Intel Israel Gunakan Platform AI untuk Membunuh 250 Pejabat Senior Iran (- beritajatim

Jakarta (beritajatim.com) – Israel dilaporkan menggunakan platform kecerdasan buatan (AI) rahasia yang dikombinasikan dengan operasi siber untuk memburu para pemimpin Iran.
Investigasi The Washington Post mengungkap, lebih dari 250 pejabat senior Iran telah tewas sejak konflik pecah pada 28 Februari.
Laporan yang dipublikasikan pada Minggu itu menyebutkan, operasi ini merupakan bagian dari sistem intelijen canggih yang telah dibangun selama puluhan tahun dan kini diperkuat oleh teknologi AI serta pengawasan digital skala besar.
AI Jadi Senjata Utama Intelijen
Platform AI tersebut bekerja dengan menganalisis data dalam jumlah besar yang diperoleh dari berbagai sumber, mulai dari jaringan manusia hingga hasil peretasan ribuan perangkat di Iran. Target yang diretas mencakup kamera jalanan, jaringan telepon, hingga sistem pembayaran digital. Pejabat Israel menyebut sistem ini sebagai terobosan besar dalam dunia intelijen modern.
“Platform ini mampu memetakan pola perilaku dan bahkan memprediksi pergerakan target secara akurat,” tulis laporan tersebut.
Kemampuan ini memungkinkan militer Israel melakukan penyesuaian serangan secara real-time. Bahkan, rudal disebut dapat dialihkan saat masih di udara mengikuti pergerakan target.
Serangan awal pada 28 Februari menjadi titik balik operasi ini. Dalam serangan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas bersama sejumlah pejabat tinggi militer dan pemerintahan di Teheran.
Unit 8200 Retas “Sistem Saraf Digital” Iran
Operasi siber ini dipimpin oleh Unit 8200, divisi intelijen elite Israel yang bertanggung jawab atas perang siber. Mereka diklaim berhasil menembus apa yang disebut sebagai “sistem saraf digital” Iran.
“Semua yang bisa diretas, kami coba retas,” kata seorang pejabat militer Israel.
Investigasi Associated Press menemukan hampir seluruh kamera lalu lintas di Teheran telah diretas selama bertahun-tahun. Data dari perangkat tersebut dikirim secara terenkripsi ke server Israel.
Sementara itu, laporan Financial Times menyebut setidaknya satu kamera memberikan akses langsung ke area dekat kompleks kepemimpinan Iran. Hal ini memungkinkan penyusunan profil rinci terkait rutinitas pejabat dan pengawal mereka.
Kebijakan Iran Justru Jadi Celah
Ironisnya, kebijakan pengawasan domestik Iran disebut turut membuka celah bagi penetrasi siber Israel. Sistem kontrol internet terpusat yang dibuat untuk memantau masyarakat justru menciptakan titik lemah yang mudah disusupi.
Seorang mantan pejabat intelijen Barat mengatakan:
“Penetrasi tersembunyi memberikan titik pengamatan yang sangat kuat.”
Upaya Iran membatasi penggunaan ponsel di lingkungan militer juga dinilai tidak efektif.
“Bahkan jika ponsel dilarang saat jam kerja, penggunaannya kembali terjadi setelahnya,” ujar seorang sumber.
Risiko Eskalasi dan Perubahan Pola Perang
Kecepatan dan efektivitas operasi ini memicu kekhawatiran di kalangan analis global. Mereka menilai penggunaan AI dalam pembunuhan terarah dapat mengubah lanskap konflik modern.
Praktik yang sebelumnya terbatas kini berpotensi menjadi strategi permanen dalam peperangan.
Selain itu, meningkatnya serangan siber berbasis AI juga menjadi ancaman baru. Dalam enam bulan terakhir, pelanggaran siber dilaporkan melonjak hingga 340 persen, seiring meningkatnya keterlibatan negara dan kelompok peretas dalam konflik Iran. (ted)