Dasboard AI Nemesis Assai Soroti Anomali Anggaran Pemerintah hingga Daerah - Times Indonesia
JAKARTA – Transparansi penggunaan anggaran publik kembali menjadi sorotan seiring hadirnya inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu membaca jutaan data pengadaan pemerintah. Melalui dashboard bertajuk Nemesis Assai, publik kini dapat menelusuri indikasi kejanggalan belanja negara secara lebih terbuka dan sistematis.
Inisiatif ini digagas oleh pengajar kecerdasan buatan, Abil Sudarman, bersama tim Assai.id. Mereka mengembangkan sistem audit berbasis AI yang dirancang sebagai early warning system untuk mendeteksi potensi pemborosan, markup, hingga ketidakwajaran dalam pengadaan barang dan jasa di tingkat kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah.
“Ini dashboard early warning system untuk pengadaan-pengadaan aneh di seluruh Indonesia. Ini pakai AI,” ujar Abil dalam unggahan video di akun Instagram @Assai_id, Kamis (16/4).
Dashboard tersebut mengolah data dari Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP), aplikasi milik Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) yang memuat rencana pengadaan secara nasional. Setiap tahun, sistem ini mencatat sekitar tiga juta baris data paket pengadaan.
Melalui Nemesis Assai, data tersebut dipetakan menjadi sinyal yang dapat ditindak. Pengguna dapat memilih kementerian, lembaga, provinsi, kabupaten, atau kota tertentu untuk melihat ringkasan jumlah paket, total pagu anggaran, serta kategori penilaian seperti “medium”, “high”, hingga “absurd” untuk menandai potensi anomali.
Dalam sejumlah contoh yang ditampilkan, sistem ini mengidentifikasi beberapa pos anggaran yang dinilai tidak lazim, seperti pengadaan kendaraan mewah senilai Rp8,5 miliar untuk pemerintah provinsi, meja biliar Rp400 juta, akuarium Rp100 juta, hingga biaya pemeliharaan akuarium Rp153 juta di area kerja pimpinan kementerian. Ada pula pengadaan tanaman hias yang mencapai Rp1 miliar.
Secara metodologis, Nemesis Assai bekerja melalui lima tahapan utama. Pertama, menarik data SiRUP melalui endpoint publik dan menyimpannya dalam basis data. Kedua, membersihkan serta menyusun ulang teks paket untuk menghindari duplikasi. Ketiga, model bahasa besar (LLM) membaca judul paket beserta konteksnya untuk memberi penilaian awal terhadap potensi kejanggalan. Keempat, sistem menghitung distribusi label anomali di tiap wilayah atau instansi. Terakhir, auditor manusia melakukan verifikasi terhadap paket yang dianggap prioritas.
Tim pengembang menyebut, meskipun data SiRUP kerap tidak lengkap, seperti pagu kosong atau kategori yang tidak tepat, judul paket hampir selalu tersedia. Kondisi ini dimanfaatkan oleh AI untuk memahami konteks pengadaan melalui pendekatan bahasa.
Selain itu, setiap paket yang telah melalui tahap penyaringan awal akan diproses menggunakan struktur perintah (prompt) yang ketat, dengan keluaran dalam format JSON agar mudah diintegrasikan ke sistem analisis lanjutan.
Dikutip dari laman resminya, Nemesis Assai dikembangkan sebagai alat kepentingan publik, bukan produk komersial. Seluruh metodologi yang digunakan bersifat terbuka (open source) dan hasil temuannya dipublikasikan. Inisiatif ini juga melibatkan kolaborasi multi-pihak, termasuk akademisi, peneliti, dan penasihat independen.
Dengan cakupan lebih dari tiga juta baris data, melibatkan ratusan wilayah serta puluhan kementerian dan lembaga, sistem ini diharapkan dapat memperkuat pengawasan publik terhadap pengelolaan anggaran negara secara lebih transparan dan akuntabel. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.