Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Spesial

    Krisis Memori Global Makin Parah, 2027 Diramal Tahun Terburuk - detik

    2 min read

     

    Foto: Dok. SK Hynix

    Jakarta -

    Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa efek samping yang serius bagi kelancaran pasokan teknologi secara global. CEO SK Hynix, Kwak Noh-jung, baru-baru ini melontarkan peringatan keras bahwa krisis chip memori masih jauh dari kata usai.

    Dalam wawancaranya bersama Reuters, sang eksekutif memprediksi bahwa tahun 2027 akan menjadi tahun terburuk sepanjang sejarah industri semikonduktor dari kacamata kelangkaan pasokan. Tak hanya itu, ia memperkirakan tingginya permintaan chip memori dari perusahaan teknologi akan terus melampaui kapasitas produksi pabrik bahkan hingga melampaui tahun 2030 mendatang.

    "Permintaan dari pelanggan kami terus meningkat, sementara kapasitas (produksi) kami memiliki keterbatasan," ujar Kwak, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Selasa (14/7/2026).

    Dengan tidak adanya tanda-tanda perlambatan tren infrastruktur AI dalam waktu dekat, permintaan untuk memori berkinerja tinggi dipastikan akan terus meroket.

    Untuk menyiasati masalah ini, SK Hynix tidak tinggal diam. Perusahaan asal Korea Selatan yang mendominasi suplai chip memori AI tersebut baru saja melakukan debut gemilang di bursa saham NASDAQ Amerika Serikat. Mereka mematok harga American Depositary Receipts (ADR) sebesar USD 149 per lembarnya.

    Melalui aksi korporasi tersebut, SK Hynix berhasil meraup dana segar fantastis mencapai USD 26,5 miliar (sekitar Rp 430 triliun). Uang triliunan rupiah ini rencananya akan langsung disuntikkan untuk membangun fasilitas produksi canggih yang baru guna menggenjot pasokan chip.

    Sayangnya, membangun pabrik semikonduktor membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun. Artinya, suntikan dana tersebut tidak akan bisa langsung memberikan jalan keluar bagi kelangkaan di depan mata.

    Bagi para pengamat teknologi, industri memori global memang memiliki reputasi buruk terkait volatilitas harga yang ekstrem, atau yang kerap dikenal dengan siklus boom-and-bust (lonjakan tinggi dan kejatuhan tajam).

    Hanya beberapa tahun lalu, tepat sebelum meledaknya tren AI, harga memori global hancur lebur akibat lesunya permintaan pasar terhadap PC dan ponsel. Kondisi pada awal tahun 2023 itu begitu parah hingga memaksa perusahaan sekelas Micron melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 15% karyawannya.

    Kala itu, saham Micron hanya diperdagangkan di kisaran USD 55 per lembar. Bandingkan dengan hari ini, di mana harga satu lembar saham mereka pernah meroket tajam melampaui angka USD 930 hanya karena pesanan dari perusahaan AI.

    (asj/asj)

    Komentar
    Additional JS