0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Bisnis Featured Game Spesial Xbox

    Xbox Bakal "Reset" Bisnis 100 Hari ke Depan, Ada Apa? - Kompas

    4 min read

     

    Xbox Bakal "Reset" Bisnis 100 Hari ke Depan, Ada Apa?

    KOMPAS.com - Divisi game Microsoft, Xbox, bersiap melakukan "reset" bisnis dalam 100 hari ke depan.

    Langkah ini dilakukan setelah perusahaan mengakui menghadapi sejumlah masalah, mulai dari penurunan pendapatan, margin keuntungan yang menipis, hingga kenaikan biaya produksi.

    Rencana tersebut diungkap CEO Xbox, Asha Sharma, dalam surat internal kepada karyawan global Xbox.

    Dalam surat itu, Sharma mengatakan bahwa perusahaan perlu mengatur ulang bisnis agar kembali sehat dan mampu bersaing dalam jangka panjang.

    "Sekarang kita memulai 100 hari berikutnya. Penting untuk memiliki optimisme dan realisme saat kita berupaya untuk mengatur ulang bisnis," tulis Sharma.

    Kabar ini muncul di tengah laporan bahwa Microsoft berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di divisi Xbox.

    Baca juga: Nama Microsoft Gaming Dicoret, Xbox Resmi Comeback

    Menurut laporan Bloomberg, gelombang PHK baru diperkirakan diumumkan setelah tahun fiskal Microsoft berakhir pada 30 Juni 2026.

    Selain pengurangan karyawan, Xbox juga dilaporkan akan memangkas anggaran pemasaran dan sejumlah area bisnis lainnya sebagai bagian dari upaya efisiensi.

    Dalam surat yang dikirim kepada karyawan, Sharma memaparkan sejumlah persoalan yang saat ini dihadapi Xbox. Salah satu yang paling krusial adalah kondisi keuangan perusahaan.

    Ia mengungkapkan bahwa margin akuntabilitas Xbox, yakni metrik yang digunakan Microsoft untuk mengukur kondisi bisnis, diramal hanya berada di kisaran 3 persen pada akhir tahun fiskal ini.

    Menurut Sharma, selama lima tahun terakhir Xbox telah menggelontorkan lebih dari 20 miliar dollar AS atau sekitar Rp 360 triliun (kurs Rp 18.000 per dollar AS) untuk investasi konten, platform, dan subsidi perangkat keras.

    Namun, dalam periode yang sama, pendapatan tahunan Xbox justru turun hampir 500 juta dollar AS atau sekitar Rp 9 triliun.

    "Ke depannya, ini tidak dapat berlanjut," kata Sharma.

    Masalah lain adalah bisnis perangkat keras. Xbox mengaku, sedang menghadapi krisis komponen yang membuat biaya produksi konsol melonjak tajam.

    Sharma menyebut harga komponen penyimpanan untuk konsol Xbox kini lebih dari lima kali lipat dibandingkan dua tahun lalu. Kenaikan serupa juga terjadi pada komponen memori.

    Akibatnya, Xbox mengaku kesulitan memproduksi konsol sesuai permintaan pasar dan harus mencari model bisnis serta kemitraan baru untuk bisnis perangkat kerasnya.

    Di sisi konten, Sharma menilai Xbox perlu mengevaluasi kembali strategi pengelolaan studio game yang selama ini dijalankan.

    Menurut dia, Xbox memperluas jaringan studio ketika perusahaan membutuhkan lebih banyak konten untuk mendukung layanan langganan, streaming, dan berbagai perangkat.

    Namun seiring berubahnya industri game, strategi tersebut dinilai membuat organisasi menjadi terlalu kompleks dan tidak efisien.

    Baca juga: Game Call of Duty Warzone Tinggalkan PS4 dan Xbox One Tahun Ini

    "Kita perlu menilai kembali keseimbangan antara game eksklusif, kerja sama pihak ketiga, dan investasi jangka panjang untuk lima tahun ke depan," tulis Sharma, dikutip KompasTekno dari halaman resmi Xbox. 

    Selain itu, Xbox juga berencana membangun ulang infrastruktur teknologi yang digunakan saat ini. Sharma menilai sistem yang ada terlalu rumit dan bergantung pada banyak vendor sehingga memperlambat inovasi.

    Karena itu, perusahaan akan mengevaluasi berbagai kemampuan internal serta membuka kemungkinan akuisisi dan merger untuk memperkuat posisi Xbox di bisnis perangkat keras, PC, mobile, dan layanan streaming.

    Kendati demikian, Sharma menegaskan Xbox masih memiliki fondasi bisnis yang kuat.

    Ia menyebut lebih dari 1 miliar pemain memainkan game dan layanan Xbox setiap tahun, dengan total waktu bermain mencapai 72 miliar jam di konsol, PC, perangkat mobile, dan layanan streaming.

    Xbox juga baru saja menggelar Xbox Games Showcase dan menjanjikan sejumlah game eksklusif baru, termasuk Gears of War: E-Day yang dijadwalkan meluncur pada 2026 serta Clockwork Revolution pada 2027.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS