0
News
    Home Berita Featured Keuangan PayLater Spesial

    Pengguna PayLater Naik, Alarm Masyarakat Mulai Makan Utang? - Tirto

    10 min read

     

    Pengguna PayLater Naik, Alarm Masyarakat Mulai Makan Utang?

    Nasabah mengakses aplikasi penunda pembayaran (PayLater) di Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/7/2023). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/tom.

    tirto.id - Fenomena masyarakat Indonesia yang bertahan hidup dengan tabungan kini mulai bergeser ke arah yang lebih mengkhawatirkan, yakni bertahan hidup dengan utang. Pertumbuhan layanan buy now pay later (BNPL) atau PayLater di Indonesia melonjak signifikan dalam setahun terakhir.

    Total outstanding PayLater tercatat mencapai Rp56,3 triliun atau tumbuh 86,7 persen (year on year/yoy) per Februari 2026. Ekonom menilai lonjakan ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan sinyal nyata mulai melemahnya daya beli masyarakat menengah ke bawah.

    Meningkatnya pengguna layanan PayLater disebut berkaitan dengan pergeseran kebiasaan masyarakat. Semula masyarakat bertahan hidup menggunakan tabungan, berubah jadi masyarakat yang bertahan hidup menggunakan PayLater.

    Lonjakan Tren PayLater

    Pertumbuhan kredit paylater Indonesia

    Nasabah mengakses layanan aplikasi penunda pembayaran (paylater) di Kota Serang, Banten, Kamis (12/9/2024). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) atau pay later pada perbankan periode Juli 2024 tumbuh sebesar 36,66 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp 18,01 triliun dengan jumlah rekening mencapai 17,90 juta. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/Spt.

    PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mencatat lonjakan pengguna PayLeter terjadi di tengah kondisi industri kredit nasional yang relatif masih stabil. Meski demikian, IdScore menilai kualitas kredit PayLater masih menjadi perhatian.

    Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) PayLater tercatat sekitar 5 persen atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata kredit nasional yang berada di kisaran 2,85 persen.

    Selain itu, fenomena kepemilikan multi akun turut memperbesar risiko. Rata-rata debitur tercatat memiliki tujuh fasilitas kredit aktif di berbagai lembaga jasa keuangan, bahkan ditemukan kasus ekstrem dengan lebih dari 1.000 fasilitas kredit.

    "Fakta tersebut menunjukkan ada potensi meningkatnya risiko over leverage apabila tidak dikelola secara prudent," ujar Direktur Utama IdScore, Tan Glant Saputrahadi, dalam mediagathering bertema "Lanskap Kredit & PayLater Indonesia di Tengah Tekanan Geopolitik & Makroekonomi serta Implementasi UU PDP" sepereti dikutip Antara, Selasa (28/4/2026).

    Ke depan, IdScore memproyeksikan pertumbuhan PayLater masih akan tetap tinggi pada 2026, meski mulai memasuki fase normalisasi seiring meningkatnya pengawasan regulator dan fokus industri terhadap kualitas portofolio.

    "Kredit yang sehat adalah fondasi ekonomi yang kuat. Pertumbuhan kredit tanpa literasi dan pengawasan yang memadai berpotensi menjadi risiko sistemik yang tertunda. Karena itu, keseimbangan antara ekspansi, mitigasi risiko, dan perlindungan data menjadi kunci keberlanjutan industri keuangan nasional," ujar Tan.

    Adapun total outstanding kredit nasional per Februari 2026 mencapai Rp9.938,2 triliun dengan pertumbuhan 9,6 persen yoy. Namun, tekanan mulai terlihat pada kelompok debitur dengan profil pendapatan lebih rendah.

    "Pertumbuhan kredit nasional tetap positif, meski kualitas risiko pada segmen tertentu perlu menjadi perhatian lebih serius," jelas Tan.

    Bertahan Hidup dengan Utang

    Pertumbuhan kredit paylater Indonesia

    Nasabah mengakses layanan aplikasi penunda pembayaran (paylater) di Kota Serang, Banten, Kamis (12/9/2024). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) atau pay later pada perbankan periode Juli 2024 tumbuh sebesar 36,66 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp 18,01 triliun dengan jumlah rekening mencapai 17,90 juta. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/Spt.

    Director of Digital Economy Center of Reform on Economics (CORE), Nailul Huda, berujar meningkatnya pengguna PayLater disebabkan daya beli masyarakat yang semakin berkurang.

    Kini, masyarakat tidak lagi dalam keadaan bertahan hidup menggunakan tabungan, tetapi bertahap hidup dengan utang.

    "Saya rasa ada hubungannya daya beli masyarakat yang berkurang sehingga bukan hanya 'mantab alias makan tabungan', tapi juga sudah 'matang alias makan utang'," tuturnya kepada Tirto, Rabu (29/4/2026).

    Nailul mengatakan, masyarakat kini merasa ekonomi tidak lagi ringan. Masyarakat disebut harus hidup dengan gali lubang tutup lubang atau terus-menerus berutang untuk menutupi utang sebelumnya.

    Menurut dia, masyarakat mulai mencari opsi pembiayaan selain ke bank. Mengingat, perbankan tengah memperketat pembiayaan untuk masyarakat.

    "Bagi sebagian masyarakat, ekonomi saat ini sangat berat, sangat berat. Mereka harus hidup dari satu lubang utang ke satu lubang utang lainnya," ucap Nailul.

    "Karena perbankan tengah memperketat pembiayaan, yang terjadi adalah masyarakat mencari pembiayaan alternatif, salah satunya adalah PayLater," lanjut dia.

    Nailul menyebutkan, peningkatan penggunaan PayLater juga terjadi lantaran ada momen Hari Raya Idul Fitri 2026. Saat momen tersebut, masyarakat cenderung meningkatkan konsumsi rumah tangga masing-masing.

    Selain memenuhi kebutuhan berpakaian, masyarakat juga memenuhi kebutuhan pangan saat merayakan Hari Raya Idul Fitri 2026.

    "Bukan hanya untuk kebutuhan sandang lebaran saja, tapi juga kebutuhan pangan ketika lebaran yang tidak dapat dijangkau. Jadi, kombinasi dua tersebut yang membuat pembiayaan untuk PayLater melonjak tajam," ujar dia.

    Gaya Hidup Kian Konsumtif

    Header Advertorial Traveloka Paylater

    Ilustrasi Traveloka PayLater. tirto.id/Mojo

    Ekonom Bhima Yudhistira menyebutkan, kenaikan pengguna PayLater tak lepas dari pola masyarakat yang kian konsumtif. Namun, kebiasaan konsumtif itu disebut tak beriringan dengan pendapatan masyarakat.

    Menurut dia, pergeseran kebiasaan itu terjadi di kelompok masyarakat menengah ke bawah yang tidak teredukasi keuangan secara memadai. Masyarakat golongan tersebut lantas tidak berpikir panjang ketika harus menjalankan kewajiban mereka untuk membayar cicilan, bunga, hingga denda keterlambatan setelah menggunakan PayLater.

    "Jadi, ada kecenderungan, ya, PayLater ini sebagian untuk memenuhi gaya hidup, bukan hanya untuk kebutuhan pokok," ucapnya kepada Tirto, Kamis.

    "Nah, inilah yang membuat akhirnya banyak masyarakat menjadi impulsif, lebih tertarik tawaran promo PayLater dan menjadi ketagihan," lanjut dia.

    Bhima menyatakan, adanya tren tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat lebih memilih untuk membayar dengan skema cicilan daripada membayar secara instan/tunai. Ia mengaku pembayaran dengan skema cicilan menimbulkan kekhawatiran baru, di tengah tantangan ekonomi saat ini.

    Kekhawatiran tersebut, yakni masyarakat akan memilih melakukan pinjaman online (pinjol) untuk membayar cicilan mereka. Hal ini lantas berpotensi meningkatkan angka masyarakat yang tidak dapat membayar cicilan PayLater sekaligus pinjol.

    "Masyarakat ini juga akan dihadapkan pada satu titik bahwa utang-utang tadi akan ditutup, khawatirnya dengan pinjol. Kalau sudah tidak bisa, berarti nanti angka jumlah mereka yang menunggak atau gagal bayar karena PayLater ini bisa meningkat," urai Bhima.

    Dalam kesempatan itu, ia menyebutkan, platfrom e-commerce kerap menawarkan metode pembayaran menggunakan PayLater yang dikombinasikan dengan promo. Agar masyarakat tidak gampang tergiur, pemerintah baiknya menetapkan pembatasan terkait promo di e-commerce.

    "Banyak promo-promo yang didorong di platform e-commerce, apalagi beberapa platform e-commerce memberikan PayLater sebagai salah satu prioritas cara pembayaran. Itu juga akan memengaruhi konsumen untuk lebih impulsif," ucapnya.

    PayLater Sempat Melonjak Tajam

    Pertumbuhan pengguna paylater

    Nasabah mengakses aplikasi penunda pembayaran (paylater) di Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/7/2023). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/tom.

    Etikah Karyani selaku Direktur Riset Bidang Jasa Keuangan, Ekonomi Digital, dan Ekonomi Syariah CORE menyebutkan, pengguna layanan PayLater non-bank sempat naik tajam.

    Dari data yang Etikah paparkan, layanan PayLater non-bank sempat menyentuh 88,65 persen pada September 2025. Tren itu menurun hingga mencapai 75,05 persen pada Desember 2025. Lalu, mencapai 71,13 persen pada Januari 2026 dan 53,53 persen pada Februari 2026.

    Etikah menyebutkan, penurunan pengguna layanan PayLater non-bank terjadi setelah ada intervensi pemerintah.

    "Kalau PayLater itu cepat tajam, naik tajam, tapi kemudian menurun setelah adanya peraturan pemerintah yang mencoba menekan channel ini," ucapnya saat konferensi pers CORE via virtual, Rabu.

    tirto.id - News Plus

    Reporter: Muhammad Naufal
    Penulis: Muhammad Naufal
    Editor: Siti Fatimah

    Komentar
    Additional JS