Jepang Wajibkan Telepon Umum, di Indonesia Justru Punah - Tempo
2 Juli 2026 | 12.00 WIB
Telepon umum hijau di dalam bilik di kawasan Tokyo, Jepang. Pemerintah Jepang mempertahankan puluhan ribu telepon kabel ini sebagai infrastruktur darurat yang andal ketika jaringan seluler terputus akibat gempa. Langkah mitigasi tersebut dinilai krusial untuk diadopsi Indonesia yang rawan bencana, di mana fasilitas telepon umum justru telah punah akibat peralihan massal ke ponsel pintar. Shutterstock
Telepon umum hijau di dalam bilik di kawasan Tokyo, Jepang. Kementerian Komunikasi Jepang mewajibkan Nippon Telegraph and Telephone (NTT) menyediakan telepon umum di area publik. Shutterstock
Telepon umum hijau di dalam bilik di kawasan Tokyo, Jepang. Berbeda dengan telepon koin atau kartu konvensional, seluruh telepon umum di Jepang dilengkapi tombol darurat khusus yang memungkinkan pengguna menghubungi polisi (110) atau pemadam kebakaran dan ambulans (119) secara gratis tanpa perlu memasukkan koin atau kartu. Shutterstock
Warga menggunakan fasilitas telepon umum hijau di Kota Osaka, Jepang. Selain telepon umum standar, Pemerintah Jepang bekerja sama dengan operator telekomunikasi untuk menyediakan unit telepon khusus bencana (disaster emergency phone) di pusat evakuasi dan pusat keramaian, yang dapat digunakan oleh siapa saja secara gratis ketika situasi darurat. Shutterstock
Telepon umum hijau di dalam bilik di Taman Olahraga Hamayama, Prefektur Shimane, Jepang. Meski penetrasi ponsel pintar di Jepang sangat tinggi, keberadaan telepon umum umum (koshu denwa) di sudut jalan, stasiun, rumah sakit, hingga kantor polisi tetap krusial sebagai penyelamat ketika baterai gawai masyarakat habis, rusak, atau hilang. Shutterstock
Fasilitas telepon umum rusak penuh coretan vandalisme di sekitar Benteng Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan. Kontras dengan Jepang yang merawatnya demi investasi keselamatan warga, PT Telkom Indonesia menonaktifkan fasilitas ini secara bertahap sejak awal 2000-an. Langkah tersebut diambil akibat kalah bersaing dengan ponsel pintar, sehingga fokus bisnis dialihkan penuh ke jaringan seluler dan internet rumahan (broadband). Tempo/Subekti
FOTO TERKAIT
FOTO TERBARU




