Indonesia bidik konversi 120 juta motor ke listrik dalam 4 tahun, tantangan membayangi - CNA
Indonesia bidik konversi 120 juta motor ke listrik dalam 4 tahun, tantangan membayangi
Iklan
Program Presiden Prabowo Subianto menjanjikan penghematan jangka panjang pada impor dan subsidi bahan bakar. Namun para analis mengatakan, keterbatasan infrastruktur serta rendahnya kepercayaan konsumen dinilai bisa menghambat realisasinya.
JAKARTA: Mengendarai motor di jalanan Jakarta saat jam sibuk jadi pengalaman yang menyiksa pancaindra: deru suara mesin memekakkan telinga dari segala arah, sementara asap tebal dengan bau menyengat memenuhi udara.
Di persimpangan yang padat merayap, motor kerap berhimpitan begitu rapat hingga kulit pengendara bisa terbakar jika tersenggot knalpot panas.
Namun, Presiden Prabowo Subianto memiliki visi untuk mengakhiri kesemrawutan yang terjadi setiap hari itu. Sepeda motor berbahan bakar bensin—yang menjadi moda transportasi utama di Indonesia—direncanakan dikonversi menjadi kendaraan listrik sebagai bagian dari dorongan besar menuju kemandirian energi.
"Semua motor kita akan kita konversi menjadi motor listrik. Semua mobil," ujar Prabowo dalam video yang diunggah di kanal YouTube-nya pada 25 Maret. Ia menambahkan, kendaraan lain seperti mobil, truk, hingga traktor juga harus beralih menggunakan tenaga listrik.
"Jadi, nanti orang kaya yang punya Lamborghini, Ferrari, silakan pakai bensin, bayar aja harga dunia."
Pernyataan itu muncul di tengah gejolak global akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang mendorong harga minyak dunia melonjak antara 50 persen hingga 100 persen dibandingkan sebelum konflik.
Lonjakan harga tersebut mendorong Prabowo membentuk satuan tugas pemerintah untuk transisi energi pada 5 Maret, dengan tujuan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar serta mencapai swasembada energi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ditunjuk memimpin satgas tersebut.
“Percepatan konversi kit dari kendaraan bermotor kita yang 120 juta motor yang memakai bensin. Kita akan mencoba bertahap untuk melakukan konversi ke motor listrik,” kata Bahlil.
“Bapak Presiden telah menyampaikan bahwa maksimal 3–4 tahun, bahkan kalau bisa lebih cepat lagi.”

Menurut Kementerian ESDM, Indonesia mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari. Sekitar 20 hingga 25 persen di antaranya melewati Selat Hormuz yang ditutup sejak konflik pecah pada akhir Februari.
"Negara yang sebesar kita, kalau masih mau merdeka, kalau masih mau survive, bertahan hidup, mau tidak mau kita harus mandiri. Dan energi adalah salah satu bidang yang sangat menentukan," kata Prabowo pada 9 April lalu.
"Salah satu langkah adalah akan menggunakan listrik, elektrifikasi, memakai listrik untuk tidak lagi memakai terlalu banyak BBM dari fosil, dari karbon."
Presiden mengatakan, pemerintah berencana membangun pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt serta menghentikan operasional 13 pembangkit listrik berbahan bakar diesel dalam dua tahun ke depan. Langkah ini diklaim dapat memangkas impor BBM hingga 200 ribu barel per hari.
Namun, target utamanya adalah menghentikan impor bahan bakar sepenuhnya. Untuk itu, Indonesia menargetkan konversi 120 juta sepeda motor berbahan bakar fosil menjadi motor listrik dalam kurun tiga hingga empat tahun.
Pemerintah juga tengah menyiapkan kerangka regulasi yang ke depan mewajibkan seluruh sepeda motor yang dijual di Indonesia berbasis listrik, sehingga pemilik motor konvensional akan terdorong untuk melakukan konversi.
Para ahli menilai target dan tenggat konversi tersebut sangat ambisius, mengingat berbagai tantangan teknis yang harus diatasi sebelum program bisa dijalankan dalam skala besar.
“Jumlah bengkel resmi tidak lebih dari 50, dan itu pun terkonsentrasi di Jabodetabek,” ujar Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) yang berbasis di Jakarta.
Sementara itu, adopsi kendaraan listrik di Indonesia masih relatif rendah. Data Kementerian Perhubungan menunjukkan, dari sekitar 20 juta mobil, baru 123 ribu yang merupakan kendaraan listrik. Adapun dari 139 juta sepeda motor, baru sekitar 236 ribu yang berbasis listrik.
“Masih banyak yang meragukan kepraktisan dan keandalan kendaraan listrik. Bahkan dengan adanya subsidi pemerintah, tidak semua orang bersedia mengonversi motornya,” ujar Fahmy Radhi, ekonom dari Universitas Gadjah Mada.
“Ini pada akhirnya soal mengubah pola pikir dan perilaku konsumen, bukan semata persoalan teknis.”
PELAJARAN DARI PROGRAM SEBELUMNYA
Pendahulu Prabowo, Joko Widodo, juga sempat menggulirkan program serupa pada 2023 dan 2024, dengan menawarkan subsidi antara Rp7 juta hingga Rp10 juta untuk paket konversi, mencakup baterai, motor listrik, dan komponen lain.
Tanpa subsidi, biaya konversi umumnya berkisar Rp15 juta hingga Rp17 juta.
Sepeda motor dipilih karena biaya elektrifikasinya jauh lebih rendah dibandingkan mobil, yang bisa mencapai Rp100 juta hingga Rp150 juta.
Namun, program konversi motor tersebut tidak berhasil menarik minat luas.
Kementerian ESDM semula menargetkan 50.000 unit konversi pada 2023 dan 150.000 unit pada 2024. Kenyataannya, hanya 145 unit yang terealisasi pada 2023 dan 1.615 unit pada 2024, mengutip pernyataan pejabat kementerian yang dilaporkan CNN Indonesia pada Desember 2024.
Bebin Djuana, mantan eksekutif otomotif sekaligus penulis tentang industri mobil Indonesia, menilai ada pelajaran penting dari upaya sebelumnya.
“Banyak faktor pendukung yang belum siap,” ujarnya.
“Setiap model kendaraan berbeda—tidak bisa satu skema konversi untuk semua. Model menentukan jenis motor, baterai, hingga penempatannya. Kita butuh tenaga terlatih untuk konversi, tapi pelatihannya di mana?”
Ketersediaan tenaga terampil masih terbatas. Hingga akhir 2024, baru 39 bengkel yang tersertifikasi untuk ikut program konversi pemerintah—dan sebagian besar merupakan usaha skala kecil.
“Kalau satu bengkel bisa menangani sekitar 1.000 unit per tahun, maka dibutuhkan sekitar 20.000 bengkel konversi di seluruh Indonesia untuk mencapai target 20–30 juta konversi per tahun yang dicanangkan pemerintah Prabowo,” kata Fabby dari IESR.

Namun, tantangan terbesar tampaknya tetap pada kepercayaan konsumen.
“Minat ada karena bisa menghemat bahan bakar. Tapi konsumen tidak hanya memikirkan efisiensi, mereka juga mempertimbangkan keandalan,” ujar Putra Adhiguna, Direktur Eksekutif Energy Shift Institute.
Di luar pemain mapan seperti Honda dari Jepang dan Viar dari Indonesia, pasar motor listrik masih didominasi pendatang baru seperti Gesits dan Smoot, yang sama-sama meluncurkan model pertamanya pada 2021.
Ada pula Polytron, merek elektronik asal Indonesia yang masuk ke pasar motor pada 2018 dan merilis model pertamanya tiga tahun kemudian.
“Kepercayaan publik saja belum sepenuhnya terbentuk, bahkan untuk motor listrik pabrikan. Bisa dibayangkan bagaimana tingkat kepercayaan terhadap motor hasil konversi yang menggunakan kit dari perusahaan kurang dikenal dan dikerjakan bengkel kecil,” kata Putra.
Proses konversi sendiri mencakup pelepasan tangki bahan bakar dan mesin, lalu menggantinya dengan paket baterai serta motor listrik.
Menurut berbagai laporan, tim mekanik berpengalaman dapat menyelesaikan konversi satu unit motor dalam waktu sekitar 45 menit hingga dua jam.
Saat ini, sejumlah perusahaan lokal seperti Bintang Racing Team, Elders Garage, dan Spora EV menawarkan paket konversi sendiri dengan motor buatan internal serta baterai dari China atau Korea Selatan.
Namun, sebagian besar bengkel masih menggunakan motor listrik pihak ketiga dari berbagai produsen kecil di Amerika Serikat dan China.
MENYUSUN PETA JALAN BARU
Satuan tugas yang baru dibentuk kini tengah menyusun peta jalan untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik, dengan sejumlah perbedaan dibanding upaya sebelumnya.
Bahlil mengatakan, pemerintah akan menggulirkan subsidi dan berbagai insentif untuk mendorong partisipasi masyarakat. Ia juga menyebut biaya yang harus ditanggung pemilik motor kemungkinan lebih murah dibanding skema 2023–2024.
“Sekarang teknologinya sudah lebih murah, jadi biayanya mungkin sekitar Rp5 juta sampai Rp6 juta (untuk konversi). Semakin ke sini makin terjangkau,” ujar Bahlil pada 5 Maret.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, pemerintah tengah menyiapkan kerangka regulasi yang berpotensi menghapus bertahap sepeda motor berbahan bakar fosil, termasuk mewajibkan seluruh motor yang dijual di Indonesia berbasis listrik.
“Pemerintah sedang menyiapkan regulasi yang mewajibkan produsen motor listrik di dalam negeri meningkatkan kapasitas produksi, karena kita menargetkan seluruh motor yang dijual di Indonesia adalah motor listrik,” ujarnya pada 9 April, seperti dikutip Jakarta Globe.
“Produksi kendaraan konvensional tidak harus dihentikan, tetapi akan diarahkan untuk pasar ekspor seperti Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Selatan.”
Pemerintah belum mengungkap besaran anggaran yang akan dialokasikan untuk program konversi listrik ini.
Namun, jika subsidi yang diberikan mencapai Rp10 juta per unit, total biaya program bisa menembus Rp1.200 triliun.
Para ahli menilai masih belum jelas apakah biaya sebesar itu sebanding dengan manfaatnya.
Pada 2025, Indonesia menggelontorkan Rp26,7 triliun untuk subsidi bahan bakar. Di sisi lain, subsidi listrik untuk sekitar 40 juta rumah tangga mencapai Rp90,2 triliun pada tahun lalu.
Dari sisi lingkungan, manfaatnya juga belum sepenuhnya pasti.
Data Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan pembakaran bahan bakar fosil di Indonesia menghasilkan 659 juta ton emisi karbon dioksida pada 2023. Sekitar 50 persen berasal dari sektor pembangkitan listrik, sementara sektor transportasi menyumbang sekitar 22 persen.
“Kendaraan listrik memang tidak menghasilkan emisi, tetapi 56 persen listrik di Indonesia masih berasal dari batu bara,” kata Fahmy dari Universitas Gadjah Mada.
MULAI DARI SKALA KECIL
Meski para analis menilai program ini sebagai langkah ke arah yang tepat, mereka menekankan bahwa skala dan tenggat waktunya perlu realistis.
“Konversi adalah program jangka panjang. Tidak bisa langsung dijalankan tanpa hambatan,” ujar Fahmy.
“Program seperti ini juga tidak cocok untuk menjawab masalah jangka pendek seperti kenaikan harga bahan bakar.”
Para ahli menyarankan Indonesia menempuh pendekatan bertahap, dimulai dari segmen tertentu seperti pengemudi kurir dan ojek daring.
“Lebih baik dimulai dari beberapa kota besar dulu, daripada langsung diterapkan secara nasional,” kata Putra dari Energy Shift Institute. “Semakin luas cakupannya, semakin banyak persoalan yang muncul.”
Pendekatan bertahap juga memberi waktu bagi bengkel konversi untuk merekrut dan melatih tenaga kerja, meningkatkan kapasitas, serta memperluas operasi.
Di saat yang sama, pemerintah perlu memastikan ketersediaan sumber listrik yang lebih bersih serta memperluas infrastruktur pengisian daya dan penukaran baterai.
Saat ini, stasiun pengisian kendaraan listrik masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan.
Pakar energi terbarukan dari Universitas Indonesia, Iwa Garniwa, menilai pemerintah juga bisa memprioritaskan motor lama yang cenderung menghasilkan emisi lebih tinggi.
“Jangan fokus pada angka dulu. Fokus pada semangat programnya dan tentukan segmen mana yang harus diprioritaskan,” ujarnya.
Iwa menambahkan, kenaikan harga bahan bakar mulai mendorong masyarakat mempertimbangkan beralih ke kendaraan listrik, yang pada gilirannya dapat menarik lebih banyak pelaku usaha untuk terlibat.
“Minat masyarakat mulai tumbuh, dan pemerintah perlu memanfaatkannya dengan memastikan proses transisi berjalan semulus mungkin,” katanya.
“Ini peluang nyata untuk menekan subsidi bahan bakar sekaligus menurunkan emisi karbon.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.
Source: CNA/da(ar)
