Beberapa merek HP Android kerap disebut meniru desain yang lebih dulu diperkenalkan Apple, khususnya iPhone. Meski kerap menuai kritik, produk 'imitasi' kadang mendapat sanjungan.
Dalam praktiknya, beberapa merek besar seperti Huawei, Xiaomi, hingga Samsung pernah meniru desain khas Apple, baik dari sisi perangkat keras hingga perangkat lunak yang menjadi bagian penting dalam pengalaman pengguna.
Dalam kurun 12 bulan terakhir, setidaknya terdapat 10 ponsel Android yang disebut memiliki kemiripan dengan iPhone, baik dari model terbaru maupun generasi sebelumnya.
Fenomena ini menjadi salah satu aspek Android yang kerap dianggap paling membuat frustasi. Pasalnya, sejumlah produsen dinilai lebih meniru Apple ketimbang mempertahankan ide dan prinsip desain yang sebenarnya.
Pertanyaan Relevansi
Dilansir 9tp5Google, Senin (12/1/2026), Apple memiliki produk yang berkualitas tinggi di masing-masing kategorinya, lintas platform.
Salah satu kekuatan utama perusahaan asal Curpertino, Amerika Serikat (AS) ini yaitu kemampuannya menjadi teknologi sebagai simbol aspiratif.
Strategi penepatan harga kelas premium turut membangun persepsi kualitas yang tetap sulit ditandangi oleh banyak produsen Android. Di berbagai pasar sering kali Android mengadopsi prinsip Apple, mengingat perusahaan tersebut terus mendominasi penjualan smartphone dan aksesori di segmen premium.
Penjualan tersebut berjalan seiring dengan kuatnya pengaruh budaya Apple di berbagai pasar sebagai merek “mewah” dan aspiratif.
Posisi ini memudahkan Apple dalam menarik konsumen yang telah siap mengeluarkan dana besar untuk ekosistem produknya, mulai dari ponsel, tablet, jam tangan pintar, earbuds, hingga laptop.
Meniru pendekatan Apple pun menjadi jalan pintas bagi banyak produsen Android untuk tetap relevan. Tak heran, banyak merek kerap membandingkan angka dan spesifikasi produk Apple dalam presentasi peluncuran sebagai upaya meyakinkan konsumen yang masih ragu untuk membeli produk Android.
Efek Riak Apple
Dalam industri teknologi, inovasi jarang lahir tanpa adanya pengaruh dari kompetitor. Hal ini juga yang terjadi pada Google dan sejumlah produsen Android lainnya, yang kerap menghadirkan fitur sebagai respons terhadap fungsionalitas iOS milik Apple.
Google, meski memiliki ekosistem yang kuat melalui Pixel, Nest, dan layanan Android, dinilai banyak mengadospsi pendekatan Apple.
Fitur seperti Quick Share dan Find Hub disebut sebagai layanan yang serupa di iOS. Bahkan, komitmen pembaruan perangkat lunak Android yang semakin panjang terinspirasi dari standar jangka panjang Apple.
Samsung sebagai perusahaan terbesar Android juga kerap dianggap reaktif terhadap langkah Apple. Meski unggul dalam inovasi perangkat keras, khususnya teknologi layar dan ponsel lipat, arah pengembangan produknya sering dipengaruhi oleh Apple.
Menurunkan Biaya Inovasi
Inovasi perangkat keras menjadi salah satu keunggulan dari banyak produsen Android, mulai dari layar, kamera, baterai, hingga biometrik--meski harus ditebus dengan biaya pengembangan biaya yang tinggi. Namun, pengembangan perangkat lunak juga memerlukan investasi besar.
Untuk menekan biaya dan waktu, sejumlah merek memilih meniru pendekatan Apple dengan menjadikan desain iOS sebagai referensi.
Strategi ini memang dinilai lebih praktis, namun meniru bukanlah dasar kuat untuk membangun sebuah identitas perangkat lunak jangka panjang.
Upaya Meniru Apple, Namun Sering Melenceng
Tren saling meniru di industri smartphone kian menguat sejak akhir 2025 dan akan berlanjut pada 2026, terutama setelah Apple merilis iOS 26 dengan antarmuka “Luquid Glass” yang menuai pro dan kontra.
Desain ini dinilai mengabaikan banyak prinsip dasar sistem operasi seluler yang telah sukses selama satu dekade terakhir.
Meski Pixel 10 kerap disamakan dengan iPhone dari sisi desain, Google tetap menawarkan diferensiasi melalui Material 3 Expressive yang dinamis dan berwana.
Sayangnya, banyak produsen Android justru memilih meniru pendekatan Apple ketimbang mengembangkan identitas Android sendiri, sehingga menghadirkan pengalaman antarmuka yang terasa tidak konsisten dan terkesan imitasi.
Biarkan Android Menjadi Android
Inti permasalahan saat ini adalah Android yang kuat tidak perlu meniru pihak lain untuk tetap relevan. Platform ini memiliki keunikan tersendiri, baik dari sisi perangkat keras, termasuk ragam faktor yang matang, berbeda, dan terus berkembang. Berbeda dengan Apple yang relatif bereksperimen.
Google dinilai perlu lebih aktif mendorong produsen Android mengadopsi Material 3 Expressive guna memperkuat identitas sistem operasi.
Inovasi perangkat keras dapat menjadi pembeda, sementara konsistensi perangkat lunak tetap menjadi dasar kekuatan Android.
Di tengah peningkatan smartphone yang semakin terbatas dari tahun ke tahun, upaya meniru Apple justru berisiko mengaburkan identitas Android dan menjauhkan penggunanya. Alih-alih bersaing di jalur yang sama, mempertahankan karakter Android dinilai lebih relevan dan berkelanjutan.