China Berambisi Pecahkan Masalah Tersulit di Dunia Robotika - Kompas
KOMPAS.com - Mengikat tali sepatu, memecahkan telur, atau mengancingkan baju mungkin menjadi rutinitas biasa yang nyaris dilakukan setiap hari oleh manusia. Begitu seringnya, kita hampir tak pernah menyadari "betapa rumitnya" cara tangan bekerja.
Dalam hitungan detik, tangan bisa menggerakan setiap jari, menakar kekuatan saat menggenggam benda, hingga merespons sentuhan dengan presisi. Semua berlangsung nyaris otomatis.
Namun, bagi sebuah robot, kemampuan yang tampak sederhana itu merupakan tantangan terbesar.
Saat ini, robot memang semakin canggih. Mereka sudah bisa berlari bahkan menari mengikuti irama musik.
Salip AS! China Berhasil Tanamkan Chip ke Otak Manusia
Namun, saat diminta melakukan pekerjaan sederhana seperti di atas, robot masih sering kewalahan. Persoalan itulah yang kini menjadi fokus baru China.
Baca Juga :
Baca juga: Aksi Robot Humanoid China Ambil Alih Kerja Buruh Pabrik, Disiarkan Live 64 Jam
Negeri Tirai Bambu itu kini berlomba memecahkan salah satu masalah tersulit dalam dunia robotika, yakni membuat tangan robot mampu bergerak dan bekerja layaknya manusia sungguhan.
Ambisi tersebut muncul karena China menilai tangan merupakan kunci terakhir yang menentukan apakah robot humanoid benar-benar berguna atau hanya menjadi unjuk demonstrasi kecanggihan teknologi.
Selama beberapa tahun terakhir, kemampuan robot humanoid memang berkembang cukup pesat. Berkat kecerdasan buatan (AI), robot kini mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya hanya bisa dilakukan manusia.
Namun, kemampuan itu dinilai belum cukup. Selama tangannya belum bisa bekerja seperti tangan manusia, robot masih kesulitan melakukan berbagai pekerjaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Kenapa tangan robot jadi tantangan terbesar?

Lihat Foto
Banyak pakar menyebut tangan merupakan tantangan terbesar dalam pengembangan robot humanoid. CEO Tesla Elon Musk bahkan pernah mengatakan bahwa sebagian besar masalah rekayasa robot berada pada bagian tangan.
Hal senada turut diungkapkan Zhou Yong, pendiri LinkerBot, startup asal China yang berfokus mengembangkan tangan robot. Menurut Yong, membuat tangan robot "100 kali lebih sulit" dibanding membangun robot humanoid.
"Tangan manusia adalah kemampuan paling penting yang dimiliki manusia. Jika kami fokus pada satu hal ini, akan lebih mudah mewujudkan banyak kemampuan manusia," kata Yong, dikutip KompasTekno dari TheGuardian.
Alasan Yong sendiri cukup masuk akal. Pasalnya, setiap gerakan tangan manusia melibatkan koordinasi saraf, otot, dan puluhan sendi yang bekerja dalam waktu bersamaan.
Baca juga: Begini Jadinya Jika Kecoa Disulap Jadi Robot yang Bisa Menyelam Berjam-jam
Saat mengikat tali sepatu, misalnya, tangan manusia secara otomatis mengatur posisi jari, menyesuaikan genggaman, hingga merasakan tekstur tali.
Begitu pula ketika memecahkan telur, tangan secara alami tahu kapan harus memberi tekanan yang cukup agar cangkangnya retak, tetapi isi telur tetap utuh.
Namun, robot tidak memiliki saraf dan akal yang bisa melakukan semua hal itu secara naluriah.
Robot bukan hanya harus mampu menggenggam benda. Mereka juga perlu memahami seberapa kuat tangan saat memegang objek, mengenali sentuhan, lalu menyesuaikan gerakan setiap jari.
China masih optimistis
Meski tantangannya sangat rumit, China yakin persoalan tersebut bukan tidak mungkin dipecahkan.
Keyakinan itu terlihat dari pesatnya pertumbuhan perusahaan yang mengembangkan dextrous hand, yakni tangan robot yang dirancang memiliki ketangkasan menyerupai manusia.
Menurut media china, nilai industri dextrous hand di negara tersebut telah melampaui 50 miliar yuan (sekitar Rp 134 triliun) pada 2025. Angka itu naik tajam dibanding tahun 2024 yang hanya 13 miliar yuan (sekitar Rp 34 triliun).
Sepanjang tahun 2025, jumlah perusahaan robotika yang terdaftar di China bahkan dilaporkan meningkat sekitar 40 persen dibanding tahun sebelumnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Toyota Usul Standardisasi Komponen buat Lawan Mobil China