JAKARTA – Elon Musk mengeluarkan prediksi tajam mengenai peta persaingan teknologi global. CEO Tesla tersebut menyatakan bahwa China siap mendominasi sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), kendaraan listrik, dan robotika secara mutlak, kecuali jika Amerika Serikat mampu melahirkan inovasi terobosan yang radikal.

Dominasi ini, menurut Musk, tidak terelakkan karena keunggulan struktural China dalam pasokan energi listrik dan kapasitas manufaktur yang masif.

Dikutip dari Global Times (8/2/2026), pandangan ini disampaikan Musk dalam sebuah wawancara podcast berdurasi tiga jam baru-baru ini. Ia menyoroti bahwa hambatan terbesar bagi pengembangan teknologi masa depan adalah ketersediaan daya listrik untuk menopang klaster komputasi AI.

Musk mencatat bahwa di luar China, pertumbuhan output pembangkit listrik cenderung stagnan alias datar. Sebaliknya, China memiliki kapasitas pembangkitan listrik yang diperkirakan mencapai tiga kali lipat dari output listrik Amerika Serikat.

Bagi Musk, angka ini bukan sekadar statistik energi, melainkan indikator proksi yang menunjukkan bahwa kapasitas industri China secara efektif tiga kali lebih besar daripada AS.

Musk juga menjuluki China sebagai kekuatan manufaktur level selanjutnya (next-level manufacturing powerhouse). Ia memberikan contoh spesifik pada sektor pemurnian bijih tambang (ore refining), di mana China memproses bahan baku dua kali lebih banyak dibandingkan gabungan seluruh negara lain di dunia.

Ketersediaan bahan baku ini memungkinkan China menguasai rantai pasok dari hulu hingga produk jadi seperti mobil.

Menyikapi tantangan kapasitas daya di bumi yang semakin terbatas, Musk bahkan berargumen bahwa dalam waktu sekitar tiga tahun, sekitar tahun 2029 menempatkan kapasitas komputasi AI masif di luar angkasa mungkin menjadi solusi paling ekonomis.

Sementara itu, sebagai respons strategis korporasi, Tesla mengonfirmasi rencana investasi senilai lebih dari 20 miliar dolar AS pada tahun 2026.

Wakil Presiden Tesla, Tao Lin, menjelaskan bahwa dana ini akan dialokasikan untuk pengembangan kapasitas komputasi AI, pabrik robotika, program Cybercab, serta infrastruktur energi, termasuk pusat pelatihan lokal di China untuk mengoptimalkan sistem kemudi cerdas mereka. (SF)

Baca Juga: Amerika blokir chip, ekspor digital China justru surplus, mengapa?