Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI AI Deepfake Berita Dunia Internasional Featured Jepang Kecerdasan Buatan Spesial

    AI Deepfake Ancam Penghasilan Artis Jepang, Kerugian Nyaris Rp 500 Miliar - Kompas

    5 min read



    KOMPAS.com – Konten deepfake berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai menggerus pendapatan para kreator dan seniman di Jepang.

    Studi terbaru memperkirakan penggunaan wajah dan suara selebritas tanpa izin dalam lebih dari 43.000 konten AI telah menimbulkan kerugian hingga 4,5 miliar yen atau sekitar Rp 495 miliar hanya dalam waktu dua bulan, sekaligus meraup sekitar 335 juta penayangan di media sosial.

    Angka tersebut bahkan disebut masih jauh di bawah kerugian sesungguhnya karena hanya mencakup kasus yang berhasil terdeteksi.

    Lantas, seberapa besar dampak AI terhadap penghasilan para kreator di Jepang, dan bagaimana industri hiburan menyikapi ancaman ini? Berikut penjelasan selengkapnya.

    BPOM: TikTok Jadi Platform Terbanyak Penjualan Kosmetik Ilegal

    Baca juga: Setelah Indonesia Blokir Grok AI, X Setop Fitur untuk Bikin Deepfake Asusila

    Kerugian hingga ratusan miliar

    Studi JAPRO mencatat sebanyak 43.483 kasus dugaan pelanggaran hak cipta akibat deepfake AI selama dua bulan sejak Juni 2025. 

    Bentuk pelanggarannya beragam, mulai dari pembuatan versi live-action anime menggunakan wajah selebritas, hingga penggunaan suara karakter anime untuk menyanyikan lagu-lagu populer tanpa izin. 

    Kerugian finansial yang ditimbulkan diestimasi berdasarkan biaya lisensi penggunaan wajah dan suara seseorang, serta nilai iklan dari jumlah penayangan konten tersebut.

    Meski angka kerugian yang terdeteksi sudah mencapai 4,5 miliar yen (sekitar Rp 495 miliar), JAPRO menegaskan bahwa kerugian nyata kemungkinan jauh lebih besar. 

    Hal ini karena kalkulasi tersebut hanya mencakup kasus-kasus yang berhasil ditemukan, sementara banyak pelanggaran lain yang luput dari pantauan. 

    Survei terhadap 174 perusahaan di industri hiburan menemukan bahwa hanya sekitar 28 persen perusahaan yang mengaku sepenuhnya atau cukup memahami skala kerusakan akibat pelanggaran hak cipta ini. 

    Sebagian besar menyebut sulitnya melacak seluruh penggunaan ilegal atas wajah dan suara artis mereka.

    Industri dan pemerintah bergerak

    Kondisi ini diperparah oleh minimnya panduan penanganan yang dimiliki perusahaan. Hanya 1,1 persen perusahaan yang sudah memiliki pedoman resmi untuk menangani pelanggaran semacam ini. 

    Sekitar 52 persen mengaku masih dalam tahap pertimbangan, sementara sisanya belum memiliki rencana sama sekali. Banyak perusahaan menilai penyusunan panduan tersebut sulit dilakukan secara mandiri tanpa kerangka regulasi yang jelas.

    Merespons situasi ini, pemerintah Jepang mulai mengambil langkah. Kementerian Kehakiman membentuk panel ahli untuk membahas kemungkinan tindakan hukum terhadap konten buatan AI. 

    Di sisi lain, Japan Fair Trade Commission (JFTC) sejak Desember tahun lalu juga tengah menyelidiki penggunaan konten berita tanpa izin oleh mesin pencari berbasis AI.

    Hal ini menandai bahwa kekhawatiran atas dampak AI kini meluas hingga ke industri media sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Japan Times.

    Baca juga: Apa Itu Deepfake? Penjelasan, Arti Deepfake, dan Bahaya Teknologi Ini

    Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.

    Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Perampokan Meteran Parkir €1,9 Juta atau Jadi Jutawan dari Uang Receh

    Komentar
    Additional JS