Teknologi Antariksa Iran tak Mati di Tengah Perang, Pembangunan Satelit Baru Disiapkan - Repu3
Teknologi Antariksa Iran tak Mati di Tengah Perang, Pembangunan Satelit Baru Disiapkan
Iran pernah meresmikan Pusat Antariksa Imam Khomeini.
EPA-EFE/ROSKOSMOS HANDOUT Foto selebaran yang disediakan oleh Roscosmos menunjukkan roket Soyuz Rusia meledak untuk membawa satelit Khayyam Iran ke luar angkasa di kosmodrom sewaan Rusia Baikonur, Kazakhstan, 09 Agustus 2022.
REPUBLIKA.CO.ID,TEHERAN — Kepala Badan Antariksa Iran menggambarkan industri antariksa negara tersebut sebagai industri berbasis pengetahuan lokal yang mengandalkan keahlian para pemuda dan kaum elit Iran. Ia mencatat bahwa badan tersebut telah mempercepat upaya untuk menyelesaikan pembangunan sejumlah satelit baru.
Berbicara dalam kunjungan Wakil Presiden Pertama, Mohammad Reza Aref, ke kantor badan tersebut, Hassan Salariyeh menyatakan bahwa dengan dukungan pemerintah serta Kementerian Informasi dan Teknologi Komunikasi, industri ini telah menorehkan pencapaian berharga. Ia menambahkan, jalur pengembangan teknologi ini telah mencapai momentum, seperti dilansir Tasniem.
Salariyeh memaparkan enam pilar utama industri antariksa Iran, yaitu: desain dan pembangunan satelit, pembawa satelit (satellite carriers), pangkalan peluncuran, pusat kendali dan operasi satelit, stasiun bumi akuisisi data satelit, serta pemantauan, pemrosesan, dan penciptaan nilai tambah dari data tersebut.
Salariyeh menambahkan, infrastruktur yang memadai telah dikembangkan pada tingkat nasional. Aset serta kapabilitas industri antariksa pun telah didistribusikan ke seluruh negeri; sebuah langkah yang memberikan basis bagi pertumbuhan perusahaan-perusahaan berbasis pengetahuan yang kompeten sekaligus mempercepat pengembangan teknologi ini.
Proyek Strategis dan Satelit Baru
Menyoroti proyek-proyek strategis industri antariksa negara, Salariyeh merujuk pada penyelesaian model eksperimental pertama dari sistem satelit "Martir Soleimani", yang diresmikan bersamaan dengan Hari Teknologi Antariksa tahun lalu.
Ia menambahkan, desain dan konstruksi satelit Pars 3, satelit telekomunikasi Nahid 3, muatan pengukuran radar (radar measurement payload), proyek penelitian 1, 2, dan 4, serta blok transfer orbital Saman merupakan proyek penting lain yang sedang diimplementasikan. Salariyeh menjanjikan bahwa pencapaian terbaru di bidang ini akan segera diperkenalkan dalam waktu dekat.
Upaya ini menegaskan ambisi Teheran untuk memperkuat kedaulatan teknologinya di tengah tantangan global, dengan memanfaatkan sepenuhnya potensi sumber daya manusia dalam negeri.
Halaman 2 / 2
Program luar angkasa Iran yang terus berkembang telah memicu kekhawatiran di Washington, Eropa, hingga Timur Tengah. Pada 28 Juli, sehari setelah Iran sukses meluncurkan roket pembawa satelit bernama Simorgh, Amerika Serikat, Prancis, Jerman, dan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam aksi tersebut.
"Dengan peluncuran terbaru kendaraan peluncur luar angkasa Simorgh pada 27 Juli, Iran kembali menunjukkan aktivitas yang tidak sejalan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB (UNSCR) 2231," tulis pernyataan tersebut. Negara-negara Barat juga menyerukan agar Iran tidak melakukan peluncuran rudal balistik lebih lanjut beserta aktivitas terkait lainnya.
Para pemimpin Iran menolak kritik Barat tersebut. "Sayangnya, peluncuran satelit telah menjadi isu politik di dunia. Klaim bahwa peluncuran satelit melanggar kesepakatan nuklir pada dasarnya salah, karena kami berhak atas hal ini dan kami dapat memanfaatkan kemungkinan ini semaksimal mungkin di negara kami," ujar Mahmoud Vaezi, menteri komunikasi saat itu.
Almarhum Presiden Hassan Rouhani juga memuji peluncuran Simorgh. "Hari ini, sains antariksa sangat penting bagi kami. Semakin besar kekuatan ilmiah kita, maka semakin besar pula kedaulatan dan martabat kita," tulisnya dalam akun Instagram pribadinya.
Target Jangka Panjang
Iran pernah meresmikan Pusat Antariksa Imam Khomeini, yang disebut para pemimpin Iran sebagai "titik balik" aktivitas antariksa nasional.
Ketua Sairan Space Group, Hossein Shahrabi, menyatakan kepada televisi pemerintah bahwa pusat antariksa tersebut memungkinkan Iran mulai bersaing dengan kekuatan dunia dalam meluncurkan satelit ringan ke orbit rendah bumi.
Iran tercatat sukses meluncurkan satelit pemroses data pribumi pertamanya, Omid (Harapan), pada 2 Februari 2009. Sebagai bagian dari rencana komprehensif, Iran juga berhasil meluncurkan satelit kedua bernama Rassad (Pengamatan) pada Juni 2011, yang bertugas mengambil citra bumi dan mengirimkan informasi telemetri ke stasiun bumi.
Satelit ketiga buatan dalam negeri, Navid-e Elm-o Sanat, menyusul dikirim ke orbit pada Februari 2012.
Meski demikian, para pejabat AS tetap mengekspresikan kekhawatiran bahwa pengerjaan satelit dan ruang angkasa Iran dapat berfungsi sebagai kedok untuk memproduksi rudal balistik antarbenua (ICBM).
Berita Terkait
AS dan China Sepakat tak Ada Tarif Tol di Selat Hormuz
Bisnis - 13 May 2026, 08:53
Dubes AS Huckabee: Negara Teluk Harus Memilih, Iran atau Israel
Internasional - 13 May 2026, 07:42
AS Gelontorkan Rp508 Triliun untuk Perang Lawan Iran, Membengkak dari Laporan Awal
Internasional - 13 May 2026, 06:52
Mojtaba Khamenei Beri Arahan Baru untuk Panglima Militer Iran, Ini Pesannya
Dunia - 10 May 2026, 21:06
Tiga Analis Dunia Bedah Perang Adu Kuat Drone Jadi Mimpi Buruk Baru NATO
News Analysis - 09 May 2026, 05:33