Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Berita Featured Finlandia Kecerdasan Buatan Nokia Spesial

    Eropa Kehilangan Nokia, Kini Finlandia Tak Mau Kalah di AI - Kompas

    9 min read



    KOMPAS.com – Pernah dengar nama Nokia? Pasti pernah.

    Pernah dengar nama perusahaan teknologi Eropa lain yang masih bisa menyaingi raksasa AS dan China di dunia konsumen? Hampir tidak ada.

    Itulah pelajaran pahit yang masih dirasakan Eropa sampai hari ini. Mereka pernah punya Nokia, raksasa ponsel asal Finlandia yang sempat menguasai dunia di awal 2000-an. Lalu hilang. Dilibas iPhone dan ekosistem Android dari Amerika Serikat.

    Sekarang, dengan kecerdasan buatan alias AI jadi gelombang teknologi besar berikutnya, Finlandia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.

    Jadwal Siaran Langsung Perancis Vs Irak Piala Dunia 2026, Selasa 23 Juni Pukul 04.00 WIB

    "Eropa kehilangan Nokia. Finlandia tidak ingin kehilangan AI." Begitu intinya laporan Euractiv yang membahas strategi Finlandia menghadapi perlombaan AI global.

    Untuk memahami kenapa Finlandia begitu serius soal AI, perlu menengok ke masa lalu.

    Selama hampir satu dekade, dari pertengahan 1990-an sampai pertengahan 2000-an, Nokia adalah raja ponsel dunia. Ponselnya ada di tangan miliaran orang. Mereknya identik dengan teknologi seluler.

    Lalu datang iPhone pada 2007. Disusul Android setahun kemudian. Dalam hitungan beberapa tahun saja, Nokia kehilangan posisinya. Lebih cepat dari yang bisa mereka antisipasi.

    Pada 2014, bisnis ponsel Nokia akhirnya dijual ke Microsoft. Itu pun tidak menyelamatkan situasinya.

    Hari ini, Nokia masih ada. Tapi mereka tidak lagi jadi pemain utama di dunia ponsel. Mereka berputar ke bisnis jaringan telekomunikasi, di mana pun di sana mereka kalah pamor dibanding Huawei dan Ericsson.

    Bagi Eropa, kehilangan Nokia bukan cuma soal satu perusahaan. Itu adalah hilangnya satu-satunya pemain teknologi konsumen global yang dimiliki benua tersebut.

    Sejak Nokia jatuh, Eropa praktis tidak punya perusahaan teknologi konsumen yang bisa bersaing dengan raksasa-raksasa Amerika dan China.

    Baca juga: Pernah Meraja Cukup Lama, Kenapa Nokia Bisa Bangkrut?

    Sekarang AI hadir sebagai gelombang teknologi besar berikutnya.

    Para ahli mempersamakan posisi AI saat ini dengan posisi internet di tahun 1990-an, atau ponsel pintar di awal 2000-an. Siapa yang menguasai teknologinya di tahap awal ini, kemungkinan besar akan jadi pemenang besar di dekade-dekade mendatang.

    Masalahnya, perlombaan AI saat ini didominasi dua kubu. Pertama, perusahaan-perusahaan Amerika, seperti OpenAI, Anthropic, Google, dan Meta. Kedua, perusahaan-perusahaan China seperti DeepSeek, Alibaba, dan Baidu.

    Eropa? Hampir tidak terlihat di peta.

    Finlandia tidak ingin negaranya, dan Eropa secara keseluruhan, jadi penonton lagi seperti waktu Nokia jatuh dulu.

    Silo AI dijual ke AMD

    Salah satu nama paling penting di dunia AI Finlandia adalah Silo AI.

    Perusahaan ini didirikan di Helsinki dan sempat jadi laboratorium AI swasta terbesar di Eropa. Dengan lebih dari 300 ahli, dan setengahnya punya gelar PhD di bidang seperti computer vision, teknologi bahasa, dan machine learning.

    Silo AI bekerja dengan klien-klien besar Eropa. Mulai dari perusahaan asuransi Allianz, perusahaan elektronik Phillips, produsen mesin pesawat Rolls-Royce, hingga Unilever. Mereka juga bermitra dengan Aleph Alpha dari Jerman untuk membangun solusi AI yang berdaulat khusus untuk perusahaan dan pemerintah Eropa.

    Tapi cerita Silo AI mengambil langkah tak terduga.

    Pada 2024, perusahaan ini diakuisisi AMD, raksasa semikonduktor dari Amerika Serikat. Nilai akuisisinya 665 juta dollar AS atau sekitar Rp 11,7 triliun.

    Sekarang Silo AI sudah jadi unit di dalam AMD, dengan nama baru AMD Silo AI.

    Bagi sebagian pengamat, ini adalah deja vu Nokia. Aset teknologi Finlandia yang menjanjikan, akhirnya dimiliki perusahaan Amerika.

    Yang menarik, pemerintah Finlandia tetap menggelontorkan dana untuk AMD Silo AI meski perusahaan itu sudah dimiliki AMD.

    Pada Mei 2025, Business Finland selaku badan pengembangan ekonomi Finlandia mengumumkan pemberian dana 15 juta euro kepada AMD Silo AI. Dana itu untuk program lima tahun bernama Compute to Impact.

    Tujuan resminya, mempertahankan posisi Finlandia sebagai pemimpin AI global. Tapi keputusan itu mendapat banyak kritik.

    Sejumlah pengamat menilai mendanai perusahaan yang sudah dimiliki AS justru bertentangan dengan misi awal kedaulatan teknologi Eropa. Mereka khawatir soal risiko ketergantungan pada vendor tunggal, dan bocornya talenta ke ekosistem AS.

    Baca juga: Sejarah Nokia, Berpindah-pindah Tangan hingga Pensiunnya Merek Smartphone

    NestAI, harapan baru bersama Nokia

    Untuk menjawab kekhawatiran soal kedaulatan, Finlandia kemudian mendukung pendirian perusahaan AI baru bernama NestAI.

    Yang menarik, NestAI didirikan oleh Peter Sarlin, salah satu pendiri Silo AI yang menjual perusahaannya ke AMD. Sarlin tampaknya tidak puas dengan situasi pasca akuisisi.

    NestAI mendapat suntikan dana 100 juta euro atau sekitar Rp 1,79 triliun pada akhir 2025. Dananya datang dari Tesi, dana kekayaan negara Finlandia, dan dari Nokia.

    Iya, Nokia. Perusahaan yang dulu jadi simbol kejayaan Finlandia, kini balik masuk ke dunia teknologi konsumen lewat AI.

    Nokia tidak cuma jadi investor. Mereka juga bermitra strategis dengan NestAI untuk mengembangkan produk AI di bidang aplikasi pertahanan dan apa yang disebut physical AI. Ini berarti menggunakan model bahasa besar dan teknologi terkait untuk robotika, kendaraan tak berawak, dan operasi otonom.

    "Sesuai dengan misi PostScriptum, NestAI sejak awal bertekad menjadi laboratorium physical AI terdepan di Eropa untuk mendorong kedaulatan teknologi," kata Sarlin, seperti dikutip KompasTekno dari TechCrunch.

    PostScriptum adalah kantor pengelola harta keluarga Sarlin yang ikut mendanai NestAI sejak awal.

    NestAI sendiri belum punya CEO. Tapi anggota timnya sudah datang dari para ahli yang dulunya bekerja di Intel, Kongsberg, Palantir, dan Saab. Latar belakang yang sangat kental dengan kebutuhan pertahanan dan AI berdaulat.

    Baca juga: Daftar AI Tercerdas 2026, Skor IQ-nya di Atas Rata-rata Manusia

    Pabrik AI raksasa di Finlandia

    Selain pendanaan ke perusahaan-perusahaan AI, Finlandia juga mengikuti perlombaan menjadi tuan rumah pabrik AI raksasa alias AI gigafactory milik Uni Eropa.

    Komisi Eropa berencana mendukung pembangunan beberapa gigafactory AI di negara-negara anggota Uni Eropa. Tujuannya, membangun infrastruktur komputasi AI berskala besar yang bisa dipakai perusahaan-perusahaan Eropa untuk melatih dan menjalankan model AI mereka sendiri.

    Proyek ini bagian dari inisiatif InvestAI yang menargetkan investasi 200 miliar euro atau sekitar Rp 4.080 triliun di bidang AI dan komputasi berkinerja tinggi.

    Untuk pabrik AI raksasa di Finlandia, Nokia jadi koordinator konsorsium bisnisnya. Negara-negara saingannya cukup banyak. Jerman, Prancis, dan Belanda juga sedang menyiapkan tawaran masing-masing.

    Namun Finlandia punya satu kartu as, yaitu superkomputer LUMI yang sudah beroperasi di Kajaani.

    LUMI adalah salah satu superkomputer level exascale pertama di Eropa, dan disebut sebagai salah satu yang paling hemat energi di dunia. LUMI didinginkan dengan tenaga hidroelektrik terbarukan.

    Sekitar dua pertiga biaya investasi pabrik AI ini akan ditanggung sektor swasta. Seluruh biaya operasionalnya juga dari swasta. Pemerintah Eropa hanya menyumbang sebagian kecil dari modal awal.

    Baca juga: Mengapa China Tak Terobsesi Bikin AI Paling Pintar?

    Pesan untuk semua orang

    Henna Virkkunen, Wakil Presiden Komisi Eropa untuk Kedaulatan Teknologi, Keamanan, dan Demokrasi, menyebut momen ini sebagai waktu yang sangat tepat untuk mempengaruhi arah pengembangan infrastruktur AI Eropa.

    Sekitar dua pertiga dari biaya investasi pabrik AI ini akan ditanggung sektor swasta. Seluruh biaya operasionalnya juga dari swasta. Pemerintah Eropa hanya menyumbang sebagian kecil dari modal awal.

    Apakah strategi Finlandia ini akan berhasil mencegah ulangnya cerita Nokia?

    Belum ada yang tahu pasti. Tapi setidaknya pendekatan Finlandia menunjukkan ada kesadaran baru, tidak bisa lagi mengandalkan satu perusahaan superstar seperti dulu.

    Kali ini, strateginya adalah membangun ekosistem yang lebih luas. Perusahaan-perusahaan AI lokal, infrastruktur komputasi, pendanaan publik dan swasta, kemitraan dengan pemain lama seperti Nokia, dan misi kedaulatan teknologi sebagai bingkai utama.

    Yang jelas, Finlandia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dua kali, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Euractiv dan situs resmi pemerintah Finlandia.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS