Rudal Iran Hantam Pusat Data Amazon dan Oracle, Menyusul Google dan YouTube - Fajar
FAJAR.CO.ID -- Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan telah melakukan serangan yang menargetkan infrastruktur informasi perusahaan teknologi Amerika Serikat. Dua perusahaan itu yakni pusat data servis komputasi awan Amazon Web Services (AWS) di Bahrain dan dan basis data Oracle di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).
IRGC menegaskan serangan ini adalah pembalasan langsung atas serangan AS dan Israel terhadap rumah mantan Menteri Luar Negeri Iran Kamal Kharrazi di Teheran pada 1 April. Serangan sekutu menewaskan istri Kamal Kharrazi dan melukai dirinya sendiri secara serius.
Serangan pada 1 Maret 2026 telah membuka babak baru dalam konflik global, di mana infrastruktur digital yang menopang bisnis teknologi besar kini menjadi sasaran militer.
Iran mengklaim pusat data Amazon di Bahrain hancur total dalam serangan itu. Mereka menekankan bahwa Iran sebelumnya telah memperingatkan akan menargetkan perusahaan teknologi Amerika jika aksi militer terhadap kepemimpinan Iran tidak berhenti.
Serangan ini tidak hanya mengganggu layanan cloud atau komputasi awan dan sektor perbankan, tetapi juga menandai ancaman serius terhadap fondasi dominasi kecerdasan buatan (AI) Amerika Serikat di kawasan Teluk Arab.
Perwakilan dari Komando Angkatan Laut IRGC menyatakan bahwa mereka akan terus memperluas serangan jika upaya pembunuhan terhadap para pemimpin Iran tidak berhenti.
Selain pusat data, militer Iran mengatakan serangan itu juga menargetkan pabrik baja AS di Abu Dhabi, pabrik aluminium di Bahrain, dan fasilitas manufaktur senjata Rafael Israel sebagai balasan atas serangan sebelumnya terhadap industri baja Iran.
Namun, pihak berwenang Dubai dengan cepat membantah laporan kerugian yang dialami Oracle.
Dalam pernyataan resmi di media sosial pada 3 April, Kantor Komunikasi Dubai menegaskan bahwa laporan yang beredar tersebut "direkayasa dan tidak benar."
Peran AI dalam Operasi Militer Modern
Menurut laporan The Conversation pada 2 April 2026, serangan ini merupakan kali pertama sebuah negara secara sengaja melancarkan serangan fisik terhadap pusat data komersial dalam konteks perang.
Sebelumnya, pusat data hanya menjadi target spionase atau serangan siber, namun kini drone Iran merusak bangunan secara langsung.
"Ini adalah pertama kalinya sebuah negara secara sengaja menargetkan pusat data komersial dalam masa perang," jelas penulis riset tersebut.
Ia menambahkan, "serangan ini memaksa negara-negara menyadari bahwa pusat data kini menjadi target perang, meskipun tidak langsung mendukung operasi militer."
Perubahan ini terkait erat dengan peran AI dalam operasi militer modern. Amerika Serikat sangat bergantung pada sistem berbasis AI untuk analisis intelijen dan dukungan operasional.
Karena komputasi dilakukan di server jarak jauh milik AWS, pusat data menjadi jantung dari "cloud" yang menopang AI militer AS.
"Mengingat betapa pentingnya pusat data, pasukan Iran kemungkinan menargetkan infrastruktur yang diyakini mendukung serangan terhadap Iran," kata analis tersebut.
Namun, keterkaitan langsung antara pusat data yang diserang dan operasi militer AS belum terbukti dan serangan ini juga dapat dibaca sebagai tekanan geopolitik terhadap Uni Emirat Arab yang memiliki hubungan erat dengan Washington.
Serangan ini berdampak luas, mengganggu layanan cloud, sistem keuangan regional, serta aplikasi digital di kawasan tersebut. Ketika fasilitas AWS terganggu, implikasi ekonomi dan sosial langsung terasa, selain dampak militer.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara terbuka memperluas sasaran serangan teknologi mereka.
Dalam pernyataan resmi, IRGC menegaskan bahwa perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Apple, Google, Meta, Nvidia, dan Cisco kini dianggap sebagai "target sah dalam operasi militer." Mereka bahkan meminta karyawan perusahaan-perusahaan tersebut untuk meninggalkan kantor dan fasilitas demi keselamatan.
Kelemahan dan Implikasi Strategis
Faktor kerentanan pusat data komersial juga menjadi alasan serangan ini terjadi. Karena relatif minim pertahanan udara, fasilitas tersebut menjadi target yang mudah diakses. Dengan demikian, serangan mungkin lebih didorong oleh kemudahan akses daripada nilai strategis semata.
Pada akhirnya, serangan ini tidak mengubah hakikat perang secara fundamental, tetapi menggeser batasnya. Ketika AI menjadi tulang punggung ekonomi dan militer, pusat data yang selama ini dianggap infrastruktur sipil berubah menjadi titik kritis dalam konflik global.
Bagi Amerika Serikat, taruhan di kawasan Teluk Arab kini melibatkan bukan hanya energi, tetapi juga masa depan dominasi teknologi. (*)