AI BRIN Bisa Prediksi Badai Matahari 4 Hari Sebelum Hantam Bumi - detik
Ilustrasi badai matahari. Foto: NASA/SDO
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu memprediksi tingkat bahaya badai Matahari hingga empat hari sebelum menghantam Bumi. Teknologi ini diharapkan dapat membantu berbagai sektor strategis mengantisipasi gangguan pada satelit, komunikasi, navigasi, hingga jaringan listrik.
Peneliti Pusat Riset Antariksa (PRA) BRIN, Tiar Dani, mengatakan sistem AI tersebut dirancang untuk memprediksi kekuatan medan magnet badai Matahari, salah satu faktor utama yang menentukan seberapa besar dampaknya terhadap Bumi.
"Sama seperti menghadapi badai di daratan, kita juga perlu mengetahui seberapa kuat badai Matahari agar dapat menyiapkan langkah mitigasi yang tepat," ujar Tiar dikutip Senin (29/6/2026).
Menurutnya, ancaman badai Matahari tidak hanya ditentukan oleh besarnya lontaran massa korona atau coronal mass ejection (CME), tetapi juga oleh arah medan magnet antarplanet yang dibawanya. Dalam ilmu fisika antariksa, komponen tersebut dikenal sebagai Bz.
Apabila medan magnet itu mengarah ke selatan selama beberapa jam, perlindungan alami Bumi menjadi lebih mudah ditembus partikel berenergi tinggi dari Matahari. Dampaknya dapat memicu badai geomagnetik yang mengganggu satelit, sistem navigasi, komunikasi radio, hingga infrastruktur kelistrikan.
Tiar menjelaskan, memprediksi arah dan kekuatan komponen Bz merupakan tantangan besar dalam ilmu cuaca antariksa yang selama ini dikenal sebagai "The Bz Problem."
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti BRIN mengembangkan model AI berbasis multi-modal deep learning bernama Bz4SWx. Model ini mampu memperkirakan nilai minimum Bz sekaligus memprediksi kapan kondisi paling berbahaya itu akan terjadi dalam rentang waktu hingga 96 jam setelah terjadi CME. Jika prediksi menunjukkan nilai Bz sangat negatif dan berlangsung cukup lama, potensi badai geomagnetik dapat meningkat dari kategori ringan (G1) hingga ekstrem (G5).
"Pada skala ringan mungkin hanya terjadi fluktuasi kecil pada jaringan listrik atau muncul aurora. Namun jika mencapai skala G5, dampaknya bisa sangat serius," kata Tiar.
Ia mencontohkan, badai geomagnetik ekstrem dapat merusak transformator listrik seperti yang pernah terjadi di Quebec, Kanada, pada 1989. Selain itu, badai juga berpotensi mengganggu komunikasi radio penerbangan, sistem navigasi, hingga membuat satelit kehilangan orbit akibat meningkatnya kerapatan atmosfer bagian atas.
Keunggulan Bz4SWx terletak pada kemampuannya mengolah berbagai jenis data sekaligus. Tiar mengibaratkan cara kerja sistem tersebut seperti dokter spesialis yang tidak hanya mengukur suhu tubuh pasien, tetapi juga memanfaatkan hasil rontgen dan pemeriksaan lainnya sebelum memberikan diagnosis.
Selain menganalisis kecepatan dan arah CME, AI juga mempelajari magnetogram, yaitu citra medan magnet Matahari saat peristiwa CME terjadi. Dari kombinasi berbagai data tersebut, sistem memperoleh gambaran lebih utuh mengenai karakteristik badai yang sedang berkembang.
Model ini juga memanfaatkan teknologi attention mechanism, salah satu inovasi penting dalam perkembangan AI modern. Teknologi tersebut memungkinkan sistem memusatkan analisis pada area Matahari yang paling berpotensi memicu badai geomagnetik kuat.
"Seperti mata manusia yang secara otomatis akan fokus pada objek yang paling mencolok atau berbahaya," jelasnya.
Hasil penelitian menunjukkan sistem AI yang dikembangkan BRIN mampu memprediksi intensitas medan magnet badai Matahari dengan tingkat akurasi yang menjanjikan. Hal terpenting, sistem tersebut dapat memberikan peringatan dini hingga empat hari sebelum badai mencapai Bumi.
Waktu tersebut dinilai sangat krusial bagi operator satelit, pengelola jaringan listrik, penyedia layanan komunikasi, hingga berbagai sektor lain yang bergantung pada teknologi antariksa untuk melakukan langkah mitigasi lebih awal.
"Dengan informasi yang lebih cepat dan akurat, risiko gangguan akibat cuaca antariksa ekstrem dapat diminimalkan," kata Tiar.
Disampaikannya, BRIN akan terus mengembangkan Bz4SWx melalui inisiatif Research in AI for Space (R.A.I.Se) di bawah Kelompok Riset Matahari dan Aktivitasnya, Pusat Riset Antariksa BRIN.
Melalui pengembangan tersebut, Indonesia diharapkan memiliki sistem peringatan dini cuaca antariksa yang semakin andal untuk melindungi infrastruktur teknologi nasional dari ancaman badai Matahari ekstrem.