Apa Itu Cyberdeck? Komputer Rakitan yang Sedang Populer di Kalangan Gen Z - Kompas
KOMPAS.com – Belakangan ini, sebuah tren teknologi bernama "cyberdeck" makin digemari di kalangan Gen Z.
Cyberdeck merupakan komputer portabel rakitan yang dibuat sendiri dari berbagai komponen yang tidak seragam, dan menjadi alternatif bagi mereka yang bosan dengan perangkat buatan pabrik.
Tren ini memadukan tampilan retro-futuristik dengan kemampuan komputasi yang fungsional. Cyberdeck umumnya dibangun menggunakan sistem papan tunggal (single-board) seperti Raspberry Pi yang dipadukan dengan layar kecil, keyboard, dan casing buatan sendiri.
Berbeda dari laptop pada umumnya, cyberdeck biasanya dirakit dari bahan bekas atau hasil daur ulang, sehingga setiap perangkat memiliki tampilan dan fungsi yang khas sesuai keinginan pembuatnya, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Newsweek.
Hasil AS Vs Bosnia 2-0 Piala Dunia 2026, Folarin Balogun Cetak Gol lalu Kartu Merah!
Lantas, apa sebenarnya cyberdeck itu dan mengapa perangkat ini begitu diminati Gen Z? Berikut ulasannya.
Baca Juga :
Baca juga: Langkah Baru Trump Amankan Persaingan Komputer Kuantum dari China
Perangkat yang sangat personal
Filosofi di balik cyberdeck digambarkan sebagai sesuatu yang sangat personal dan menolak komersialisasi.
Salah satu kreator TikTok, ubeboobey, menyebut cyberdeck dibuat agar "unik bagi pemiliknya" dan dirancang untuk "tujuan Anda sendiri", dengan menekankan kreativitas di atas produksi massal.
Gagasan ini menyebar luas di media sosial, dengan para pengguna saling berbagi desain mulai dari perangkat lapangan yang tangguh hingga mesin warna-warni buatan tangan.
Baca juga: Sejarah Web Browser dari Awal Ditemukan hingga Sekarang
Cyberdeck sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Konsepnya dapat ditelusuri hingga fiksi cyberpunk seperti novel Neuromancer karya William Gibson, tetapi versi modernnya mencerminkan semangat do it yourself (DIY) dari komunitas modifikasi komputer di masa awal.
Berbeda dari laptop siap pakai, cyberdeck merupakan sistem terbuka, artinya komponennya bisa ditukar, dimodifikasi, atau dirancang ulang.
Fleksibilitas inilah yang menjadi daya tarik bagi pengguna muda yang ingin bereksperimen dengan perangkat keras dan perangkat lunak tanpa batasan.
Baca juga: Awal Mula USB-A dan Mengapa Kita Sering Terbalik Memasangnya
Beragam fungsi sesuai kebutuhan
Para kreator di TikTok menjabarkan berbagai kegunaan cyberdeck. Sebagian membangunnya menjadi konsol gaming retro yang mampu menjalankan judul-judul game dari era 1980-an dan 1990-an, sementara yang lain menyulapnya menjadi server pribadi untuk meng-hosting situs web atau menyimpan data secara offline.
Ada pula yang menggunakannya untuk berlatih coding atau bahkan sebagai perangkat "off-grid" yang berisi buku, musik, dan sumber daya offline lainnya.
Komunitas penghobi keamanan siber juga ikut merangkul konsep ini.
Sebuah tulisan dari Eclypsium menyoroti bagaimana cyberdeck dapat berfungsi sebagai platform peretasan atau pengujian yang portabel. Selain itu hal ini menawarkan fleksibilitas tanpa harus mempertaruhkan komputer utama.
Baca juga: Perusahaan Bimbel Online Bangkrut gara-gara ChatGPT
Tulisan itu juga menyebut bahwa laptop tradisional bisa terasa "merepotkan untuk dibawa-bawa" dan kurang cocok untuk peralatan khusus, sehingga mendorong sebagian pengguna beralih ke perangkat rakitan.
Soal ekspresi diri, bukan sekadar fungsi
Meski begitu, lonjakan minat terhadap cyberdeck saat ini tampaknya lebih banyak berakar pada kreativitas ketimbang fungsi semata.
Cyberdeck dipandang sebagai bentuk ekspresi diri, yakni perangkat yang mencerminkan kepribadian, kebutuhan, dan bahan yang dimiliki pembuatnya.
Baca juga: Ironis, Sanksi AS ke China Justru Lahirkan AI DeepSeek "Pembunuh" ChatGPT
Hal ini tecermin dari reaksi warganet. Salah satu pengguna menulis bahwa mereka selama ini menginginkan teknologi yang modular, bukan seperti yang terus dibuat perusahaan teknologi besar.
Komentar lain menyebut perangkat ini sangat keren dan membuatnya ingin ikut membuatnya sendiri.
Penekanan pada individualitas ini turut memicu perdebatan soal komersialisasi. Sebagian kreator berpendapat bahwa menjual cyberdeck secara massal justru akan merusak semangat hobi ini, yang lebih mengutamakan eksperimen dan kerajinan tangan personal daripada keuntungan.
Seiring minat yang terus tumbuh, cyberdeck dinilai bukan lagi soal menggantikan perangkat sehari-hari, melainkan tentang merebut kembali kendali atas teknologi, satu mesin buatan tangan dalam satu waktu.
Baca juga: Apple Setop Jual Komputer Mac Pro, Tidak Ada Generasi Penerus
Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.
Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang