0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Internet Spesial

    Di Balik Internet Cepat RI Ada Konsumsi Energi yang Besar, Wilayah Ini Juaranya - Viva

    6 min read

     

    Di Balik Internet Cepat RI Ada Konsumsi Energi yang Besar, Wilayah Ini Juaranya

    Ilustrasi menara BTS.

    Jakarta, VIVA - Dengan meningkatnya layanan digital dan video streaming mendorong peningkatan trafik broadband. Hal ini menyebabkan operator telekomunikasi perlu memperluas dan meningkatkan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) sehingga kebutuhan energi jaringan seluler ikut meningkat.

    Baca Juga

    Peneliti Ahli Muda, Kelompok Riset Communication and Signal Processing, Pusat Riset Telekomunikasi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mochamad Mardi Marta Dinata, memaparkan hasil kajian mengenai kebutuhan energi jaringan telekomunikasi seluler di Indonesia serta tantangan efisiensi energi di tengah meningkatnya penggunaan layanan digital.

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Menurutnya, hingga saat ini masih belum tersedia pemodelan energi jaringan seluler berbasis representasi stok BTS dan variasi komposisi yang dapat digunakan pada level makro. Oleh karena itu, penelitian tersebut dilakukan untuk membantu memahami kebutuhan energi jaringan secara lebih menyeluruh.

    Baca Juga

    Dalam pemaparannya, Mardi mengungkapkan bahwa industri telekomunikasi menghadapi tantangan besar karena kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan trafik data dan penggunaan internet masyarakat.

    “Sekitar 20 persen biaya operasional operator digunakan untuk energi, bahkan, berdasarkan laporan tahunan salah satu operator telekomunikasi di Indonesia, hampir 90 persen konsumsi energi berasal dari operasional BTS,” katanya, seperti dikutip dari situs BRIN, Jumat, 29 Mei 2026.

    Baca Juga

    Ia menambahkan bahwa peningkatan penggunaan internet, layanan digital, dan komunikasi bergerak menyebabkan kebutuhan energi jaringan seluler terus bertambah setiap tahun. Kondisi tersebut membuat operator telekomunikasi perlu mencari solusi agar operasional tetap efisien sekaligus ramah lingkungan.

    Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah penggunaan energi terbarukan melalui sistem hibrida seperti kombinasi panel surya, baterai, dan generator. “Efisiensi energi tertinggi dapat dicapai apabila operator mampu menghasilkan energi sendiri melalui sumber energi terbarukan,” ujar dia.

    Dalam kajian tersebut, tim peneliti menggunakan data sekitar 8.500 BTS yang tersebar di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Dari jumlah tersebut dipilih 40 sampel site yang mewakili pola konsumsi energi per jam beberapa tipe BTS, seperti Macro, Micro, Pico, dan In-Building System (IBS).

    Data tersebut kemudian digunakan untuk membuat pemodelan kebutuhan energi jaringan seluler secara nasional. Melalui pendekatan tersebut, penelitian diharapkan mampu membantu operator telekomunikasi dalam menyusun perencanaan jangka panjang terkait peningkatan efisiensi energi dan upaya dekarbonisasi jaringan BTS.

    Berdasarkan hasil pemodelan, konsumsi energi jaringan seluler di Indonesia diperkirakan mencapai 14,7 GWh per hari atau sekitar 5,4 TWh per tahun. Pulau Jawa menjadi wilayah dengan konsumsi energi terbesar karena menyerap sekitar 51 persen dari total kebutuhan energi jaringan telekomunikasi selular nasional.

    Mardi juga menjelaskan bahwa kepadatan penduduk mempengaruhi kebutuhan jenis BTS di suatu wilayah. Di wilayah dengan jumlah penduduk tinggi, operator membutuhkan lebih banyak BTS yang memiliki jangkauan sinyal yang lebih kecil untuk menjaga kualitas layanan komunikasi.

    “Semakin tinggi populasi, maka kebutuhan BTS berjangkauan kecil dan lebih terpusat seperti Micro, Pico, dan IBS juga meningkat untuk memenuhi kebutuhan layanan di area padat,” ungkapnya.

    Selain membahas kebutuhan energi, kajian tersebut juga menunjukkan adanya kesenjangan pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Sekitar 70 hingga 80 persen site IBS berada di Pulau Jawa.

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Kondisi ini menunjukkan pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut berkembang lebih cepat dibandingkan daerah lain di Indonesia. Ia juga memaparkan bahwa pendekatan berbasis representasi stok BTS site tersebut masih dapat dikembangkan lebih lanjut, termasuk untuk wilayah yang memiliki keterbatasan data.

    Menurutnya, pendekatan tersebut juga memungkinkan penghitungan kontribusi sistem energi terbarukan sehingga dapat mempercepat proses dekarbonisasi jaringan telekomunikasi.

    Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Elysee, Paris, Prancis

    Prabowo Kembali ke Jakarta Bawa 4 Kesepakatan dengan Prancis Capai USD 3,5 M

    Prabowo menyaksikan peluncuran dewan bisnis dan menghasilkan 4 kesepakatan komersial baru senilai USD 3,5 miliar di sektor ketahanan energi, perdagangan hingga pertahanan

    img_title

    VIVA.co.id

    30 Mei 2026

    Komentar
    Additional JS