Gen Z Ramai Tinggalkan Kamera Ponsel demi Kamera Lawas, Ternyata Ini yang Mereka Cari - Kompas
JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah era ketika hampir segala sesuatu bisa diperoleh dalam hitungan detik, mulai dari memesan makanan, menikmati hiburan, hingga mengabadikan momen lewat kamera ponsel, sebagian generasi muda justru bergerak ke arah yang berlawanan.
Mereka mulai melirik teknologi lama yang serba lambat dan penuh keterbatasan, yakni kamera lawas.
Fenomena ini terlihat di sejumlah sentra penjualan kamera bekas di Jakarta, seperti Pasar Baru, Gedung Harco, hingga Pasar Loak Jatinegara.
Kamera analog maupun kamera digital compact era 2000-an yang sempat tenggelam kini kembali diburu, terutama oleh generasi Z.
Polisi Tangkap Sopir Truk Usai Kecelakaan Maut di Depan Unisma Bekasi
Baca juga: Kala Gen Z Berburu Kamera Lawas, Menikmati Proses di Balik Setiap Jepretan
Menariknya, sebagian besar pembeli muda itu tidak pernah mengalami masa kejayaan kamera analog. Mereka tumbuh ketika kamera ponsel telah menjadi perangkat utama untuk mengabadikan momen.
Namun, justru karena tidak pernah hidup di era tersebut, kamera lawas menghadirkan rasa penasaran sekaligus nostalgia terhadap masa yang dianggap lebih sederhana.
Bagi Nayla (20), mahasiswi asal Jakarta Timur yang ditemui di Pasar Loak Jatinegara, ketertarikan pada kamera analog bukan semata-mata karena hasil fotonya.
Baca juga: Sejarah Anker, Produsen Aksesori Gadget Bikinan Mantan Karyawan Google
“Aku suka karena rasanya beda. Ada vibe lama yang enggak bisa didapat dari ponsel,” ujar Nayla saat ditemui Kompas.com, Jumat (26/6/2026).
Meski lahir di era digital, Nayla mengaku selalu tertarik pada benda-benda lawas.
Menurutnya, kamera analog memberikan sensasi seolah membawanya ke masa yang tidak pernah benar-benar ia alami.
Baca juga: Kuli Sindang di Ujung Senja: Menanti Punah di Tengah Modernisasi Jakarta
“Kayak nostalgia, padahal aku juga enggak hidup di zamannya,” kata dia.
Bagi Nayla, nostalgia itu bukan berasal dari kenangan pribadi, melainkan dari bayangan tentang kehidupan yang terasa lebih sederhana dibanding sekarang.
“Sekarang semuanya cepat banget. Foto pakai ponsel, langsung edit, langsung upload. Kalau analog kan enggak gitu,” ucap dia.
Justru karena serba terbatas, kamera analog menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan pada teknologi modern.
Baca juga: Psikolog: Tren Kamera Analog Cerminkan Kerinduan Gen Z pada Momen Autentik
“Karena enggak bisa langsung lihat hasilnya, jadi ada rasa penasaran. Ada excitement,” tutur dia.
Pandangan serupa disampaikan Ivan (23), seorang freelancer asal Jakarta Timur yang sudah dua tahun berburu kamera bekas di Jatinegara.
Menurut Ivan, daya tarik kamera lawas bukan hanya terletak pada visual vintage, melainkan pada prosesnya yang bertolak belakang dengan ritme kehidupan generasi sekarang.
Baca juga: Potret UMKM Jakarta: Daya Beli Melemah, Pelaku Usaha Masih Berjuang Bertahan
“Yang dicari itu prosesnya. Sekarang semuanya serba cepat, scroll, swipe, upload,” kata Ivan.
Baginya, fotografi analog memaksa seseorang berhenti sejenak dan lebih menghargai setiap momen yang ingin diabadikan.
Pengalaman menunggu hasil cetak, lanjut Ivan, menghadirkan kembali sensasi kejutan yang perlahan hilang di era serba instan.
Baca juga: Dari Depok, Daddy Tempuh 2 Jam Perjalanan dengan Kursi Roda demi Cari Kerja di Job Fair Jakbar
“Rasanya kayak balik ke masa yang lebih lambat,” kata dia.
Saat Anak Muda Mencari Ruang untuk Melambat
Fenomena ketertarikan Gen Z terhadap kamera lawas ternyata bukan hanya soal estetika visual atau tren media sosial.
Di baliknya, terdapat dorongan psikologis untuk mencari ruang di tengah kehidupan modern yang serba cepat.
Psikolog klinis Virginia Hanny menilai, ketertarikan generasi muda terhadap kamera analog dapat dipahami sebagai respons terhadap dunia digital yang dipenuhi percepatan.
“Dunia digital saat ini membuat semuanya terasa begitu cepat dan instan. Karena itu, banyak orang dari generasi Z mencari pengalaman dengan ritme yang berbeda, salah satunya melalui kamera analog,” ujar Virginia saat dihubungi.
Baca juga: Ketika Kamera Dianggap Lebih Berbahaya dari Peluru
Menurut Virginia, fotografi analog menghadirkan pengalaman yang sangat berbeda dibanding penggunaan kamera ponsel.
Jika kamera ponsel memungkinkan seseorang mengambil ratusan foto dalam hitungan menit, kamera analog justru menuntut penggunanya untuk melambat.
Mereka harus memilih momen yang benar-benar layak diabadikan, menghitung jumlah frame yang tersedia, lalu menunggu hasil cetak tanpa bisa langsung melihat hasilnya.
Baca juga: Bagi Kelompok Rentan, Transportasi Publik Jakarta Bukan Pilihan, melainkan Kebutuhan
“Proses yang lebih lambat tersebut membuat pengalaman terasa lebih bermakna karena membutuhkan kesadaran, kesabaran, perhatian, dan keterlibatan yang lebih besar,” katanya.
Ia menambahkan, pengalaman tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan akan mindfulness, yakni kemampuan untuk hadir sepenuhnya dalam momen yang sedang dijalani.
Saat menggunakan kamera analog, perhatian seseorang lebih terfokus pada proses memotret, bukan pada hasil instan atau validasi dari media sosial.
Baca juga: Transportasi Publik Jakarta Tak Sekadar Mobilitas, tapi Penopang Hidup Warga
Yang menarik, banyak Gen Z justru menggemari kamera lawas meski tidak pernah hidup pada masa kejayaannya.
Virginia menjelaskan fenomena tersebut melalui konsep vicarious nostalgia, yakni rasa rindu terhadap masa yang sebenarnya tidak pernah dialami secara langsung.
“Gen Z banyak mengenal era analog melalui cerita orang tua, film, musik, maupun media sosial. Era itu sering digambarkan sebagai masa yang lebih sederhana, lebih lambat, dan lebih nyata,” ujar dia.
Dari gambaran tersebut, terbentuk asosiasi emosional terhadap masa lalu yang dianggap lebih hangat dibanding kehidupan modern saat ini.
Baca juga: Di Balik Senyum Depan Kamera, Kisah Host Live Kejar Target Jualan Jutaan Rupiah
Dengan kata lain, menurut Virginia, yang dirindukan bukan sekadar kameranya.
“Yang dicari sebenarnya adalah nilai yang diasosiasikan dengan teknologi itu, kesederhanaan, kedekatan, dan kehadiran penuh dalam sebuah momen,” kata Virginia.
Ia menilai tren kamera lawas mencerminkan kebutuhan psikologis generasi muda untuk sejenak keluar dari tekanan dunia digital yang menuntut segala sesuatu berlangsung cepat, produktif, dan sempurna.
Baca juga: Kala Gen Z Berburu Kamera Lawas, Menikmati Proses di Balik Setiap Jepretan
Sebaliknya, kamera analog justru menawarkan ketidaksempurnaan. Foto bisa blur, underexposed, overexposed, atau warnanya meleset. Namun, ketidaksempurnaan itulah yang memberi karakter pada setiap hasil foto.
“Foto analog mengingatkan bahwa momen berharga tidak harus selalu sempurna,” ujar Virginia.
Karena itu, bagi sebagian Gen Z, kamera lawas bukan lagi sekadar alat dokumentasi. Kamera menjadi medium untuk memperlambat waktu sekaligus menemukan kembali pengalaman yang perlahan menghilang di tengah kehidupan modern.
Baca juga: Psikolog: Tren Kamera Analog Cerminkan Kerinduan Gen Z pada Momen Autentik
Bukan Sekadar Tren, tetapi Pengalaman
Fenomena serupa juga terlihat dalam komunitas fotografi analog.
Founder komunitas Photowalkramean, Andry Dilindra, menilai kebangkitan kamera lawas di kalangan Gen Z didorong oleh perpaduan rasa penasaran, pengaruh media sosial, dan keinginan memperoleh pengalaman yang berbeda.
Menurut Andry, sebagian besar anggota komunitasnya berasal dari generasi yang tumbuh sepenuhnya di era digital. Karena itu, kamera analog justru terasa sebagai sesuatu yang baru.
“Gen Z lahir di era digital, jadi kamera analog menjadi sesuatu yang asing sekaligus menarik. Ada rasa penasaran untuk mencoba pengalaman yang tidak mereka alami sebelumnya,” ujar Andry saat dihubungi.
Baca juga: Prabowo: Satgas PKH Pendekar Sejati Tanpa Kamera, Influencer, dan Vlogger
Ia menilai media sosial berperan besar dalam membangkitkan minat tersebut. Konten di Instagram, TikTok, dan YouTube yang menampilkan karakter khas foto analog—warna hangat, grain alami, dan tone vintage—menjadi pintu masuk banyak anak muda mengenal dunia fotografi analog.
Namun, setelah mencobanya, banyak yang bertahan bukan karena tren, melainkan karena pengalaman yang ditawarkan.
“Fotografi analog itu bukan cuma soal hasil akhir. Ada proses memilih film, mengatur exposure, menunggu develop, sampai akhirnya lihat hasil. Itu bikin pengalaman jadi lebih utuh,” kata dia.
Dalam satu roll film yang hanya berisi 27 atau 36 frame, setiap jepretan menjadi lebih berharga sehingga orang lebih berhati-hati sebelum menekan tombol rana.
“Mereka jadi lebih berpikir sebelum memotret. Bukan asal jepret seperti pakai ponsel,” tutur dia.
Baca juga: Bukan ETLE, UI Pastikan Kamera Dekat Stasiun Universitas Indonesia merupakan CCTV
Menurut Andry, kebangkitan kamera analog saat ini juga menjadi bagian dari pencarian identitas di kalangan anak muda.
“Sekarang kamera analog juga jadi bagian dari identitas visual. Cara mereka menunjukkan karakter,” ucap Andry.
Lebih jauh, ia melihat fenomena tersebut sebagai respons terhadap budaya digital yang bergerak terlalu cepat. Sensasi menunggu hasil film dicuci menghadirkan pengalaman yang nyaris hilang dalam kehidupan modern.
“Sekarang orang terbiasa semuanya cepat. Kamera analog ngajarin sabar,” kata dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang