AI Bisa Deteksi Kanker Hanya dari Suara, Ini Temuan Terbaru - Kompas
AI Bisa Deteksi Kanker Hanya dari Suara, Ini Temuan Terbaru
KOMPAS.com - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mulai digunakan untuk mendeteksi penyakit hanya dari suara manusia.
Teknologi ini bahkan berpotensi mengenali tanda awal kanker tanpa prosedur medis yang invasif.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola suara seseorang dapat mengandung sinyal tersembunyi yang berkaitan dengan kondisi kesehatan.
Baca juga: Studi Ungkap AI Bisa Deteksi Penurunan Kognitif Lebih Dini dari Catatan Dokter
Suara manusia bisa menyimpan tanda penyakit
Melansir ScitechDaily (5/4/2026), penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Digital Health mengungkap bahwa suara manusia dapat menjadi indikator awal penyakit.
Penelitian ini berfokus pada kanker laring atau kanker pita suara, yang masih menjadi masalah kesehatan global.
Pada 2021, sekitar 1,1 juta orang didiagnosis kanker ini di seluruh dunia, dengan sekitar 100.000 kematian.
Peneliti menemukan bahwa perubahan kecil dalam suara dapat menunjukkan adanya kelainan pada pita suara.
Kelainan tersebut bisa berupa kondisi ringan seperti nodul, tetapi juga bisa menjadi tanda awal kanker.
Baca juga: Walau Ada AI, Dokter Tetap Jadi Pilar Utama Penanganan Pasien
AI membaca pola suara untuk deteksi dini

Dalam penelitian ini, tim ilmuwan menganalisis berbagai aspek suara seperti nada, kestabilan pitch, volume, hingga kejernihan suara.
Mereka juga mengukur parameter seperti jitter (variasi kecil pada nada), shimmer (perubahan amplitudo), serta rasio harmonik terhadap noise.
Data yang digunakan berasal dari 12.523 rekaman suara dari 306 partisipan di Amerika Utara.
Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan pola suara yang jelas antara individu sehat, pasien dengan kelainan pita suara, dan pasien kanker laring, khususnya pada laki-laki.
“Dengan dataset ini, kami dapat menggunakan biomarker suara untuk membedakan suara pasien dengan lesi pita suara dan yang tidak,” kata Dr Phillip Jenkins, peneliti dari Oregon Health & Science University.
Baca juga: Pemeriksaan Mata Lebih Cepat dan Akurat dengan Bantuan AI
Potensi jadi alat deteksi tanpa prosedur invasif
Saat ini, diagnosis kanker laring umumnya dilakukan melalui endoskopi dan biopsi, yang bersifat invasif.
Selain itu, akses ke pemeriksaan tersebut tidak selalu cepat dan mudah. Teknologi berbasis AI ini dinilai berpotensi menjadi alternatif yang lebih sederhana dan cepat.
Peneliti menyebut bahwa suara manusia dapat berfungsi sebagai biomarker praktis untuk menilai risiko kanker di masa depan.
“Hasil kami menunjukkan bahwa data suara yang dikumpulkan secara etis dapat membantu menjadikan suara sebagai biomarker untuk risiko kanker dalam praktik klinis,” ujar Jenkins.
Masih butuh pengembangan sebelum digunakan luas
Meski menjanjikan, teknologi ini masih memerlukan pengujian lebih lanjut.
Peneliti menyebut diperlukan dataset yang lebih besar dan beragam agar sistem dapat bekerja optimal pada semua kelompok, termasuk perempuan.
Selain itu, model AI perlu dilatih dan diuji secara klinis sebelum digunakan dalam praktik medis.
“Untuk menjadi alat AI yang bisa digunakan, kami perlu melatih model dengan dataset yang lebih besar dan memastikan sistem bekerja baik pada semua kelompok,” jelas Jenkins.
Ia memperkirakan teknologi ini dapat mulai diuji dalam skala terbatas dalam beberapa tahun ke depan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa suara manusia memiliki potensi besar sebagai alat deteksi dini penyakit.
Dengan bantuan AI, perubahan kecil dalam suara dapat menjadi sinyal awal adanya gangguan kesehatan, termasuk kanker.
Meski masih dalam tahap pengembangan, teknologi ini membuka peluang baru untuk diagnosis yang lebih cepat, mudah, dan tidak invasif.
Baca juga: Komedian Alex Duong Meninggal Dunia karena Kanker Langka, Bisa Menyebar Sangat Cepat
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang