Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home 6G Berita Featured Internet Komdigi Spesial

    Komdigi Masih Wait and See Tentukan Penggunaan Spektrum 6G - detik

    3 min read

     

    Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET

    Jakarta -

    Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) masih mengkaji kandidat spektrum frekuensi yang akan digunakan untuk implementasi jaringan 6G di Indonesia.

    Pemerintah belum mengambil keputusan karena masih menunggu perkembangan pembahasan global, termasuk hasil World Radiocommunication Conference (WRC) yang dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun depan.

    Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Adis Alifiawan, mengatakan pemerintah tidak ingin terburu-buru menentukan spektrum 6G.

    Menurutnya, penentuan waktu maupun pita frekuensi harus mempertimbangkan banyak aspek, mulai dari kesiapan ekosistem hingga perkembangan industri telekomunikasi global.

    "Tentu diskusi seperti ini terus kami lakukan, baik dengan operator maupun vendor. Karena kalau bicara terlambat atau tidaknya implementasi suatu teknologi itu banyak dimensinya. Timing harus dilihat dari banyak sisi," ujar Adis ditemui detikINET beberapa waktu lalu di Jakarta.

    Ia menambahkan, pemerintah saat ini terus berdiskusi dengan pelaku industri untuk memetakan arah pengembangan 6G agar implementasinya tidak mengulang berbagai tantangan yang pernah dihadapi saat adopsi teknologi sebelumnya.

    Menurut Adis, hingga saat ini terdapat sedikitnya empat kandidat pita frekuensi yang dipertimbangkan secara global untuk layanan 6G, yakni 4 GHz, 6 GHz, 7 GHz, dan 15 GHz. Namun, masing-masing pita memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda sehingga belum ada satu pun yang dapat dianggap sebagai pilihan terbaik.

    "Empat-empatnya punya plus minus. Tidak ada yang benar-benar paling ideal. Semuanya juga sudah ada pemanfaatannya sehingga tidak ada yang benar-benar kosong," katanya.

    Ia menjelaskan, pita frekuensi yang lebih tinggi seperti 15 GHz menawarkan bandwidth yang sangat besar sehingga mampu menghadirkan kapasitas jaringan tinggi. Namun, konsekuensinya adalah jangkauan sinyal yang lebih pendek. Sebaliknya, pita frekuensi yang lebih rendah memiliki cakupan lebih luas, tetapi kapasitas bandwidth yang tersedia relatif lebih terbatas.

    "Kalau 15 GHz bandwidth-nya besar, tetapi jangkauannya pendek. Sementara 4 GHz, 6 GHz, dan 7 GHz juga masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi memang belum sampai pada tahap pengambilan keputusan," tuturnya.

    Selain mempertimbangkan aspek teknis, Komdigi juga mencermati arah kebijakan negara lain. Menurut Adis, Indonesia tidak dapat menentukan sendiri pita frekuensi untuk 6G tanpa memperhatikan harmonisasi internasional. Pasalnya, keputusan mengenai spektrum akan memengaruhi terbentuknya ekosistem perangkat, biaya investasi, hingga skala ekonomi industri telekomunikasi.

    "Kita juga melihat negara lain. Indonesia tidak bisa berjalan sendiri. Keputusan yang kita ambil sangat bergantung pada perkembangan global. Kalau salah mengambil langkah, kita bisa tidak masuk ke ekosistem ekonomi yang tepat," katanya.

    Adapun saat ini Komdigi memilih bersikap wait and see sambil mengikuti perkembangan pembahasan di tingkat internasional.

    "Kalau dari kami memang masih wait and see. Keputusan formal mengenai spektrum 6G secara internasional baru akan dibahas dalam sidang WRC pada akhir tahun depan. Jadi diskusi-diskusi seperti ini justru penting sebagai bekal sebelum mengambil keputusan," tutur Adis.

    Sebagai informasi, World Radiocommunication Conference (WRC) merupakan forum International Telecommunication Union (ITU) yang menetapkan regulasi penggunaan spektrum frekuensi radio secara global. Hasil sidang tersebut menjadi acuan bagi banyak negara, termasuk Indonesia, dalam menentukan pita frekuensi yang akan digunakan untuk teknologi komunikasi generasi berikutnya.

    (agt/agt)

    Komentar
    Additional JS