Seorang Pengusaha Ciptakan Anti-Grammarly, AI Sengaja Typo Agar Terlihat Manusiawi - Media Indonesia
Seorang Pengusaha Ciptakan Anti-Grammarly, AI Sengaja Typo Agar Terlihat Manusiawi
BEBERAPA tahun lalu, mengirim email dengan tata bahasa dan ejaan yang sempurna adalah simbol profesionalisme, kecerdasan, dan ketelitian. Namun, di era kecerdasan buatan (AI) saat ini, tulisan yang terlalu rapi dan dipoles justru sering kali menimbulkan kecurigaan.
Banyak atasan dan guru mulai merasa bahwa teks yang sempurna adalah tanda seseorang sedang "malas" dan menggunakan bantuan ChatGPT atau alat AI lainnya.
Merespons fenomena ini, seorang pengusaha bernama Ben Horwitz menciptakan sebuah terobosan unik, sebuah plugin browser bernama "Sinceerly". Alih-alih memperbaiki kesalahan, alat ini justru secara sengaja menambahkan salah ketik (typo) ke dalam email buatan AI agar terlihat lebih manusiawi.
Horwitz bahkan menyebut karyanya sebagai kebalikan dari alat pemeriksa ejaan populer. "Saya membuat anti-Grammarly. Kacaukan email Anda dengan AI," guraunya dalam unggahan di sosial media X pribadinya.
Horwitz, yang membuat alat ini menggunakan AI Claude, terinspirasi dari pengalamannya sendiri sebagai pengetik yang buruk dan penyandang disleksia ringan. Ia merasa bahwa di tengah kepungan "sampah AI" (AI slop) yang memenuhi kotak masuk, sentuhan ketidakteraturan manusia menjadi sangat berharga.
Uniknya, Sinceerly menawarkan tiga tingkatan kekacauan yang bisa dipilih pengguna:
- Subtle: Menghapus kata-kata pengisi dan menggunakan singkatan untuk membuat teks lebih ringkas. Biasanya menyisipkan satu kesalahan ketik di kalimat pertama.
- Human: Memberikan nada bicara yang lebih santai dan percakapan, dengan frekuensi kesalahan yang sedikit lebih banyak.
- CEO: Mode yang paling ekstrem. Teks akan berubah menjadi huruf kecil semua (all-lowercase), sangat singkat, dan terkadang ditambahkan keterangan otomatis "dikirim dari iPhone saya" untuk memberikan kesan kesibukan dan kekuasaan sang pengirim.
Horwitz sempat menguji efektivitas metode ini dengan mengirimkan email kepada lima CEO perusahaan Fortune 500. Hasilnya mengejutkan; empat di antaranya membalas, dan semua balasan tersebut sangat singkat di bawah sepuluh kata, bahkan dua di antaranya mengandung salah ketik.
"Saya adalah pengetik yang buruk secara alami, dan sedikit disleksia," kata Horwitz kepada Katie Notopoulos dari Business Insider.
"Dahulu butuh waktu sangat lama bagi saya di pekerjaan pertama setelah lulus kuliah untuk menulis email dan memastikan tidak ada salah ketik dan semuanya benar. Ketika Grammarly muncul, itu seperti, 'Oh, oke, ini cukup bagus untuk saya.' Tapi sekarang kotak masuk email saya penuh dengan sampah AI."
Fenomena ini menandai pergeseran norma dalam komunikasi digital. Tulisan yang "berantakan" kini mulai dianggap sebagai simbol status yang menunjukkan bahwa sebuah pesan benar-benar dibuat dengan tangan manusia, bukan hasil cetakan mesin.
Saat ini plugin tersebut dikabarkan masih mengalami beberapa kendala teknis setelah dipublikasikan.
Pada akhirnya, membiarkan jari-jari manusia yang "berantakan" berbicara mungkin adalah cara terbaik untuk menunjukkan kejujuran dalam berkomunikasi. (Nadhira Izzati A/E-4)