Cari Talenta, Perusahaan Chip Ini Hapus Syarat Ijazah S1 untuk Pelamar -
KOMPAS.com - SK Hynix, produsen chip asal Korea Selatan, menghapus syarat gelar akademis dalam proses rekrutmen karyawan barunya. Mulai dari pembukaan lowongan pekan lalu, pelamar tidak lagi diwajibkan memiliki ijazah sarjana (S1) atau lebih tinggi untuk bisa melamar ke perusahaan tersebut.
Sebagai gantinya, SK Hynix kini lebih mengutamakan kemampuan kerja, pengalaman, dan potensi kandidat dibanding latar belakang pendidikan formal. Siapa pun yang dinilai kompeten, berpengalaman, dan cocok dengan budaya kerja perusahaan kini berpeluang untuk direkrut.
"Dalam lingkungan AI yang berubah dengan cepat, daya saing talenta masa depan sulit diukur melalui gelar tertentu atau kredensial standar," ujar salah satu petinggi SK Hynix, dikutip KompasTekno dari Korea Herald.
Perusahaan menyatakan kebijakan ini akan diterapkan pada seluruh proses rekrutmen ke depannya. Langkah ini diambil di tengah persaingan yang semakin ketat untuk mendapatkan talenta di bidang kecerdasan buatan (AI).
PDIP Kritik Keras BUMN di DPR: Makin Hari Makin Kurang Ajar kepada Rakyat!
Baca juga: Intel dan AMD Rilis Standar Bersama agar AI Lebih Ngebut di CPU
Baca Juga :
SK Hynix sendiri merupakan salah satu produsen utama chip High Bandwidth Memory (HBM), komponen memori berkecepatan tinggi yang digunakan untuk mendukung akselerator AI buatan Nvidia.
Bisnis perusahaan tengah tumbuh pesat seiring meningkatnya permintaan chip AI sepanjang 2025, SK Hynix merekrut lebih dari 2.000 karyawan baru. Ke depan, perusahaan berencana merekrut ratusan karyawan tambahan untuk posisi-posisi strategis, termasuk pengembangan dan desain chip generasi berikutnya.
Kebijakan ini juga disebut sejalan dengan visi Chairman SK Group, Chey Tae-won, mengenai karakter talenta masa depan.
Keputusan SK Hynix terbilang cukup berani mengingat Korea Selatan dikenal sebagai negara yang sangat menekankan pendidikan formal.
Data OECD mencatat sekitar 71 persen penduduk Korea Selatan berusia 25–34 tahun telah menempuh pendidikan tinggi.
Namun di saat yang sama, OECD juga mencatat tingginya angka pengangguran usia muda di negara tersebut, yang dipengaruhi oleh ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.
Baca juga: Qualcomm Akuisisi Startup AI Modular, Tantang Dominasi Nvidia
Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.
Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Blak-blakan di Depan Bos Baja China, Purbaya: Katanya Orang Pajak Sogok Saja!