Bocah SD di Boyolali Penemu Celah Keamanan Situs NASA Belajar Autodidak - detik
Boyolali -
Ibrahim Al Abrar (11), bocah SD di Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, berhasil mendapat apresiasi dari NASA. Ayahnya, Aminudin Salas (36), mengatakan anaknya tersebut belajar cybersecurity secara autodidak.
Siswa kelas 6 SDN Genengsari, Kemusu, di pinggiran Waduk Kedungombo (WKO) itu mendapat surat apresiasi resmi dari National Aeronautics and Space Administration (NASA). Setelah melaporkan adanya bug atau celah keamanan pada sistem atau domain publik NASA.
Ibra, sapaannya, merupakan putra kedua dari 3 bersaudara, pasangan Aminuddin Salas (36) dan Hannisa Oktaviani (36), warga Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu, Boyolali. Aminudin, merupakan guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di SMKN Kemusu, sedangkan ibunya merupakan Ibu Rumah Tangga.
Aminuddin mengatakan seperti anak-anak pada umumnya saat pegang handphone (HP), Ibra awalnya juga hanya bermain game. Namun, kemudian meningkat belajar coding dan membuat game.
Aminudin menyebut anaknya itu mulai belajar coding sejak kelas 4 SD secara autodidak. Kemudian selama 6 bulan terakhir bocah kelahiran 25 Juli 2014 itu belajar cybersecurity.
"Awalnya ya tertarik main game itu. Terus disuruh untuk, daripada cuma main game, apa nggak tertarik buat belajar bikin game-nya. Terus belajar coding. Belajar coding-nya juga autodidak, lewat YouTube biasanya. Sama nanya-nanya AI," jelas dia.
Ibra yang bercita-cita menjadi cybersecurity profesional itu mendapat dukungan dari orang tuanya. Awalnya, Ibra belajar hanya menggunakan HP. Kemudian oleh orang tuanya dibelikan PC bekas hingga akhirnya dibelikan laptop.
"Jadi bertahap memang. Dari orang tua ya support-nya hanya pokoknya yang penting positif didukung," imbuh Aminudin.
Aminudin mengaku memang memiliki background pendidikan IT. Dia kuliah di Solo mengambil jurusan sistem informasi, namun ke jaringan IT.
"Kalau coding sama cybersecurity saya kurang menguasai," terangnya.
Oleh karena itu, Ibra belajar coding dan cybersecurity, secara mandiri atau autodidak. Pihaknya sebagai orang tua hanya memotivasi anak untuk semangat belajar dan tidak mudah menyerah.
"Belajar full autodidak kalau cybersecurity-nya. Kalau saya memang ada basic IT tapi nggak ke cybersecurity. Benar-benar awam kalau cybersecurity. Jadi dia benar-benar autodidak sama ada kakak-kakak yang mungkin ngirimi tutorial-tutorial suruh mempelajari," tambah dia.
Menurut Aminudin, sebelum mendapat surat apresiasi dari NASA tersebut, anaknya sudah 4 kali mengirim temuan bug atau kerentanan keamanan dan melaporkan kepada Vulnerability Disclosure Policy (VDP) NASA. Namun ada yang ditolak, kemudian ada yang dianggap duplikat karena ternyata ada yang sudah ngirim duluan.
"Empat kali (melaporkan). Yang satu dianggap duplikat, yang satu lagi ditolak. Terus yang satu diterima (mendapat surat apresiasi). Kemudian ada satu lagi yang statusnya approve tapi belum ada balasan lebih lanjut," ungkapnya. .
(ams/dil)