0
News
    Home Berita Featured Game GTA V IGRS Spesial Steam

    GTA V Terancam Diblokir? Menguak Kekacauan Implementasi Rating IGRS Steam 2026 - Radar Bojonegoro

    8 min read

     

    GTA V Terancam Diblokir? Menguak Kekacauan Implementasi Rating IGRS Steam 2026


    KOMDIGI: Pemerintah RI melalui Kementerian Komdigi meresmikan IGRS pada Oktober 2025 lalu.

    RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Komunitas gamer PC Tanah Air tengah dihebohkan oleh kebijakan baru yang memicu polemik besar. Niat hati pemerintah ingin melindungi anak bangsa dari konten negatif, implementasi Indonesia Game Rating System (IGRS) di platform distribusi digital raksasa, Steam, pada awal 2026 ini justru memicu gelombang kritik tajam.

    Sejak Valve mulai memberlakukan sistem ini pada Maret 2026, para pengembang wajib mengisi Steam Content Survey untuk mendapatkan klasifikasi usia rilis (mulai dari 3+, 7+, 13+, 15+, 18+, hingga larangan edar atau RC). Sayangnya, alih-alih menjadi panduan yang valid, hasil dari sistem ini justru menampilkan rentetan anomali yang tidak masuk akal.

    1. Daftar Rating "Halu": Konten Dewasa Tembus Umur 3 Tahun?

    Ketidakkonsistenan sistem ini langsung menjadi bulan-bulanan gamer setelah terkuaknya beberapa klasifikasi game populer yang sangat melenceng dari akal sehat. Berikut adalah beberapa kejanggalan paling fatal yang ditemukan:

    • PUBG: Battlegrounds: Game battle royale yang mengandalkan tembak-menembak ini justru mendapat rating 3+ (aman untuk balita), tanpa indikasi kekerasan yang terdeteksi sistem.

    • Dota 2: Ironisnya, game MOBA legendaris ini malah dilabeli 18+ karena sistem menangkap adanya unsur horor dan zat adiktif dalam interaksi daringnya.

    • Nukitashi: Game novel visual dengan konten dewasa eksplisit secara mengejutkan lolos dengan rating 3+.

    • A Space for the Unbound: Karya membanggakan developer lokal yang sarat nilai emosional naratif ini justru diganjar rating 18+.

    • Umamusume: Pretty Derby: Mengantongi rating 18+ karena algoritma menganggapnya mengandung unsur perjudian.

    • Balatro: Dilabeli 3+ tanpa ada keterangan parameter yang jelas.

    2. Ancaman Pemblokiran Judul Raksasa: Nasib GTA V di Ujung Tanduk

    Di balik rentetan rating komedi tersebut, terselip ancaman nyata bagi ekosistem gaming Indonesia. Beberapa judul raksasa dilaporkan mendapatkan status RC (Refused Classification). Artinya, game tersebut ditolak klasifikasinya dan dinilai tidak layak didistribusikan di Indonesia.

    Salah satu korban terbesarnya adalah Grand Theft Auto (GTA) V. Meski saat ini masih mejeng di etalase Steam dan bisa dibeli, bayang-bayang pemblokiran resmi dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) semakin nyata jika status RC ini tidak dianulir. Nasib serupa juga dialami oleh game populer lainnya seperti Girls’ Frontline.

    Akar Masalah dari Otomatisasi Tanpa Kurasi

    Mengapa kekacauan ini bisa terjadi? Mengacu pada standar global klasifikasi game seperti Entertainment Software Rating Board (ESRB) di Amerika atau PEGI di Eropa, proses penentuan rating biasanya melibatkan evaluasi hibrida antara kuesioner dan panel peninjau manusia (human reviewers).

    Namun, analis industri menduga bahwa kekacauan IGRS di Steam saat ini murni akibat ketergantungan total pada sistem otomatis (bot) melalui Steam Content Survey. Tanpa adanya verifikasi manual dari kurator terkait, data input mandiri dari pengembang, atau kesalahan deteksi keyword oleh algoritma, langsung ditelan mentah-mentah menjadi hasil akhir. Inilah yang menyebabkan akurasi rating menjadi sangat menyesatkan.

    3. Jeritan Industri: Kembalikan Standar Global!

    Kritik keras tidak hanya datang dari pemain, tetapi juga pelaku industri. Kris Antoni, CEO Toge Productions, secara terbuka menyoroti ironi pedas ini: game edukatif dan berkualitas justru dicekal, sementara game dewasa melenggang bebas ke layar anak-anak.

    Banyak pihak mendesak Kementerian Komunikasi dan Digital untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh. Jika sistem IGRS ini tidak segera diselaraskan dengan standar internasional, kebijakan ini tidak hanya akan merugikan konsumen yang kehilangan akses, tetapi juga akan memukul telak kemajuan ekosistem developer lokal.

    Industri game yang sehat membutuhkan pengawasan dari media independen. Menghadirkan investigasi mendalam, analisis esports, dan kritik kebijakan publik seperti isu IGRS ini memerlukan dukungan kuat dari komunitas pembaca, agar pelaporan tetap tajam, berimbang, dan tidak disetir oleh kepentingan korporat semata. (*)


    Komentar
    Additional JS