AI Jadi "Asisten Pengacara", Bantu Menangkan Kasus Pertama di Pengadilan - Kompas
KOMPAS.com - Kecerdasan buatan (AI) tidak hanya digunakan untuk membuat tulisan atau menjawab pertanyaan. Teknologi ini sekarang mulai dimanfaatkan untuk menangani perkara hukum.
Sebuah firma hukum yang mengandalkan kecerdasan buatan bernama Garfield AI, berhasil membantu konsultan sumber daya manusia (HR) memenangkan gugatan di pengadilan Inggris.
Kasus ini bermula ketika seorang freelance konsultan HR bernama Tamires Camal Taqudir belum menerima pembayaran atas pekerjaan yang telah ia selesaikan.
Nilai tagihan yang tak kunjung dibayar itu tidak sedikit. Nominalnya tercatat mencapai 7.000 poundsterling atau sekitar Rp 165 jutaan.
Mojtaba Desak Pengadilan Iran Tangkap Trump-Netanyahu, Ini Alasannya
Taquidir sendiri mengaku sempat ragu, apakah harus membawa perkara tersebut ke jalur hukum atau tidak. Ia khawatir biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk menggugat justru lebih besar dibandingkan manfaat yang akan diperoleh.
Baca Juga :
Karena itu, ia memilih menggunakan Garfield AI. Dengan biaya sekitar 400 poundsterling (sekitar Rp 9,4 jutaan), layanan tersebut membantunya menyiapkan surat hukum sekaligus mengajukan gugatan ke pengadilan.
Baca juga: Miliarder Asal China Mau Bikin AI yang Lebih Pintar dari Manusia
"Garfield membuat saya bisa mengajukan gugatan dan terus melanjutkan prosesnya," ujar Taquidir, sebagaimana dikutip KompasTekno dari TheGuardian.
Taquidir menambahkan, awalnya ia sempat merasa terintimidasi ketika pihak tergugat mengajukan gugatan balik (counterclaim), di mana mereka menggunakan jasa firma hukum manusia.
Namun, ia tetap percaya diri melanjutkan proses hukum karena merasa mendapat pendampingan yang mudah diakses, terjangkau, dan kompeten dari Garfield AI.
AI jadi asisten pengacara
Meski disebut sebagai "asisten pengacara", dalam kasus ini Garfield AI tidak benar-benar hadir di ruang sidang dan membantu menggantikan peran pengacara manusia sepenuhnya.
Layanan tersebut hanya dipakai untuk menangani berbagai pekerjaan hukum serta segala proses administratif sebelum persidangan dimulai.
Tugas tersebut antara lain menyusun surat, menyiapkan tanggapan atas gugatan balik, membuat empat pernyataan saksi, hingga merangkum dokumen yang dibutuhkan selama persidangan.
Setelah seluruh berkas siap, layanan firma hukum berbasis AI itu kemudian menunjuk seorang barrister atau pengacara litigasi manusia bernama Dominic Li untuk mewakili Taquidir di pengadilan.
Adapun proses persidangan yang berlangsung selama sekitar tiga jam di Wandsworth County Court pada 14 Mei 2026 itu akhirnya berhasil dimenangkan oleh Taquidir.
Sebagai pengacara litigasi yang sebagian kerjanya dibantu Garfield AI, Li mengatakan bahwa teknologi ini berhasil menyiapkan berkas kliennya dengan jelas dan efisien.
Baca juga: Intel dan AMD Rilis Standar Bersama agar AI Lebih Ngebut di CPU
Meski begitu, ia menegaskan bahwa proses advokasi di ruang sidang tetap menjadi tugas manusia sepenuhnya. Dalam kasus ini, AI hanya bertugas sebagai "asisten" untuk membantu segala prosesnya.
Salah satu pendiri Garfield AI, Philip Young, menyebut kemenangan ini sebagai momen bersejarah bagi akses terhadap layanan hukum, terutama keadilan.
Menurutnya, banyak pelaku usaha kecil yang selama ini terpaksa mengikhlaskan piutang mereka karena biaya untuk membawa perkara ke pengadilan sering kali lebih besar dibandingkan uang yang ingin ditagih.
Garfield AI sendiri telah memperoleh izin dari Solicitors Regulation Authority (SRA) sejak April 2025 lalu. Layanan ini diklaim dapat digunakan untuk menangani gugatan dengan nilai mulai dari 30 poundsterling hingga 10.000 poundsterling.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Taufik Hidayat Aneh Sejak Kecil, Dikenal Anak Brutal