0
News
    Home Berita China Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Rudal Makin Akurat, Iran Diduga Pakai Teknologi Canggih China - detik

    4 min read

     

    Rudal Makin Akurat, Iran Diduga Pakai Teknologi Canggih China

    Fino Yurio Kristo - detikInet


    Serangan rudal Iran ke Israel. Foto: REUTERS/Itai Ron

    Jakarta -

    Iran mungkin memakai sistem navigasi satelit China untuk menarget aset militer Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah. Mantan direktur intelijen Prancis, Alain Juillet, mengatakan ada kemungkinan Iran diberi akses sistem navigasi BeiDou karena penargetan Iran jadi jauh lebih akurat dibanding perang dengan Israel tahun lalu.

    "Salah satu kejutan perang ini adalah rudal Iran lebih akurat dibanding perang delapan bulan lalu, memunculkan banyak pertanyaan tentang sistem pemandu rudal-rudal tersebut," kata Juillet, direktur intelijen General Directorate for External Security (GDES) Prancis tahun 2002 hingga 2003.

    Meski Israel dan negara-negara Teluk mencegat banyak rudal, sebagian tembus. AS dapat mengacak atau menolak akses Global Positioning System (GPS) yang sebelumnya diandalkan militer Iran. Namun AS tak dapat berbuat banyak untuk mengganggu sistem BeiDou jika sistem itu yang digunakan.

    Apa itu Sistem Satelit Navigasi BeiDou (BDS)?

    China meluncurkan BeiDou sebagai pesaing GPS tahun 2020 yang diresmikan Presiden Xi Jinping. China mengembangkan navigasi satelit sendiri setelah krisis Taiwan 1996 karena khawatir Washington membatasi akses ke GPS.

    Sistem China menggunakan jauh lebih banyak satelit. Menurut data AJ Labs dari Al Jazeera, sementara sistem GPS AS memiliki 24 satelit, sistem China mengandalkan 45 satelit. Sistem navigasi global lainnya adalah GLONASS milik Rusia dan sistem Galileo milik Uni Eropa, yang masing-masing memiliki 24 satelit.

    Situs web BeiDou menyebut sistemnya terdiri dari tiga segmen, segmen ruang angkasa, segmen darat, dan segmen pengguna. "Akurasi bervariasi tergantung tingkat layanan," kata analis militer Elijah Magnier. "Sinyal sipil terbuka umumnya memberi akurasi sekitar lima hingga 10 meter, sementara layanan terbatas bagi pengguna resmi dapat menawarkan presisi jauh lebih tinggi."

    Mungkinkah Iran menggunakan BeiDou?

    Iran belum mengonfirmasi. Juga tidak jelas apakah memindahkan operasi militer ke sistem navigasi satelit berbeda dimungkinkan dalam waktu singkat sejak perang dengan Israel tahun lalu.

    Namun, Juillet menilai beralih ke sistem BeiDou adalah penjelasan realistis tentang bagaimana Iran meningkatkan akurasi secara drastis. "Target penting berhasil dihantam," sebutnya.

    Ahli meyakini Iran menggabungkan sistem navigasi China jauh lebih lama. Theo Nencini, peneliti hubungan China-Iran menyebut di 2015, Iran menandatangani kesepahaman untuk mengintegrasi BeiDou-2 ke infrastruktur militer, untuk meningkatkan pemandu rudal dengan sinyal jauh lebih akurat dari GPS sipil yang sebelumnya digunakan.

    Implementasi bertahap, namun tampaknya dipercepat setelah Kemitraan Strategis Sino-Iran ditandatangani Maret 2021, ketika China diyakini memberi Iran akses sinyal militer terenkripsi milik BeiDou.

    "Sejak itu, militer Iran mulai menggabungkan BeiDou ke pemandu rudal dan drone, serta ke jaringan komunikasi aman tertentu," kata Nencini. Pergeseran itu berarti Iran mulai menghapus penggunaan GPS AS secara bertahap. Iran diyakini baru menyelesaikan transisi ke BeiDou di Juni 2025, termasuk untuk penggunaan sipil.

    Bagaimana BeiDou meningkatkan akurasi?

    Sistem BeiDou dapat dipakai memandu rudal balistik Iran dengan akurasi jauh lebih baik. Sistem navigasi China diyakini punya margin kesalahan kurang dari semeter, juga dapat secara otomatis mengoreksi arah target jika target bergerak.

    "Itu secara signifikan lebih baik daripada apa yang dimungkinkan sinyal GPS sipil, mengingat AS membatasi akses sinyal militer terenkripsinya untuk musuh-musuhnya," kata Nencini kepada Al Jazeera yang dikutip detikINET.

    Sistem ini juga kemungkinan membantu Iran mengakali sistem pengacakan yang digunakan Israel. "Tak seperti sinyal GPS kelas sipil yang dilumpuhkan, sinyal tingkat militer milik BDS-3 pada dasarnya tidak dapat diacak," cetus analis militer Patricia Marins

    BeiDou juga memungkinkan operator berkomunikasi dengan drone atau rudal sejauh 2.000 km saat mereka sedang terbang. Berarti rudal berpotensi dapat diarahkan ulang setelah diluncurkan.


    Komentar
    Additional JS