0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Berita Featured Kecerdasan Buatan Spesial

    Ramalan 2028: AI Makin Pintar, Krisis dan Pengangguran Meningkat - Kompas

    8 min read

     

    Ramalan 2028: AI Makin Pintar, Krisis dan Pengangguran Meningkat



    KOMPAS.com - Perkembangan teknologi Artificial Intelligence tak selalu berujung indah. Bahkan, tak jauh dari sekarang, AI membuat dunia suram pada 2028, terjadi krisis ekonomi, lapangan kerja sulit, dan pengangguran meningkat.

    Ramalan krisis 2028 akibat AI itu bukan khayalan belaka. Ini merupakan eksperimen yang disusun oleh firma riset investasi Citrini Research bersama analis Alap Shah dalam laporan bertajuk "The 2028 Global Intelligence Crisis”.

    Baca juga: Eks Google: Dokter dan Pengacara Muda Wajib Waspada, Kerjaan Rentan Diganti AI

    Laporan itu berisi memo makro ekonomi fiktif yang seolah-olah ditulis pada 30 Juni 2028. Isinya menggambarkan situasi AI benar-benar menjadi sangat pintar, bikin produktivitas melonjak, perusahaan makin efisien, tapi justru ekonomi manusia runtuh pada 2028.

    Sejak awal, Citrini Research mengatakan bahwa laporannya bukan prediksi pasti, apalagi narasi kiamat yang dilebih-lebihkan.

    AS Sita Tanker Lagi, Iran: Kami Sudah Perbaharui Target Baru Jika Perang Lagi!

    Laporan mereka adalah eksperimen pemikiran, sebuah simulasi risiko ekstrem jika AI benar-benar melampaui ekspektasi dan menggantikan manusia terlalu cepat sebelum sistem ekonomi sempat beradaptasi.

    Baca juga: Studi Ungkap Kenapa Nokia Bangkrut

    Lalu, bagaimana bisa kesuksesan AI justru menjadi bumerang yang menghancurkan ekonomi dunia? Berikut anatomi krisisnya, seperti dirangkum KompasTekno dari laman Citrini Research.

    Pesta pora Wall Street dan munculnya "PDB Hantu"

    Semuanya bermula dari sebuah masa keemasan yang penuh dengan euforia buta. Pada 2026, ekonomi dunia tampak berada di puncak kejayaannya berkat AI yang makin canggih dan efisien.

    Sentimen positif terhadap AI membuat saham terus naik dalam jangka waktu lama, dan sektor teknologi menjadi pendorong utamanya. Suasana optimistisnya sangat terasa sekali. Investor sangat antusias, pasar penuh kepercayaan diri.

    Baca juga: Perusahaan Bimbel Online Bangkrut gara-gara ChatGPT

    Per Oktober 2026, pasar saham Amerika Serikat berpesta pora. Indeks saham Amerika Serikat melesat ke level yang sebelumnya sulit dibayangkan.

    Indeks 500 perusahaan besar di AS, S&P 500 mendekati 8.000. Sementara indeks Nasdaq melenggang santai menembus angka psikologis 30.000.

    Di saat yang sama, gelombang pertama pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai terjadi pada awal 2026.

    Baca juga: Mengapa CEO Google Cemas dengan Tahun 2025?

    Banyak perusahaan mengurangi tenaga kerja karena sebagian fungsi dinilai bisa digantikan sistem AI dan otomatisasi. Istilah yang beredar waktu itu terdengar dingin, yakni human obsolescence di mana manusia dianggap makin usang dalam beberapa lini pekerjaan.

    Peran para pekerja kantoran mulai digantikan secara masif oleh agen AI yang kelewat efisien.

    Bagi para pemegang saham, fenomena ini adalah sebuah anugerah tak ternilai. Logika bisnis berjalan sempurna di atas kertas. PHK massal berarti pemangkasan biaya operasional secara radikal.

    Baca juga: Wajib Tonton, Video Jensen Huang 14 Tahun Lalu soal "Blueprint" Nvidia di Era AI

    Hasilnya? Margin keuntungan perusahaan melebar sangat pesat, laporan pendapatan terus melampaui ekspektasi, dan harga saham terbang ke langit.

    Namun, triliunan dollar keuntungan cetak rekor ini tidak digunakan untuk membuka lapangan kerja baru bagi manusia.

    Dana raksasa tersebut justru diputar kembali dan disuntikkan habis-habisan untuk membeli lebih banyak komputasi AI, lebih banyak GPU, lebih banyak infrastruktur pusat data (data center).

    Baca juga: Komputer Nvidia Tak Laku, Dibeli Elon Musk dan Revolusi AI Dimulai

    Siklus ini menciptakan ilusi bahwa ekonomi sedang berlari lebih kencang, padahal fondasi dasarnya (konsumsi manusia secara riil) mulai keropos.

    Di atas kertas, angka Produk Domestik Bruto (PDB) nominal memang tumbuh pesat.

    Perusahaan berbasis AI melihat kekayaan mereka meledak ketika biaya tenaga kerja menghilang. Di sisi lain produktivitas melonjak. Output riil per jam naik pada tingkat yang belum terlihat sejak 1950-an.

    Baca juga: Resep Sukses Nvidia Mendominasi Industri AI, Modal Nekat

    Ini semua ditopang oleh agen AI tidak pernah tidur, tidak butuh cuti, tidak sakit, dan tidak menuntut asuransi kesehatan.

    Namun, di balik situasi yang "too good to be true" ini, ada satu celah fundamental yang terabaikan. Mesin tidak belanja. AI tidak akan belanja untuk kebutuhan esensial apalagi konsumsi diskresioner.

    Kebutuhan esensial atau pokok sendiri mencakup seperti beras, listrik, air, biaya sekolah.

    Baca juga: Mengapa China Tak Terobsesi Bikin AI Paling Pintar?

    Sementara konsumsi diskresioner adalah adalah pengeluaran untuk kebutuhan yang tidak wajib atau tidak mendesak, berbeda dengan kebutuhan pokok. Contohnya liburan, nonton konser, beli smartphone padahal yang lama masih berfungsi, makan di restoran mahal, hingga beli barang (tas, baju, jam tangan) mewah.

    Fakta pahit sebenarnya 70 persen penyokong ekonomi adalah konsumsi manusia. Ketika sebuah kluster GPU di pusat data mampu menghasilkan output setara 10.000 pekerja kantoran, itu bukanlah obat mujarab bagi ekonomi, melainkan sebuah pandemi.

    Pada momen ini, pengamat ekonomi mulai mempopulerkan istilah "Ghost GDP" atau PDB Hantu. Ini adalah fenomena di mana output produksi tercatat tinggi dalam neraca nasional, tetapi uangnya tidak pernah berputar di ekonomi riil.

    Komentar
    Additional JS