0
News
    Home AI Berita Dunia Internasional Featured Jepang Kecerdasan Buatan Nobel Spesial

    Dua Peraih Nobel Jepang Berbeda Pandangan soal AI - Tribunnews

    8 min read

     

    Dua Peraih Nobel Jepang Berbeda Pandangan soal AI

    Dua peraih Nobel Jepang 2025 beda pandangan soal AI, namun sepakat riset dasar butuh waktu panjang dan dukungan berkelanjutan



    Ringkasan Berita:
    • Dua peraih Nobel Jepang 2025, Susumu Kitagawa dan Shimon Sakaguchi, menyoroti peran AI dalam riset
    • Sakaguchi menilai AI hanya membantu merangkum data dan berpotensi menimbulkan ketergantungan, sementara kreativitas tetap kunci utama
    • Keduanya menegaskan riset dasar butuh dukungan jangka panjang 10–20 tahun serta pendanaan berkelanjutan demi masa depan sains Jepang

    Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

    TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Dua Profesor Jepang, dan keduanya peraih hadiah Nobel, Susumu Kitagawa dan Shimon Sakaguchi ternyata berbeda jauh mengenai AI atau penggunaan ChatGPT dan semacamnya.

    "Saya lebih suka pakai kertas, membaca menulis, cara konvensional ketimbang pakai AI," papar Sakaguchi khusus kepada Tribunnews.com kemarin (4/3/2026).

    Diakuinya pula memang AI banyak sekali membantu masyarakat. Tetapi AI lebih kepada pengumpulan dan merangkum data saja.

    "Sedangkan yang jauh lebih penting adalah ide kreatif dari mahasiswa itu sendiri, bagaimana dia bisa menggalinya dengan lebih jauh," tambahnya.

    AI diaggak Sakaguchi layaknya seperti menggunakan ponsel.

    "Orang sudah ketagihan pakai ponsel karena nyaman bahkan bisa jadi toxic bagi kehidupannya," paparnya yang mengartikan ketergantungan manusia sudah menjadi sangat besar sekali kepada ponsel, seolah tak ada ponsel bisa mati kehidupannya.

    Baca juga: Dorong Peran AI di Asia Tenggara, Founder Advance Intelligence Group Gabung ke Endeavor Entrepreneur

    Sedangkan Kitagawa mengakui mengakui AI hanya sebagai pengumpulan data dan merangkum data saja tidak lebih dari itu.

    Dua Peraih Nobel Jepang Desak Dukungan Jangka Panjang untuk Riset Dasar

    "Terpenting adalah meningkatkan jam waktu kerjanya di bidang penelitian, meningkatkan ide kreativitas sendiri mencari hal-hal yang baru bagi para peneliti muda saat ini," papar Kitagawa kepada Tribunnews.com

    Setelah itu dengan mudah dirangkai oleh AI dan semakin banyak dengan cepat hasil penelitian bisa diungkapkan berkat bantuan AI.

    Kitagawa, profesor khusus dari Universitas Kyoto yang meraih Nobel Kimia 2025, dan Sakaguchi, profesor kehormatan khusus dari Universitas Osaka penerima Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2025, menekankan bahwa hasil riset dasar tidak dapat diperoleh secara instan hanya dengan peningkatan pendanaan jangka pendek.

    Riset Dasar Butuh 10–20 Tahun

    Kitagawa menyatakan bahwa penelitian dasar membutuhkan waktu 10 hingga 20 tahun untuk menghasilkan capaian signifikan. 

    Ia mengapresiasi langkah pemerintah Jepang yang meningkatkan anggaran hibah penelitian (Kakenhi) dalam rancangan anggaran tahun depan, namun menilai bahwa dukungan sebelumnya masih terlalu kecil.

    “Riset dasar memerlukan waktu panjang. Pemerintah perlu merancang sistem pendanaan yang memahami karakter tersebut,” ujarnya. 

    Ia juga menyoroti kenaikan biaya penelitian akibat inflasi, dan bahkan menyatakan bahwa pengembangan “metal-organic framework (MOF)” yang membawanya meraih Nobel mungkin sulit dilakukan dalam kondisi pendanaan saat ini.

    "Lihat saja dana yang diberikan bagi peneliti di Singapura dua kali lipat lebih besar ketimbang di Jepang ini. Dana itu sangat penting.”

    Pentingnya Keberlanjutan dan Budaya Ilmiah

    Sementara itu, Sakaguchi menekankan bahwa riset pada dasarnya memiliki tingkat keberhasilan (yield) yang rendah, sehingga negara perlu memahami dan tetap mendukungnya sebagai bagian dari budaya bangsa maju.

    “Keberlanjutan sangat penting. Jika kita mampu membangun tradisi untuk terus memelihara minat terhadap hal-hal penting dan mempertahankannya, maka sains Jepang masih memiliki masa depan cerah,” katanya.

    Selain itu Kitagawa menyampaikan keinginannya untuk “memberi penghormatan kepada generasi muda” dan mendukung mereka.

    Sakaguchi pun mengirimkan pesan optimisme kepada peneliti muda. Ia mengutip kata-kata peraih Nobel Fisika pertama Jepang, Yukawa Hideki, bahwa penelitian dilakukan untuk memuaskan keyakinan diri sendiri. Ia menambahkan bahwa penting untuk selalu bersikap optimis dalam dunia sains.

    Menurut Kitagawa, untuk melahirkan gagasan orisinal, peneliti perlu diberi waktu yang cukup, serta dukungan dari sisi pendanaan, lingkungan penelitian, dan sistem evaluasi yang sesuai dengan karakter bidang ilmunya.

    Keduanya melakukan ajakan agar pemerintah Jepang dan masyarakat memperkuat sistem pendukung ilmu pengetahuan demi masa depan inovasi nasional.

    Diskusi  dunia penelitian di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com


    Komentar
    Additional JS