0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Rusia Ukraina Konflik Timur Tengah Meta Rusia Spesial

    Meta Ditinggal 20 Juta Pengguna, Iran dan Rusia Dituding Jadi Penyebabnya - detik

    3 min read

     

    Meta Ditinggal 20 Juta Pengguna, Iran dan Rusia Dituding Jadi Penyebabnya

    Foto: DW (News)

    Jakarta -

    Dalam earning call pada Rabu waktu setempat, Meta melaporkan penurunan pada metrik Family daily active people--istilah yang digunakan Meta untuk menghitung total pengguna aktif harian gabungan di Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Messenger. Angkanya merosot sebanyak 20 juta pengguna pada kuartal ini jika dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya.

    Meta berdalih bahwa merosotnya jumlah pengguna ini dipicu oleh pembatasan internet yang terjadi di Iran, serta adanya pembatasan akses WhatsApp di Rusia. Namun, keputusan Meta untuk menggabungkan seluruh statistik penggunanya menjadi satu kesatuan justru memunculkan keraguan publik.

    Taktik ini dinilai berhasil mengaburkan fakta mengenai platform media sosial mana yang sebenarnya sedang berdarah-darah alias paling banyak ditinggalkan oleh penggunanya.

    Meski begitu, Meta bersikukuh akan terus menggelontorkan dana tambahan hingga miliaran dolar untuk investasi di sektor kecerdasan buatan.

    Proyeksi Belanja Modal Melonjak Tajam

    Di tengah tren penurunan pengguna harian tersebut, Meta justru merevisi proyeksi belanja modal (capital expenditure) mereka untuk tahun 2026. Angkanya kini dipatok pada kisaran USD 125 miliar hingga USD 145 miliar, melonjak USD 10 miliar (sekitar Rp 162 triliun) lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

    Peningkatan anggaran belanja ini didorong oleh ekspektasi lonjakan harga komponen, serta tambahan biaya untuk membangun kapasitas pusat data (data center) di masa depan.

    Chief Financial Officer (CFO) Meta, Susan Li, menyebut langkah ini sebagai sebuah koreksi arah. Kepada para investor, Susan mengakui bahwa Meta selama ini telah "meremehkan jumlah permintaan komputasi di masa lalu".

    Pendapatan Meroket, Divisi VR Berdarah-darah

    Terlepas dari hilangnya puluhan juta pengguna, dari sisi finansial, Meta sebenarnya sedang menikmati pertumbuhan pendapatan tercepatnya sejak tahun 2021. Pendapatan mereka melonjak tajam sebesar 33 persen, dari USD 42,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu menjadi USD 56,3 miliar pada kuartal ini.

    Sayangnya, kondisi cemerlang tersebut tidak merata di semua divisi. Unit Reality Labs, divisi yang bertanggung jawab membangun perangkat wearable dan Virtual Reality (VR), kembali harus menelan pil pahit dengan kerugian operasional mencapai USD 4,03 miliar (sekitar Rp 65,5 triliun) selama kuartal tersebut.

    Rapor merah ini semakin memperburuk situasi di dalam tubuh divisi Reality Labs yang sebelumnya juga telah dihantam oleh dua gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) sejak Januari lalu.

    Imbas dari rilis laporan pendapatan yang campur aduk ini, harga saham Meta dilaporkan anjlok lebih dari 7 persen, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Minggu (3/5/2026).

    (asj/asj)

    Komentar
    Additional JS