Tanpa Bantuan Hacker Manusia, AI Mampu Bobol OS Super Aman - Kompas
KOMPAS.com - Skenario terburuk di dunia keamanan siber kini tampaknya bukan lagi sekadar imajinasi atau bahan film fiksi ilmiah.
Untuk pertama kalinya, sebuah agen kecerdasan buatan (AI) dilaporkan mampu meretas salah satu sistem operasi yang selama ini dikenal sangat aman, yaitu FreeBSD, tanpa campur tangan manusia.
Temuan ini diungkapkan oleh pakar teknologi siber Amir Husain dalam laporan analisis yang dimuat Forbes.
Peristiwa tersebut menjadi alarm keras bahwa kemampuan AI kini telah berkembang jauh melampaui peran awalnya sebagai alat bantu. AI mulai menunjukkan kapasitas sebagai pelaku utama dalam operasi serangan siber yang kompleks terhadap sistem produksi nyata.
Baca juga: 5 Tanda Akun Google Dibobol Hacker, Segera Cek!
AI disebut temukan celah kritis di FreeBSD
Dalam laporannya, Husain menjelaskan bahwa model AI berbasis Claude buatan Anthropic berhasil menemukan celah keamanan kritis pada kernel FreeBSD, yakni CVE-2026-4747. Yang membuat banyak pihak khawatir bukan hanya keberhasilannya, tetapi juga kecepatannya.
Jika eksploitasi kernel jarak jauh biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu oleh tim peretas elite, agen AI ini disebut mampu menyelesaikannya hanya dalam 4 hingga 8 jam.
AI tersebut juga tidak sekadar menjalankan pola serangan sederhana. Ia dilaporkan mampu merancang sendiri rantai serangan Remote Code Execution (RCE) hingga akhirnya memperoleh akses root shell, yakni tingkat akses tertinggi yang memungkinkan pengambilalihan penuh terhadap sistem server.
Baca juga: Riset Microsoft Ungkap 40 Pekerjaan yang Paling Rentan Digantikan AI
Bukan sekadar menyalin kode dari internet
Kemampuan ini menunjukkan bahwa AI bukan hanya menyalin kode eksploitasi yang sudah beredar di internet.
Sepanjang proses peretasan, agen tersebut disebut mampu membangun lingkungan pengujian sendiri melalui emulator QEMU, menyusun rantai instruksi memori kompleks atau ROP chain, serta melakukan debugging secara mandiri ketika eksploitasi sempat gagal.
Bagi kalangan keamanan siber, momen ini dinilai sebagai titik balik penting. AI yang sebelumnya lebih sering dipakai sebagai pendukung riset keamanan kini mulai masuk ke fase baru, yakni menjadi aktor otonom yang sanggup menjalankan operasi ofensif tingkat tinggi.
Baca juga: Hacker China Disebut Pakai AI untuk Melakukan Peretasan Otomatis Sekali Klik
Dinilai ubah lanskap keamanan siber
Keberhasilan AI membobol FreeBSD juga memperlihatkan perubahan besar dalam lanskap keamanan siber global.
Sebagai sistem operasi open-source yang dikenal stabil, kuat, dan banyak dipakai dalam infrastruktur internet, FreeBSD selama ini dianggap memiliki tingkat ketahanan tinggi.
Karena itu, keberhasilan eksploitasi ini menjadi sinyal bahwa biaya dan hambatan untuk melancarkan serangan siber canggih bisa turun drastis ketika AI mengambil alih sebagian besar proses teknisnya.
Situasi ini mendorong perusahaan teknologi hingga lembaga keamanan negara untuk meninjau ulang strategi pertahanan mereka.
Ke depan, ancaman siber kemungkinan tidak lagi hanya datang dari manusia, tetapi juga dari sistem AI yang mampu menyerang, beradaptasi, dan mengevaluasi kelemahannya sendiri.
Baca juga: Sudahkah Butuh Babak Revolusi Keamanan Siber Indonesia?
Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.
Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang