Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Arena Berita Featured Kecerdasan Buatan Piala Dunia Sepak Bola Sepak Bola Internasional Spesial Tekno VAR

    Bukan AI, VAR Justru Jadi Teknologi Paling Diperdebatkan di Piala Dunia 2026 - detik

    5 min read

     


    KOMPAS.com - Kekhawatiran soal penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sempat menjadi sorotan menjelang Piala Dunia 2026.

    Namun, di tengah berbagai eksperimen teknologi baru, Video Assistant Referee (VAR) justru menjadi teknologi yang paling banyak memicu perdebatan sepanjang turnamen.

    VAR kembali menuai kontroversi setelah laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina vs Mesir.

    Dalam pertandingan tersebut, gol Mesir yang dicetak Mostafa Ziko dianulir setelah VAR meninjau pelanggaran yang terjadi dalam proses serangan sebelumnya.

    Kedaulatan Drone Iran: Hancurkan Dominasi Bisnis Perang AS, Picu Perlombaan Senjata Baru

    Baca juga: Bola Piala Dunia 2026 Mesti Dicas Sebelum Dipakai Bertanding

    Menurut laporan The Wall Street Journal, insiden itu menjadi contoh bagaimana sistem tayangan ulang dalam sepak bola dinilai semakin jauh mengintervensi jalannya pertandingan.

    VAR disebut meninjau pelanggaran yang terjadi sekitar 15 detik sebelum gol dan berada jauh dari area gawang.

    Keputusan tersebut memicu protes karena Mesir saat itu sedang unggul dan berpeluang memperbesar kedudukan. Meski Ziko kemudian kembali mencetak gol, Argentina akhirnya membalikkan keadaan dan menang 3-2.

    Wasit VAR di Piala Dunia 2026.

    Lihat Foto

    Pertanyakan konsistensi

    Asosiasi Sepak Bola Mesir (EFA) kemudian mengkritik penggunaan VAR dan mempertanyakan konsistensi keputusan wasit. EFA juga disebut mengajukan protes resmi kepada FIFA atas kepemimpinan wasit François Letexier dalam pertandingan tersebut.

    Baca juga: Liga Inggris Akan Ganti Sistem VAR Pakai iPhone

    Secara aturan, VAR memang dapat digunakan untuk meninjau proses terjadinya gol, termasuk kemungkinan pelanggaran oleh tim penyerang dalam fase serangan.

    Namun, kontroversi muncul karena batas “fase serangan” kerap dianggap abu-abu, terutama jika insiden yang ditinjau terjadi cukup jauh sebelum bola masuk ke gawang.

    Kritik terhadap VAR bukan hal baru. Teknologi ini awalnya diperkenalkan untuk membantu wasit mengoreksi kesalahan jelas dan nyata dalam empat kategori utama, yakni gol, penalti, kartu merah langsung, serta kesalahan identitas pemain.

    Namun dalam praktiknya, VAR kerap dituding mengurangi spontanitas sepak bola. Selebrasi gol bisa tertunda, keputusan membutuhkan waktu lama, dan penonton harus menunggu hasil tinjauan ulang sebelum benar-benar yakin sebuah gol sah.

    Justru berisiko

    Dalam artikel opininya, WSJ menilai penggunaan tayangan ulang di Piala Dunia 2026 memperlihatkan masalah lebih besar: teknologi yang awalnya dibuat untuk membuat pertandingan lebih adil justru berisiko menghilangkan alur dan emosi permainan.

    Dengan kasus Argentina vs Mesir, perdebatan soal VAR kemungkinan akan kembali menguat. Bukan lagi sekadar soal apakah keputusan wasit benar atau salah, tetapi sejauh mana teknologi seharusnya diberi ruang untuk mengubah jalannya pertandingan.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Bandar Judol Putar Otak, Kini Menyusup di Kolom Komentar dan Streaming Piala Dunia

    Komentar
    Additional JS