0
News
    Ingin Cepat Kaya? Kerja, Jangan Judi - Kumpulan Informasi Teknologi Hari ini, Setiap Hari Pukul 16.00 WIB
    Home AI Luar Angkasa Berita Data Center Elon Musk Featured Kecerdasan Buatan Satelit Spesial

    Ambisi Baru Elon Musk, 1 Juta Satelit untuk Data Center AI ke Luar Angkasa - Kompas

    5 min read

     

    Ambisi Baru Elon Musk, 1 Juta Satelit untuk Data Center AI ke Luar Angkasa

    KOMPAS.com - Ambisi Elon Musk dalam mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) tampaknya tak lagi terbatas di Bumi.

    Melalui perusahaan dirgantara miliknya, SpaceX, Musk mengajukan rencana untuk membangun pusat data AI yang berbasis di luar angkasa, bukan di darat seperti data center pada umumnya.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Rencana pembangunan ini awalnya terungkap dalam dokumen pengajuan yang dikirimkan SpaceX kepada Federal Communication Commission (FCC) Amerika Serikat, Jumat (30/1/2026).

    Dalam pengajuan tersebut, SpaceX meminta izin untuk meluncurkan hingga satu juta satelit. Jumlah itu disebut-sebut hampir 100 kali lipat dibandingkan total satelit yang saat ini berada di orbit. 

    Prabowo Cari "Penantang" untuk Pemilu 2029

    Adapun rencana untuk membangun pusat data orbital ini sebelumnya juga pernah disinggung oleh pihak internal SpaceX. Gagasan tersebut mencuat seiring dengan kabar bahwa sang CEO disebut-sebut tengah mempersiapkan SpaceX untuk melantai di bursa saham.

    Baca juga: Nama Elon Musk dan Bill Gates Terseret Skandal Epstein Files

    Penuhi kebutuhan komputasi AI

    Berdasarkan dokumen pengajuan yang ditemukan outlet media PCMag, pusat data orbital yang diajukan SpaceX akan digunakan untuk menyediakan kapasitas komputasi bagi kebutuhan kecerdasan buatan (AI). 

    SpaceX menyebut bahwa pusat data di orbit merupakan solusi untuk memenuhi permintaan daya komputasi AI yang terus meningkat. Karena itu, mereka meminta izin untuk membangun sebuah sistem satelit dalam jumlah besar. 

    Dalam dokumen tersebut, SpaceX menyatakan akan mengerahkan sistem hingga satu juta satelit yang beroperasi di lapisan orbit sempit, dengan rentang hingga 50 kilometer untuk setiap lapisan.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    SpaceX juga menegaskan bahwa pusat data orbital merupakan cara paling efisien untuk memenuhi lonjakan kebutuhan komputasi AI.

    Efisiensi tersebut diklaim berasal dari SpaceX yang berencana memanfaatkan sistem tenaga surya. Menurut mereka, biaya operasional dan pemeliharaan sistem tersebut sangat rendah. 

    Baca juga: 6 Hal Tak Masuk Akal Ini Bisa Dibeli Elon Musk yang Berharta Rp 13.000 Triliun

    Belum tentu disetujui

    Meski terdengar menjanjikan, rencana SpaceX untuk meluncurkan pusat data orbital dengan hampir satu juta satelit belum tentu disetujui sepenuhnya.

    Sebab, berdasarkan pengajuan-pengajuan sebelumnya, FCC tercatat beberapa kali memangkas jumlah satelit yang diminta SpaceX.

    Sebagai contoh, pada awal bulan Januari, FCC menyetujui permintaan SpaceX untuk mengerahkan sekitar 7.500 satelit Starlink tambahan, menyusul 7.500 satelit lain yang diluncurkan pada 2022.

    Jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan pengajuan SpaceX pada 2020, ketika perusahaan itu meminta izin untuk mengorbitkan hampir 30.000 satelit.

    Jumlah ini disebut jauh lebih kecil dibandingkan pengajuan SpaceX pada 2020, ketika perusahaan itu meminta izin untuk mengorbitkan hampir 30.000 satelit, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Engadget.

    Baca juga: Elon Musk Turunkan Orbit Ribuan Satelit Starlink, Demi Apa?

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS