0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Opsitek Browser
    Sticky Notes
    Kalkulator Scientific
    Google Search
    Maps
    Earth View
    Translate
    Stellarium Sky
    Paint
    Edit Foto
    Info Kurs
    Info Cuaca
    Kalender
    Jam Dunia
    Browser
    Sticky Notes
    Kalkulator
    Kurs
    Cuaca
    Google
    Maps
    Earth
    Translate
    Stellarium
    Kalender
    Waktu
    Paint
    Edit Foto
    O
    Home AI Berita Cloudflare Featured Internet Kecerdasan Buatan Spesial

    Cloudflare: Trafik Internet Dunia Kini Didominasi Bot dan Agen AI - Kompas

    6 min read

     

    Cloudflare: Trafik Internet Dunia Kini Didominasi Bot dan Agen AI



    KOMPAS.com- Lalu lintas internet global kini didominasi oleh agen kecerdasan buatan (AI agent) dan robot (bot), melampaui aktivitas pengguna manusia untuk pertama kalinya dalam sejarah internet.

    Hal ini diungkap Cloudflare Radar, situs web yang menganalisis dan mencatat sumber dan trafik lalu lintas internet dunia. 

    Di situs web tersebut, trafik yang berasal dari AI agent dan bot kini mencapai 57,4 persen dari total lalu lintas web, sedangkan trafik manusia tersisa 42,6 persen.

    CEO Cloudflare, Matthew Prince mengatakan bahwa bot di sini bisa bermacam-macam, seperti agen AIcrawler mesin pencari, alat pemantauan situs, hingga scraper otomatis.

    Piala Dunia 2026 Tinggal 8 Hari, Meksiko Dilanda Kekacauan dan Ibu Kota Lumpuh

    Dia mengatakan bot seperti ini sebenarnya sudah menghasilkan trafik lebih besar dibanding manusia sejak bertahun-tahun lalu.

    Data Cloudflare Radar terkait akses trafik internet bot dan manusia di global.

    Lihat Foto

    Yang kini melonjak adalah trafik dari AI agent, yakni sistem AI yang menjelajahi internet secara otomatis untuk mencari informasi, merangkum konten, atau menyelesaikan tugas atas nama pengguna.

    Aktivitas ini dilakukan oleh layanan AI modern yang dapat mengakses berbagai situs web untuk menjawab pertanyaan atau menjalankan perintah pengguna, sehingga wajar saja apabila aktivitasnya tercatat di Cloudflare.

    "Pertumbuhan trafik agen AI ini lebih cepat dari perkiraan. Awalnya saya mengira fenomena ini akan terjadi pada akhir 2027, namun sekarang ternyata sudah terjadi," kata Matthew dalam sebuah posting X (Twitter) @eastdakota.

    Cloudflare sendiri mencatat trafik web setiap saat. Pantauan KompasTekno pada Jumat (5/6/2026) sore, bot memang mengakses sekitar 57,3 persen trafik internet global, dibanding 42,7 persen trafik dari manusia dalam tujuh hari terakhir. 

    Ilustrasi data trafik bot dan manusia di internet di Indonesia berdasarkan Cloudflare Radar.

    Lihat Foto

    Menariknya, data trafik internet di Indonesia justru terbalik. Di rentang waktu yang sama, Cloudflare Radar mencatat trafik yang berasal dari manusia justru berada di kisaran 54 persen, sedangkan bot 46 persen. 

    Dengan kata lain, orang Indonesia masih banyak yang mengakses situs web secara "manual", tidak menyuruh bot atau chatbot AI. 

    Cloudflare Radar juga mencatat trafik internet di Indonesia paling banyak berasal dari perangkat mobile, dengan besaran mencapai 61,5 persen, disusul dengan desktop di angka 38,5 persen.

    Namun secara global, trafik internet dunia ternyata lebih banyak berasal dari desktop dengan kisaran 60 persen, sedangkan sisanya berasal dari mobile dengan 40 persen.

    Memicu perdebatan "Dead Internet Theory"

    Temuan ini kembali memunculkan perdebatan mengenai "Dead Internet Theory", teori yang menyebut sebagian besar aktivitas di internet sebenarnya dihasilkan oleh bot dan sistem otomatis, bukan manusia.

    Teori yang muncul pada akhir 2010-an tersebut sempat dianggap berlebihan. Namun, meningkatnya penggunaan AI generatif dan AI agent membuat sebagian pihak menilai teori tersebut kini semakin relevan.

    Cloudflare sendiri merupakan salah satu penyedia layanan jaringan dan keamanan internet terbesar di dunia.

    Data Cloudflare Radar dihimpun dari jaringan global perusahaan yang melayani sekitar seperlima lalu lintas internet dunia, sehingga sering digunakan sebagai indikator tren internet secara global.

    Melihat tren ini, Matthew memprediksi masa depan web nanti akan mengarah ke model "pay to crawl".

    Ini merupakan skema di mana perusahaan AI atau bot harus membayar untuk mengakses dan mengambil data dari situs web, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari CNET.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Kejagung Ungkap 5 'Dosa' Eks Petinggi BGN yang Kini Jadi Tersangka

    Komentar
    Additional JS