Cara Baru Timbang Berat Planet Tersembunyi Lewat Debu Kosmik, Hasilnya Mengejutkan -
Cara Baru Timbang Berat Planet Tersembunyi Lewat Debu Kosmik, Hasilnya Mengejutkan
2 Juni 2026 11.29
Ukuran teks
```html
Ilmuwan kini menemukan metode baru untuk mengukur massa planet yang tidak tampak pada jarak belasan tahun cahaya, yaitu dengan membaca struktur debu yang mengelilingi bintang muda. Teknik ini memanfaatkan cincin terang yang terbentuk akibat aktivitas planet baru. Debu, gas, dan planetesimal—bagian kecil dari materi planet—membentuk piringan disekitar bintang muda. Saat planet tersebut beredar, mereka membuat jalur khusus pada piringan gas dan debu.
Pemimpin penelitian dari Astronomy and Astrophysics Group, Universitas Warwick, Amena Faruqi, menjelaskan, "Kami telah memahami bahwa konsentrasi debu di luar orbit planet muda dapat membentuk cincin, tetapi belum pernah mengaitkannya dengan massa planet." Kini, dengan membaca pola antara cincin ini, para ilmuwan dapat menentukan massa planet yang tidak dapat dilihat.
Faruqi dan timnya menggunakan simulasi komputer untuk menganalisis bagaimana massa exoplanet mempengaruhi pola cincin debu. Menurut mereka, lebar cincin debu dan posisi titik paling terang adalah kunci untuk mengukur karakteristik planet tersembunyi. Hal ini tidak dipengaruhi oleh panjang gelombang instrumen maupun ukuran debu.
Tim ilmuwan menguji metode ini pada sistem planet PDS 70, sekitar 370 tahun cahaya dari Bumi. Sistem ini telah diamati oleh teleskop radio Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) di Cile. Jessica Speedie dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengungkapkan bahwa uji coba pada PDS 70 memberikan verifikasi nyata atas pendekatan ini.
Dalam sistem PDS 70, dua exoplanet, PDS 70 b dan PDS 70 c, telah berhasil diidentifikasi. Teknik baru ini memperkirakan massa PDS 70 c sekitar 7,5 kali massa Jupiter. Hasil ini sejalan dengan perkiraan yang ada, dan simulasi menunjukkan bahwa planet besar dapat memerangkap debu dalam cincin hingga 20 kali massa Bumi.
Ralph Pudritz dari Universitas McMaster menyatakan bahwa hasil ini menegaskan pengamatan ALMA dan menantang para ilmuwan untuk mencari planet baru dalam tumpukan debu tersebut. Debu di area tersebut cukup banyak hingga memungkinkan pembentukan planet baru, yang bisa membantu kita memahami formasi tata surya.
Farzana Meru dari Universitas Warwick menambahkan bahwa waktu untuk melakukan penelitian ini sangat tepat. Dengan fasilitas seperti ALMA, yang semakin canggih dalam mengamati piringan protoplanet, teknik ini akan membuka wawasan baru mengenai planet tersembunyi dan sistem planet yang mereka bentuk.
Penelitian ini dipublikasikan dalam The Astrophysical Journal. Diharapkan, metode ini dapat membantu manusia lebih memahami pembentukan sistem tata surya kita yang terjadi sekitar 4,6 miliar tahun silam.
```

Fajar Hidayatullah
Jurnalis teknologi dan digital yang membahas perkembangan AI, aplikasi, dan startup di Indonesia. Mengedepankan analisis tren masa depan.