Jangan Cuma "Googling" di AI, Microsoft Kasih Tahu Cara Pakai yang Benar - Kompas
KOMPAS.com – Bagaimana kamu menggunakan AI saat ini? Kalau jawabannya adalah cuma "googling" seperti ketika menggunakan mesin pencari, artinya kamu belum memaksimalkan penggunaan AI dengan tepat.
Nah, Microsoft mengungkap cara yang benar untuk memaksimalkan kemampuan AI agar tak cuma bertanya sekali saja.
Tips tersebut dipublikasikan dalam laporan tahunan Work Trend Index 2026 pada Mei lalu.
Laporan ini melibatkan survei terhadap 20.000 pekerja pengguna AI dari 10 negara, termasuk Indonesia, plus analisis triliunan sinyal Microsoft 365.
[Klarifikasi] Video Haaland Kaget Lihat Bayangannya di Cermin Hasil Rekayasa
Dalam laporan Work Trend Index 2026, Microsoft menemukan bahwa pengguna AI yang paling efektif justru memakai AI dengan empat pendekatan berbeda sesuai kebutuhan pekerjaan. Keempatnya adalah mode bertanya, mode eksplorasi, mode kolaborasi, dan mode delegasi.
Baca Juga :
Baca juga: Perusahaan-Perusahan yang Menyesal Pakai AI dan Rekrut Karyawan Lagi
Mode bertanya digunakan ketika seseorang membutuhkan jawaban cepat atau informasi tertentu dari AI.
Mode eksplorasi dipakai untuk mencari ide, sudut pandang baru, atau kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Sementara itu, mode kolaborasi menempatkan AI sebagai rekan kerja yang ikut membantu mengembangkan gagasan, menyusun strategi, atau menyempurnakan hasil pekerjaan.
Baca juga: Studi Ungkap Kenapa Nokia Bangkrut
Adapun mode delegasi digunakan ketika pengguna menyerahkan tugas-tugas tertentu kepada AI agar dikerjakan secara mandiri, terutama pekerjaan yang bersifat rutin, administratif, atau membutuhkan sintesis informasi dalam jumlah besar.
Namun menurut Microsoft, yang membedakan pengguna AI biasa dengan pengguna AI yang sangat efektif bukanlah mode mana yang mereka gunakan.
Perbedaannya terletak pada kemampuan mengenali mode mana yang paling sesuai untuk setiap jenis pekerjaan.
Baca juga: Perusahaan Bimbel Online Bangkrut gara-gara ChatGPT
Cara kerja Frontier Professional
Masih dari laporan yang sama. Microsoft menyebut kelompok pengguna AI paling efektif sebagai Frontier Professional. Jumlah mereka masih relatif kecil, hanya sekitar 16 persen dari total responden yang disurvei.
Meski demikian, dampaknya sangat signifikan. Sebanyak 80 persen Frontier Professional mengaku mampu menghasilkan pekerjaan yang setahun lalu mustahil mereka kerjakan sendiri.
Microsoft menjelaskan bahwa Frontier Professional tidak terpaku pada satu cara penggunaan AI saja.
Baca juga: Psikolog Ingatkan, Jangan Sering-sering Curhat ke ChatGPT dkk
"Eksekusi rutin, riset, dan sintesis didelegasikan. Saat AI mengerjakan lebih banyak pekerjaan, manusia tetap terlibat dengan menetapkan arah dan bertanggung jawab atas bagaimana hasilnya dipakai," tulis Microsoft.
Salah satu prinsip terpenting yang ditemukan dalam laporan tersebut adalah cara pengguna memperlakukan hasil yang diberikan AI.
Sebanyak 86 persen pengguna AI yang disurvei Microsoft mengatakan mereka memperlakukan hasil AI sebagai titik awal, bukan jawaban akhir.
Mereka tetap merasa bertanggung jawab terhadap proses berpikir di balik pekerjaan tersebut.
Microsoft menyebut peran pekerja saat ini sedang bergeser, dari sebelumnya sebagai penghasil jawaban menjadi pihak yang mengevaluasi, menyempurnakan, dan memiliki tanggung jawab akhir terhadap jawaban tersebut.
Baca juga: Cara Pakai AI yang Benar Menurut Riset Microsoft, Jangan Cuma Bertanya
Sengaja mengerjakan tugas tanpa AI
Salah satu temuan yang cukup mengejutkan dari laporan Microsoft adalah bahwa pengguna AI paling efektif justru lebih sering sengaja bekerja tanpa AI dibandingkan pengguna biasa.
Sebanyak 43 persen Frontier Professional mengaku sesekali sengaja menyelesaikan pekerjaan tanpa bantuan AI sama sekali agar kemampuan mereka tetap terasah.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding pengguna AI biasa yang hanya mencapai 30 persen.
Baca juga: Riset Microsoft Ungkap 40 Pekerjaan yang Paling Rentan Digantikan AI
"Frontier Professional menolak menyerahkan pemikiran mereka. Mereka tahu keberhasilan jangka panjang berarti terus membangun keterampilan manusia dan tidak membiarkannya menumpul," tulis Microsoft dalam laporannya.
Selain itu, Frontier Professional juga memiliki kebiasaan lain yang terlihat sederhana tetapi ternyata cukup menentukan.
Sebanyak 53 persen dari mereka sengaja berhenti sejenak sebelum mulai bekerja untuk memikirkan terlebih dahulu tugas mana yang sebaiknya dikerjakan AI dan tugas mana yang lebih baik diselesaikan sendiri.
Baca juga: 6 Hal Ini Ternyata Paling Sering Dilakukan Orang di ChatGPT
Sebagai perbandingan, hanya 33 persen pengguna AI biasa yang melakukan hal serupa.
Selisih 20 persen tersebut memang terlihat kecil, tetapi menurut Microsoft mencerminkan perbedaan mendasar dalam cara berpikir.
Pengguna AI biasa cenderung langsung menyerahkan pekerjaan kepada AI tanpa pertimbangan lebih lanjut. Sebaliknya, Frontier Professional memilih terlebih dahulu sebelum memutuskan.
Baca juga: Microsoft Bikin Perusahaan AI Baru, Gelontorkan Dana Rp 44 Triliun
Dua keterampilan manusia yang justru makin penting
Menariknya, semakin AI mengambil alih berbagai pekerjaan, ada dua keterampilan manusia yang justru semakin dihargai.
Keterampilan pertama adalah kemampuan melakukan kontrol kualitas terhadap hasil yang diberikan AI.
Sebanyak 50 persen responden memilih kemampuan ini sebagai keterampilan paling penting di era AI saat ini.
Baca juga: Terbaru, Ini 10 Profesi Paling Terdampak AI dan yang Aman
Keterampilan kedua adalah kemampuan berpikir kritis untuk menganalisis informasi secara objektif dan membuat penilaian yang masuk akal.
Sebanyak 46 persen responden memilih keterampilan ini.
Frontier Professional bahkan menunjukkan kesadaran yang lebih tinggi mengenai pentingnya penilaian manusia dalam proses kerja bersama AI.
Baca juga: Riset Anthropic: Dibanding Programmer, Profesi Guru Lebih Susah Digantikan AI
Kelompok ini memperoleh nilai lebih tinggi hampir di seluruh ukuran survei yang berkaitan dengan pemikiran kritis dan kontrol kualitas.
AI kini mengambil alih hampir separuh pekerjaan kognitif
Untuk memahami mengapa keterampilan tersebut menjadi semakin penting, Microsoft juga menganalisis lebih dari 100.000 percakapan pengguna Microsoft 365 Copilot.
Hasilnya menunjukkan bahwa 49 persen percakapan digunakan untuk mendukung pekerjaan kognitif.
Baca juga: Programmer Sekarang Jadi Pekerjaan yang Paling Rentan Digantikan AI
Pekerjaan kognitif yang dimaksud meliputi analisis informasi, pemecahan masalah, evaluasi, hingga berpikir kreatif.
Jenis pekerjaan tersebut sebelumnya identik dengan profesi yang membutuhkan keahlian mendalam dan pengalaman panjang.
Sementara itu, 19 persen percakapan digunakan untuk mendukung pekerjaan yang berkaitan dengan kolaborasi bersama orang lain.
Baca juga: AI Disuruh Mematikan AI Lain, Responsnya Bikin Khawatir
Kemudian 15 persen digunakan untuk mencari informasi, sedangkan 17 persen dipakai untuk menghasilkan pekerjaan jadi atau output akhir.
Temuan ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar alat untuk membuat dokumen atau menulis e-mail.
AI kini telah berkembang menjadi mitra berpikir untuk hampir separuh pekerjaan profesional kerah putih.
Baca juga: Sepi Job gara-gara AI, Aktor China Ini Pulang Kampung dan Jual Sayuran
Pergeseran pertanyaan dasar tentang pekerjaan
Microsoft menutup laporannya dengan satu kesimpulan yang cukup mendalam.
Menurut perusahaan tersebut, pengguna AI paling efektif di masa depan bukanlah mereka yang sekadar mampu mengerjakan lebih banyak hal dengan lebih cepat.
Yang akan unggul adalah mereka yang mampu mendefinisikan ulang nilai mereka berdasarkan hal-hal yang hanya bisa dilakukan manusia.
Baca juga: Cara Pakai AI yang Benar Menurut Riset Microsoft, Jangan Cuma Bertanya
Hal itu mencakup kemampuan menetapkan tujuan yang jelas, mendefinisikan hasil yang diinginkan, serta menentukan standar kualitas pekerjaan.
Selain itu, manusia juga tetap berperan dalam merancang bagaimana pekerjaan akan dilakukan, baik oleh manusia maupun AI.
Mereka juga bertanggung jawab menerapkan penilaian pribadi, membangun kepercayaan, dan menciptakan sistem kerja yang menghasilkan hasil lebih baik.
"Pertanyaannya berhenti pada 'tugas apa yang menentukan pekerjaan saya?' dan beralih ke 'hasil apa yang sekarang berada dalam jangkauan saya untuk dicapai?'" tulis Microsoft.
Baca juga: AI Pembaca Pikiran Buatan Meta Diklaim Makin Jago, Begini Kemampuannya
Sebanyak 66 persen pengguna AI yang disurvei mengaku AI telah memungkinkan mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan bernilai tinggi.
Sementara itu, 58 persen mengatakan AI membantu mereka menghasilkan pekerjaan yang setahun lalu mustahil mereka kerjakan.
Bagi pengguna AI secara umum, angka tersebut sudah tergolong tinggi.
Namun pada kelompok Frontier Professional, angkanya melonjak hingga mencapai 80 persen, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari laporan Work Trend Index 2026 Microsoft.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang