BSSN Sebut Manipulasi Informasi Jadi Ancaman Siber Nasional, Pelaku Bisa Aktor Asing -
BSSN Sebut Manipulasi Informasi Jadi Ancaman Siber Nasional, Pelaku Bisa Aktor Asing
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengatakan dinamika ancaman nasional di era digital terus berkembang dan perlu dipahami secara komprehensif.
Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik BSSN, Brigjen TNI Berty BW Sumakud mengatakan manipulasi informasi menjadi ancaman siber yang bisa mengganggu jalannya negara dan pelayanan publik.
Menurut dia, ketika kepercayaan masyarakat diserang melalui manipulasi informasi, kondisi negara dapat melemah.
“Konflik modern tidak selalu dimulai dengan tank, rudal, atau drone. Banyak konflik justru diawali dengan narasi palsu, propaganda digital, penggunaan bot, akun anonim, manipulasi algoritma, dan kampanye terkoordinasi di media sosial. Target utamanya adalah emosi masyarakat, opini publik, dan stabilitas nasional,” ujar Berty dalam keterangannya, Sabtu (25/4/2026).
Menurutnya, ancaman tersebut hadir dalam bentuk misinformasi, disinformasi, hingga Foreign Information Manipulation and Interference (FIMI), yaitu upaya manipulasi informasi yang dilakukan secara terkoordinasi oleh aktor asing, baik negara maupun non-negara, guna mempengaruhi opini publik, proses politik, situasi sosial, maupun kepentingan strategis suatu negara.
Baca juga: Ancaman Siber Makin Kompleks, Kepala BSSN Ajak Jaga Keamanan dan Ketahanan Nasional
Sehingga, kata Berty, keamanan siber tidak lagi semata berkaitan dengan perlindungan jaringan dan data, melainkan juga menyangkut ketahanan masyarakat dalam menghadapi operasi informasi yang dapat memecah belah bangsa.
Berty menekankan generasi muda memiliki posisi strategis dalam ekosistem digital nasional saat ini.
Pelajar, mahasiswa, pemuda desa, dan komunitas digital berperan sebagai konsumen informasi sekaligus produsen konten yang memiliki pengaruh dalam membentuk opini publik.
Baca juga: Mendagri Tito Karnavian Terima Penghargaan Adibhakti Sanapati dari BSSN
“Para pengelola media center daerah, content creator, komunitas, mahasiswa, pelajar, akademisi, serta pegiat literasi digital sebagai Jawara Bandung memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam menjaga ruang siber nasional,” tuturnya.
Hal tersebut sejalan dengan konsep Program Pertahanan Semesta yang merupakan turunan dari amanat RPJMN 2025–2029, yang menekankan pentingnya pertahanan nasional yang menyeluruh, adaptif, dan berbasis partisipasi seluruh rakyat Indonesia.
Lebih lanjut, Berty mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan literasi digital dan kesadaran keamanan siber, membiasakan verifikasi informasi sebelum membagikan, serta aktif menyebarkan narasi positif dan edukatif di ruang siber.
“Pertahanan negara membutuhkan partisipasi seluruh rakyat Indonesia, termasuk dalam menjaga ruang siber. Nasionalisme di era digital juga diwujudkan melalui kepedulian menjaga informasi, persatuan, dan ketahanan bangsa,” pungkasnya.