Belajar dari Keberhasilan Biodiesel Sawit, Pemerintah Mulai Jalankan Program E20 -
Belajar dari Keberhasilan Biodiesel Sawit, Pemerintah Mulai Jalankan Program E20
Berbekal pengalaman pengembangan biodiesel sawit, pemerintah mulai menyiapkan implementasi Program E20. Program ini memerlukan sekitar 4 juta kiloliter etanol sebagai bahan campuran bensin untuk menekan impor.
BERITA SAWIT SAWIT HILIR SAWIT NASIONAL BIODIESEL DAN ENERGI
Arsad Ddin
28 Juni 2026
Bagikan :
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (tengah). (Foto: ESDM)
Jakarta, HAISAWIT.CO.ID – Menjelang pemberlakuan biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026, pemerintah mulai menyiapkan Program E20 dengan mengacu pada keberhasilan pengembangan biodiesel berbasis kelapa sawit.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan bioetanol.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan kebutuhan bensin nasional masih jauh melampaui kapasitas produksi di dalam negeri.
"Kebutuhan bensin kita itu kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter, dan dari 40 juta kiloliter itu, kapasitas produksi kita itu hanya 14,3 juta kiloliter jadi impornya hampir 25 juta kiloliter, namun begitu kilang Balikpapan kita resmikan di bulan Januari 2026 bertambah produksinya 5,5 juta kiloliter bensin, sehingga menyisakan impor bensin sekitar 20 juta kiloliter," ujar Bahlil dalam acara Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di Jakarta, Sabtu (27/06/2026).
Dengan tambahan produksi dari Kilang Balikpapan, kebutuhan impor bensin diperkirakan turun. Meski demikian, Indonesia masih memerlukan pasokan sekitar 20 juta kiloliter setiap tahun.
Untuk memenuhi kekurangan tersebut, pemerintah menyiapkan Program E20 melalui pencampuran bensin dengan 20 persen etanol yang diproduksi di dalam negeri.
Menurut Bahlil, kebijakan tersebut lahir dari pengalaman Indonesia mengembangkan biodiesel sawit yang berkembang bertahap dari B10 hingga B50.
"Untuk mengurangi impor yang tersisa 20 juta kiloliter maka kita akan menerapkan Program E20 yang idenya berangkat dari kesuksesan Program B10 hingga B50. Kita bikin etanol dengan bahan bakunya dari tebu, singkong dan jagung dengan total produksi yang diperlukan 4 juta kiloliter," ujar Bahlil.
Pemerintah memperkirakan implementasi Program E20 membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter etanol yang berasal dari tebu, singkong, dan jagung sebagai bahan baku.
Selain menyiapkan pasokan etanol, pemerintah juga akan menjadi off-taker produksi etanol guna menjamin penyerapan hasil yang dihasilkan petani dan pelaku usaha di sektor hulu.
Pengembangan Program E20 melengkapi pemanfaatan energi terbarukan yang sebelumnya diperkuat melalui biodiesel sawit. Dalam waktu dekat, Indonesia juga akan mulai memberlakukan biodiesel B50 pada 1 Juli 2026.
Melalui pengembangan biodiesel dan bioetanol, pemerintah berupaya mengurangi impor bahan bakar fosil, memperkuat industri bioenergi nasional, serta mendukung pencapaian target net zero emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat.***
Bagikan :