Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Berita Featured Hacker Keamanan Digital Kecerdasan Buatan Spesial

    Ketika Kecanggihan AI Bikin Hacker Top Dunia Khawatir - Kompas

    5 min read

     


    KOMPAS.com - Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang pesat ternyata tidak hanya membuat pekerja kantoran waswas. Peretas etis (ethical hacker) kelas dunia juga mulai merasa khawatir.

    Valentina Palmiotti atau yang dikenal dengan nama "Chompie" mengaku bahwa perkembangan AI membuat masa depan kompetisi peretasan semakin sulit diprediksi.

    Menurut Chompie, AI saat ini memang membantu pekerjaannya menemukan celah keamanan (bug) pada perangkat lunak.

    Namun, kemampuan model AI terbaru seperti Claude Mythos dan GPT 5.5 Cyber dinilai berkembang sangat cepat. Bahkan berpotensi menggantikan pekerjaan atau kegiatan yang ia lakukan.

    Detik-detik IRGC Luncurkan Rudal untuk Gempur 8 Pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain

    Salah satunya adalah mahir menemukan bug yang relatif mudah dicari. Akibatnya, para peneliti keamanan siber harus bekerja lebih keras untuk menemukan kerentanan baru yang belum terdeteksi AI.

    Baca juga: Hati-hati, Hacker Bisa Curi Password Pengguna Hanya dari Nonton Video TikTok dan Instagram

    Chompie sendiri baru saja menjadi peraih hadiah terbesar kategori individu dalam kompetisi peretasan bergengsi Pwn2Own Berlin 2026, dengan hadiah 70.000 dollar AS (sekitar Rp 1,2 miliar.

    "Saya ikut Pwn2Own tahun ini karena saya berpikir ini mungkin kesempatan terakhir saya,"  kata Chompie dikutip KompasTekno dari BBC.

    "Sebab, saya merasa penemuan celah keamanan biasa akan lebih mudah ditemukan AI, dan peran periset keamanan atau kegiatan para ethical hacker di sini akan tergantikan," imbuh Chompie.

    Hanya yang terbaik yang bertahan

    Chompie sendiri mengaku sudah memanfaatkan AI untuk mempercepat proses riset.

    Dalam pekerjaannya sebagai peneliti keamanan di IBM X-Force maupun saat mengikuti kompetisi, ia menggunakan alat seperti Claude Code untuk membantu analisis kode dan pengujian.

    Saat ini, menurut dia, AI masih berperan sebagai asisten yang mempercepat pekerjaan manusia.

    Namun, situasi itu bisa berubah dalam waktu dekat. Ia memprediksi perkembangan AI akan membuat kebutuhan terhadap hacker tingkat menengah semakin berkurang.

    Hal ini disebabkan karena hanya peneliti keamanan siber terbaik saja yang masih mampu menemukan kerentanan kompleks yang luput dari pencarian AI.

    Chompie mencontohkan Orang Tsai, hacker asal Taiwan yang juga menjadi pemenang besar di Pwn2Own Berlin tahun ini.

    Baca juga: Hacker Ini Klaim Bisa Belokkan Pesawat Terbang Pakai Laptop, Bikin Geger FBI

    Bersama timnya, Orange Tsai memenangkan hadiah 375.000 dollar AS (sekitar Rp 6,7 miliar) berkat keberhasilannya menemukan jalur eksploitasi yang dianggap sangat rumit.

    Berbeda dengan Chompie, Tsai memiliki pandangan yang lebih optimistis terkait AI.

    "Bagi saya, AI terasa seperti asisten yang luar biasa untuk mempercepat alur kerja penelitian. Misalnya, AI bisa saya gunakan untuk meriset hal lain ketika saya sedang beristirahat,"kata Tsai.

    Dia tak menampik bahwa AI kini "memaksa" para hacker dunia untuk meningkatkan kemampuannya masing-masing. 

    Namun, ia menganggap kreativitas dan intuisi manusia masih akan menjadi faktor penting dalam menemukan kerentanan yang tidak berhasil dideteksi mesin.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Daftar 32 Negara Lolos ke Babak Penyisihan Piala Dunia 2026, Iran dan Korea Selatan Gagal Melaju

    Komentar
    Additional JS