Setop Umbar Privasi Anak! Kenali Cyber Grooming yang Mengintai di Medsos - Republika
Setop Umbar Privasi Anak! Kenali Cyber Grooming yang Mengintai di Medsos
Dok. Freepik Ibu mengambil foto anaknya (ilustrasi). Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengingatkan orang tua untuk lebih selektif dan waspada ketika membagikan informasi anak di media sosial.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Media sosial kerap dimanfaatkan penggunanya sebagai album kenangan digital. Bagi orang tua, terkadang sulit menahan diri untuk tidak membagikan momen menggemaskan saat anak pertama kali bisa berjalan, memakai baju lucu, atau sekadar bertingkah konyol di depan kamera.
Fenomena ini dikenal dengan istilah sharenting yang merupakan gabungan dari kata sharing dan parenting. Namun, di balik setiap like dan komentar pujian yang masuk, tersimpan risiko yang jarang kita pikirkan secara mendalam.
Sponsored
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengingatkan orang tua untuk lebih selektif dan waspada. Ternyata, setiap jengkal informasi yang kita unggah bisa menjadi "peta" bagi para predator digital untuk melakukan aksi yang sangat berbahaya yaitu cyber grooming.
Pengguna medsos mungkin sering berpikir bahwa membagikan foto anak adalah hal yang wajar sebagai bentuk kasih sayang dan kebanggaan. Namun, bagi para pelaku kejahatan, foto-foto tersebut adalah data mentah yang sangat berharga.
Anggota KPAI, Kawiyan, menyampaikan betapa krusialnya peran orang tua sebagai penyaring informasi pertama di dunia maya. Menurut dia, peningkatan aktivitas anak di ruang digital harus dibarengi dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
Ruang digital yang tampak tanpa batas ini menyimpan ancaman yang berlangsung secara halus, rapi, dan sistematis. Kejahatan ini tidak selalu datang dalam bentuk peretasan yang kasar, melainkan melalui pendekatan emosional yang sangat manipulatif.
"Pentingnya peran strategis orang tua dalam pencegahan kekerasan berbasis daring terhadap anak, khususnya cyber grooming, yang kian meningkat seiring pesatnya aktivitas anak di ruang digital. Orang tua perlu berpikir ulang dan selektif dalam melakukan sharenting," ujarnya pada Kamis (23/4/2026).
Halaman 2 / 3
Istilah cyber grooming mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang, namun dampaknya bisa menghancurkan masa depan seorang anak. Ini adalah proses di mana seorang pelaku membangun hubungan emosional dan kepercayaan dengan anak secara bertahap melalui internet. Tujuannya sangat mengerikan, mulai dari eksploitasi seksual hingga bentuk-bentuk kekerasan lainnya.
Pelaku tidak langsung menunjukkan niat jahatnya. Mereka bisa berpura-pura menjadi teman sebaya, mentor, atau sosok yang sangat mengerti perasaan si anak. Tanpa disadari, praktik sharenting yang berlebihan, seperti menyebutkan lokasi sekolah anak, jadwal kursus, hingga hobi mereka, memberikan akses bagi pelaku untuk mengenali dan memetakan target mereka dengan sangat mudah.
"Karena berlangsung secara halus dan sering tidak disadari, cyber grooming sulit dikenali sejak awal, baik oleh anak sebagai korban maupun orang tua," kata Kawiyan.
Inilah yang membuat cyber grooming menjadi ancaman yang sangat serius bagi kesehatan mental dan keselamatan fisik anak. Tantangan terbesar yang dihadapi keluarga Indonesia saat ini adalah rendahnya literasi digital. Banyak dari kita yang mahir menggunakan gawai, tetapi kurang paham mengenai fitur keamanan dan privasi.
Halaman 3 / 3
KPAI melihat pengawasan terhadap penggunaan gawai pada anak sering kali masih lemah. Komunikasi antara orang tua dengan anak mengenai dunia digital juga masih sangat minim. Anak-anak dibiarkan berselancar di media sosial tanpa pendampingan, sementara orang tua sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Pencegahan kejahatan digital ini dinilai tidak bisa hanya mengandalkan polisi atau penegak hukum. Benteng pertahanan pertama dan utama ada di rumah.
Literasi digital bukan hanya tentang tahu cara memblokir akun orang asing, tapi juga tentang memahami bahwa privasi anak adalah hak yang harus dihormati dan dilindungi oleh orang tuanya sendiri. "Orang tua adalah benteng pertama perlindungan anak di ruang digital. Literasi digital dan kesadaran akan risiko sharenting menjadi sangat penting agar anak tidak terekspos secara berlebihan di ruang publik digital," ujar Kawiyan.
sumber : Antara
Berita Terkait
Daycare Little Aresha di Yogya Siksa Anak yang Dititipkan, Foto Bayi Diikat Viral
Kabar Jogja - 25 April 2026, 22:12
Setelah Satu Tahun Tembak Mati Gamma, Robig Zaenudin Baru Dipecat Sebagai Polisi
Jateng - 24 April 2026, 23:25
Robig Zaenudin, Mantan Polisi Pembunuh Gamma Positif Pakai Narkoba dalam Lapas
Jateng - 24 April 2026, 19:49
Kontrol Peredaran Narkoba dari Lapas, Robig Zaenudin Pembunuh Gamma Rizky Dipindah ke Nusakambangan
Jateng - 24 April 2026, 13:55
Bank bjb Ajak Kartini Masa Kini Melek Digital Lewat Bincang Bisnis dan Bazaar UMKM
Finansial - 24 April 2026, 10:32