Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Internet Media Sosial Spesial

    Riset: Medsos Kini Jadi Sumber Berita Utama, Geser Media Konvensional - Kompas

    9 min read

     


    KOMPAS.com - Media sosial (medsos) kini menjadi sumber berita utama masyarakat dunia, bahkan melampaui televisi maupun situs dan aplikasi berita.

    Temuan ini diungkap Reuters Institute dalam laporan bertajuk "Digital News Report 2026".

    Riset ini dilakukan pada pertengahan Januari hingga akhir Februari 2026 dan melibatkan lebih dari 85.000 responden di 48 negara, termasuk Indonesia.

    Hasilnya, secara global, sebanyak 54 persen responden mengaku memperoleh berita dari media sosial dan platform video dalam sepekan terakhir. Angka ini lebih tinggi dibanding televisi (52 persen) maupun situs dan aplikasi berita (51 persen).

    B50 Tak Cuma Soal Mesin, Kesiapan Bengkel Jadi Kunci

    Secara global, sebanyak 54 persen responden mengaku memperoleh berita dari media sosial dan platform video dalam sepekan terakhir. Angka ini lebih tinggi dibanding televisi (52 persen) maupun situs dan aplikasi berita (51 persen).

    Lihat Foto

    Dalam lima tahun terakhir, tren tersebut terus menguat. Reuters mencatat semakin banyak orang yang mengandalkan medsos untuk mengikuti perkembangan informasi sehari-hari.

    Baca juga: Kenapa Scroll Medsos Susah Berhenti? Ini Penjelasan Psikologi

    Bahkan, sekitar 30 persen responden kini menyebut media sosial dan platform video sebagai sumber berita utama mereka. Angka tersebut naik dari 22 persen pada 2021.

    Tak hanya itu, proporsi orang yang hanya mengonsumsi berita dari media sosial juga meningkat dua kali lipat, dari 6 persen pada 2020 menjadi 12 persen tahun ini.

    Menurut laporan Reuters, sebagian pengguna memang sengaja menjadikan media sosial sebagai pintu utama mendapatkan informasi. Namun, sebagian lainnya terjadi karena mereka semakin jarang membuka televisi maupun situs berita secara langsung.

    Indonesia termasuk yang tinggi

    Reuters mencatat penggunaan WhatsApp sebagai sumber berita di Indonesia melonjak 13 poin persentase menjadi 56 persen dibanding tahun sebelumnya.

    Lihat Foto

    Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat konsumsi berita melalui media sosial tertinggi.

    Dalam laporan tersebut, Reuters mencatat bahwa penggunaan media sosial dan platform video sebagai sumber berita utama di Indonesia naik 8 poin persentase menjadi 48 persen pada tahun ini.

    Profesor Media and Public Affairs sekaligus International Affairs di George Washington University, Janet Steele, mengatakan bahwa media sosial memang sudah menjadi bagian penting dalam konsumsi berita masyarakat Indonesia.

    "Platform seperti WhatsApp, YouTube, Facebook, dan TikTok sangat populer di Indonesia. Sebanyak 64 persen masyarakat Indonesia melaporkan memperoleh berita dari platform-platform tersebut," tulis Janet Steele dalam laporan Reuters.

    Dari keempat platform jejaring sosial tersebut, WhatsApp menjadi platform yang paling dominan.

    Reuters mencatat penggunaan WhatsApp sebagai sumber berita di Indonesia melonjak 13 poin persentase menjadi 56 persen dibanding tahun sebelumnya.

    TikTok makin berpengaruh

    Reuters juga mencatat pengaruh TikTok sebagai platform berita terus meningkat. Di Indonesia, sebanyak 43 persen responden mengaku menggunakan aplikasi bikinan ByteDance itu untuk memperoleh berita dalam sepekan terakhir.

    Lihat Foto

    Reuters juga mencatat pengaruh TikTok sebagai platform berita terus meningkat.

    Di Indonesia, sebanyak 43 persen responden mengaku menggunakan aplikasi bikinan ByteDance itu untuk memperoleh berita dalam sepekan terakhir.

    Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan penggunaan TikTok untuk berita tertinggi di dunia, bersama Malaysia dan Peru.

    Sementara di Amerika Serikat dan Inggris, penggunaan TikTok sebagai sumber berita masih relatif rendah, masing-masing sekitar 10 persen dan 7 persen.

    Selain TikTok, Instagram juga terus mengalami pertumbuhan sebagai platform distribusi berita.

    Sebaliknya, penggunaan platform X (dahulu Twitter) sebagai sumber berita terus menurun. Reuters menilai perubahan kepemilikan sejak diakuisisi Elon Musk membuat sebagian pengguna beralih ke platform lain, seperti Threads.

    Baca juga: Komdigi Kaji Aturan Wajib Nomor HP untuk Bikin Akun Medsos

    AI mulai dipakai cari berita

    Laporan Reuters juga menemukan tren baru, yakni meningkatnya penggunaan chatbot AI (seperti ChatGPT, Perplexity, Google Gemini) sebagai sumber berita.

    Secara global, sekitar 10 persen responden mengaku menggunakan chatbot AI untuk memperoleh informasi atau berita dalam sepekan terakhir, naik 3 poin persentase dibanding tahun sebelumnya.

    Korea Selatan menjadi negara dengan tingkat penggunaan chatbot AI untuk berita tertinggi, yakni 14 persen. Diikuti Brazil dengan 13 persen.

    Indonesia berada di posisi berikutnya dengan 12 persen, sejajar dengan Yunani dan berada di atas Malaysia (11 persen), Jepang (9 persen), Amerika Serikat (6 persen), hingga Inggris (4 persen).

    Reuters mencatat kelompok usia muda menjadi pengguna chatbot AI paling aktif. Sebanyak 16 persen responden berusia di bawah 35 tahun mengaku menggunakan AI untuk mencari berita, sedangkan pada kelompok usia di atas 35 tahun angkanya hanya 7 persen.

    Secara global, sekitar 10 persen responden mengaku menggunakan chatbot AI untuk memperoleh informasi atau berita dalam sepekan terakhir, naik 3 poin persentase dibanding tahun sebelumnya.

    Lihat Foto

    Tantangan penyebaran informasi

    Di balik meningkatnya konsumsi berita melalui medsos, Reuters juga mengingatkan adanya tantangan baru. 

    Algoritma media sosial cenderung mengutamakan konten dengan interaksi tinggi, bukan selalu yang paling akurat. Selain itu, banyak kreator konten lebih terdorong mengejar engagement maupun sponsor dibanding mengikuti standar jurnalistik.

    Kondisi tersebut dinilai berpotensi mempercepat penyebaran misinformasi maupun penyajian informasi yang terlalu dipengaruhi algoritma.

    Hal serupa juga berlaku pada chatbot AI, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari laporan Social Media Today.

    Meski semakin banyak digunakan untuk mencari berita, Reuters mengingatkan bahwa chatbot AI masih dapat menghasilkan informasi yang keliru atau halusinasi apabila jawaban tidak diverifikasi dengan sumber lain.

    Laporan Reuters Institute "Digital News Report 2026" bisa dibaca dan di-download gratis  melalui link berikut ini.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS