0
News
    Home Apple Berita Featured Intel Microsoft Office Spesial Windows

    Microsoft Office dan Windows Ternyata Dibesarkan Apple dan Intel - Kompas

    6 min read

     

    Microsoft Office dan Windows Ternyata Dibesarkan Apple dan Intel


    KOMPAS.com - Microsoft hari ini dikenal sebagai raksasa software berkapitalisasi pasar menembus angka 3 triliun dollar AS.

    Namun, siapa sangka, kesuksesan Windows dan Office sebenarnya sangat berutang budi pada dua rival terbesarnya di industri teknologi, yaitu Intel dan Apple.

    Pengakuan mengejutkan ini dilontarkan langsung oleh CEO MicrosoftSatya Nadella, saat berbicara di panggung Morgan Stanley Technology, Media & Telecom Conference 2026 pada awal bulan ini.

    Nadella mengenang kembali sejarah perusahaan dan menyebut bahwa kompetisi masa lalu justru membentuk fondasi kesuksesan Microsoft saat ini.

    3 WNI Ditangkap Aparat Arab Saudi, Wamenhaj: Jangan Tergiur Tawaran Haji Tanpa Antre

    Nadella menyoroti kedekatan Microsoft dengan Intel yang melahirkan dominasi "Wintel" (Windows-Intel). Menurut dia, tanpa chip buatan Intel yang menjadi otak dari komputer IBM, sistem operasi Windows mungkin tidak akan pernah terwujud dan mendominasi pasar.

    Lebih mengejutkan lagi, Nadella memberikan kredit khusus kepada sang rival abadi, Apple.

    "Tanpa Mac, saya ragu apakah (Microsoft) Office akan pernah tercipta," ungkap Nadella, seperti dihimpun KompasTekno dari Windows Central.

    Faktanya, aplikasi andalan Microsoft seperti Excel dan Word edisi antarmuka grafis (GUI) justru debut perdana di komputer Mac milik Apple, jauh sebelum menyambangi Windows.

    Hal ini terjadi karena sistem operasi Apple saat itu jauh lebih menarik secara visual dibandingkan Windows 1.0 yang masih sangat kaku pasca-era DOS.

    Bagi Nadella, bisnis bukanlah zero-sum game. Kesuksesan pihak lain tidak berarti kegagalan bagi Microsoft, melainkan peluang untuk ikut "menumpang" dan memberikan nilai tambah kepada konsumen.

    Baca juga: Menengok Sejarah Microsoft, dari DOS hingga Windows dan Xbox

    Ilustrasi transformasi aplikasi Microsoft, Windows dan Office

    Lihat Foto

    Era AI dan "headless office"

    Meski bangga dengan warisan bersejarah tersebut, Nadella menegaskan bahwa Microsoft kini tengah banting setir.

    Visi "pabrik software" peninggalan sang pendiri, Bill Gates, yang telah memandu langkah perusahaan puluhan tahun diakui sudah tak lagi cukup untuk menjawab tantangan zaman.

    Fokus inti perusahaan kini bertumpu sepenuhnya pada tiga pilar baru, yaitu transformasi kecerdasan buatan (AI), keamanan, dan peningkatan kualitas produk.

    Di hadapan para investor Morgan Stanley, Nadella mengungkap bahwa AI telah merombak cara pekerja kantoran beroperasi.

    Ia mencatat adanya lonjakan masif dalam penciptaan dokumen di SharePoint dan OneDrive berkat bantuan asisten Copilot. Di sisi pemrograman, sekitar 4 hingga 5 persen kode yang bertebaran di repositori publik GitHub kini diklaim murni ditulis oleh agen AI.

    Ke depannya, Nadella melihat peluang besar pada konsep "Headless Office". Ini adalah visi di mana aplikasi produktivitas Microsoft akan bekerja secara otomatis di latar belakang sebagai asisten agen AI.

    Konsep ini diprediksi bakal menjadi lahan ekspansi pasar baru yang jauh lebih masif ketimbang era Office klasik.

    Transisi menuju era agen AI ini juga dipastikan bakal merombak model bisnis perangkat lunak secara fundamental. Nadella mengisyaratkan bahwa ke depannya, lisensi perangkat lunak tidak akan lagi sekadar mengandalkan biaya langganan tetap.

    Perusahaan akan beralih ke skema hybrid yang menggabungkan biaya langganan dasar dengan batas penggunaan token, guna menyeimbangkan distribusi konsumsi daya komputasi yang kerap tidak merata antarpengguna.

    Baca juga: Bos Samsung: Cara Orang Indonesia Pilih HP Kini Berubah, AI Sepenting Kamera

    Tantangan rantai pasokan

    Tentu saja, ambisi sebesar ini bukannya tanpa hambatan. Melonjaknya permintaan komputasi AI yang bergerak eksponensial kini menyentuh batas atas kapasitas global.

    Nadella mengakui bahwa industri teknologi tengah dikepung oleh krisis pasokan hulu. Kelangkaan ini mencakup ketersediaan daya listrik, material silikon, wafer, chip memori, hingga media penyimpanan.

    Di tengah tekanan rantai pasokan yang ketat dan desakan sebagian investor yang menginginkan hasil instan, Microsoft memilih bersikap disiplin. Nadella menegaskan untuk menerapkan penyediaan modal yang berorientasi pada masa depan.

    Perusahaan secara tegas menolak menghamburkan anggaran riset hanya demi memenangkan kontes popularitas AI jangka pendek.

    Sebaliknya, investasi kini diarahkan untuk menekan biaya pokok produksi model AI agar beroperasi lebih efisien dan menguntungkan dalam jangka panjang.

    Taktik perhitungan dingin inilah yang diyakini bakal terus mengamankan posisi takhta Microsoft sebagai raja aplikasi di era kecerdasan buatan.

    Baca juga: Microsoft: 18 Bulan Lagi, AI Bisa Gantikan Pengacara dan Akuntan

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS