Tragis, Microsoft Bakar Rp 114 Triliun demi Ponsel yang Kini Punah - detik
Tragis, Microsoft Bakar Rp 114 Triliun demi Ponsel yang Kini Punah
Adi Fida Rahman - detikInet
Microsoft pernah menghabiskan waktu selama delapan tahun dan menggelontorkan dana sebesar USD 7,6 miliar (sekitar Rp 114 triliun) untuk membangun sebuah produk yang kini bahkan tidak ada wujudnya. Raksasa teknologi ini menghabiskan hampir satu dekade mencoba merevolusi pasar ponsel, hanya untuk membatalkan "maha karya" potensial tersebut.
Alih-alih merilis inovasi terbarunya, Microsoft justru membubarkan departemen pengembangannya secara total. Ini menjadi kabar buruk dan kekecewaan mendalam bagi para penggemar setia, khususnya mereka yang pernah mencintai ponsel Nokia Lumia.
Kisah tragis ambisi seluler Microsoft ini mencapai puncaknya pada tahun 2015. Saat itu, perusahaan mengumumkan pemangkasan 7.800 pekerjaan dan mencatatkan kerugian besar senilai USD 7,6 miliar pada divisi ponselnya. Angka ini muncul setelah sebelumnya perusahaan juga memangkas 12.500 pekerjaan pada tahun 2014 dari bisnis Nokia yang dibeli Microsoft seharga USD 7,3 miliar pada tahun 2012.
CEO Microsoft saat itu, Satya Nadella, mengatakan bahwa perusahaan akan meninjau kembali strateginya. Sayangnya, strategi tersebut tidak pernah benar-benar kembali ke jalur semula setelah seri Lumia berakhir pada tahun 2016.
"Kami beralih dari strategi untuk menumbuhkan bisnis ponsel yang berdiri sendiri ke strategi untuk menumbuhkan dan menciptakan ekosistem Windows yang dinamis," ujar Nadella kala itu, seperti dikutip dari The Guardian.
"Dalam waktu dekat, kami akan menjalankan bisnis portofolio ponsel yang lebih efektif dan terfokus sambil mempertahankan kemampuan untuk penemuan kembali jangka panjang dalam mobilitas."
Awal Mula Ambisi dan Kejatuhan
Mantan CEO Microsoft, Steve Ballmer, adalah sosok yang memimpin pembelian Nokia asal Finlandia untuk memperkuat sistem Windows Phone. Namun, dengan gempuran teknologi yang dirilis oleh pesaing berat seperti Apple dan Google, Microsoft kesulitan untuk mengejar ketertinggalan.
Pada akhirnya, perusahaan justru kehilangan lebih banyak uang daripada yang mereka keluarkan untuk mengakuisisi Nokia. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?

Pada tahun 2008, Microsoft mengumumkan dimulainya pengembangan ponsel Windows mereka sendiri. Pada tahun 2010, perangkat lunak tersebut berhasil dikembangkan dan kemudian digunakan untuk seri Lumia.
Keunggulan utama ponsel ini adalah integrasi aplikasi yang sama dengan komputer Windows, termasuk Microsoft Word, Excel, dan PowerPoint. Hal ini memungkinkan pengguna untuk bekerja di mana saja. Dengan fungsi dan fitur yang mirip dengan laptop dasar berbasis Windows, ponsel layar sentuh yang ramping ini sempat cukup populer di pasaran.
Namun, popularitas itu tidak bertahan lama. Lumia gagal mengimbangi pembaruan dan rilis baru dari Apple dan Google. Seri Lumia tercatat hanya merilis sembilan ponsel secara total dan sedang bersiap merilis satu lagi ketika lini produk tersebut dihentikan.
Selain persaingan ketat, ponsel-ponsel tersebut juga didera ulasan yang beragam. Banyak pengguna mengeluhkan kinerja ponsel yang lambat, sering mengalami lag, dan freeze.

Sementara Steve Ballmer ingin melanjutkan pengembangan ponsel, Satya Nadella yang mengambil alih kursi CEO pada tahun 2014 melihat penurunan angka penjualan sebagai kerugian yang tidak bisa dipertahankan. Proyek tersebut akhirnya dibatalkan dan tidak pernah dilanjutkan lagi.
Meski demikian, Microsoft sempat mencoba peruntungan kembali dengan menciptakan Surface Duo, sebuah ponsel pintar Android dengan layar ganda (dual-touchscreen). Perangkat ini diumumkan pada acara tanggal 2 Oktober 2019 dan resmi dirilis pada 10 September 2020 sebagai bagian dari keluarga Microsoft Surface.
Namun, nasib Surface Duo pun tidak jauh berbeda. Perangkat ini dihentikan pada tahun 2023 setelah perilisan Surface Duo 2 pada tahun 2021.
Secara keseluruhan, upaya Microsoft di pasar ponsel terlihat sebagai pemborosan uang yang sangat besar dalam satu dekade terakhir. Kendati demikian, bagi sebagian pengguna, kenangan menggunakan Lumia tetap memiliki tempat tersendiri, demikian dilansir dari Unilad.
Video: Microsoft-Apple Minta Pengguna Tak Pakai Google Chrome, Kenapa?
(afr/afr)